Pada periode awal ini, pihak kampus sebagai relawan menemukan ada enam penyebab pelajar masih susah membaca dan menulis.
Kerja sama antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng dengan FIP Undiksha terkait dengan ratusan siswa yang mengalami gangguan belajar, dimulai sejak mahasiswa mulai diterjunkan ke sekolah-sekolah pada Selasa (6/5).
Berjalan hampir satu bulan, pihak kampus membagi para siswa ke dalam tiga level. Ini berdasarkan pada asesmen yang mereka lakukan juga.
”Kami pakai asesmen yang kami buat sendiri, untuk mengukur siswa-siswa pada awal. Hasil asesmen kami juga cocok dengan yang dilakukan oleh Pemkab Buleleng,” ujar Dekan FIP Undiksha, I Wayan Widiana pada Senin (2/6) siang.
Pihaknya menyebut, berdasarkan hasil pendampingan kepada ratusan siswa tersebut, maka sebanyak 43,1 persen siswa ada di level dasar, sebab belum hafal abjad dan mengeja masih terbata-bata. Contohnya di SMPN 2 dan 4 Sawan.
Kemudian 36,5 persen siswa masuk ke dalam level menengah, karena kesulitan membaca kata panjang maupun konsonan ganda, meski sudah mengenal abjad. Contohnya di SMPN 2 Singaraja dan 1 Gerokgak.
Sedangkan 20,4 persen lagi masuk ke dalam level lanjut, sebab mereka sudah lancar membaca tapi kurang paham dengan yang dibaca, bahkan terlalu cepat dalam membaca. Contohnya di SMPN 1 Sawan dan 3 Seririt.
Selain itu, pihaknya menemukan ada enam faktor yang menyebabkan para pelajar menjadi terlambat membaca.
Pertama gangguan kognitif rendah, sehingga sulit dalam menangkap materi. Kedua gangguan fisik, sehingga susah dalam membaca dan menulis.
Ketiga karena gangguan saraf atau disleksia. Keempat gangguan emosional dan psikososial, seperti trauma dan pertimbangan kenyamanan. Kelima karena proses belajar dan motivasi/dukungan.
”Yang menarik, faktor lainnya adalah anak memiliki cara berkomunikasi yang berbeda. Misalnya di rumah pakai Bahasa Bali, tapi di sekolah Bahasa Indonesia, jadi bingung. Kemudian keseharian pakai bahasa media sosial/gawai, kemudian pakai bahasa buku, jadinya tidak paham,” lanjut Widiana.
Sementara itu, Koordinator Tim, Kadek Suranata yang juga Wakil Dekan Bidang Akademik FIP Undiksha memaparkan, hampir 400 orang mahasiswa diterjunkan pihaknya untuk membantu Pemkab Buleleng dalam rangka mengentaskan permasalahan besar ini.
Tentunya minimal satu orang mahasiswa mendampingi satu orang siswa yang mengalami kesulitan membaca dan menulis. Ini terus dilakukan hingga 6 September.
Frekuensi pendampingan yang dilakukan pun bervariasi, bahkan terbagi menjadi tiga kategori. Sebanyak satu sampai dua kali yakni 22,8 persen.
Kemudian tiga sampai lima kali sebanyak 60,9 persen. Lalu lebih dari lima kali sebanyak 16 persen.
Dalam satu bulan ini, tim relawan kampus ini menemukan anak-anak yang berkebutuhan khusus sehingga mengalami terlambat membaca.
Pihaknya menyebut guru-guru di sekolah tetap mendampingi semampu mereka, agar siswa-siswa itu dapat lancar membaca dan menulisnya.
”Selama satu bulan ini, siswa-siswa sudah menunjukkan minat mau belajar, meski belum ada peningkatan level (dasar sampai lanjut). Bahkan dalam prakteknya, tidak sedikit kami temukan siswa yang sampai menangis dan lari dari kelas, ada juga yang sampai BAB di celana,” jelasnya menceritakan situasi yang terjadi.
Sebagai intervensi awal, FIP Undiksha akan melakukan sejumlah intervensi agar siswa-siswa ini dapat lancar membaca dan menulis. Mulai dari pengenalan huruf, menggunakan kartu kata, dan metode fonik.
Kemudian latihan membaca nyaring dan repeated reading. Lalu diskusi teks dan Preview, Question, Read, Reflect, Recite, and Review (PQ4R) untuk pemahaman.
Suranata menambahkan, sebagai tindak lanjut, akan dilakukan pendampingan rutin sebanyak 65 persen, dengan jadwal dua sampai empat kali pertemuan yang berfokus pada latihan membaca dan menulis.
Kemudian memanfaatkan media pembelajaran sebanyak 25 persen, yakni dengan kartu huruf, buku cerita, komik digital, dan lagu.
”Kami juga akan kolaborasi dengan orang tua. Karena laporan tim, banyak yang cemas saat diajari, tidak fokus. Sehingga akan terjunkan tim konseling dalam waktu dekat, tapi dengan izin orang tua, sebab berkaitan dengan intervensi klinis psikologi,” tandasnya.***
Editor : Donny Tabelak