SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Gempabumi kembali mengguncang Kabupaten Buleleng, Bali.
Kali ini gempa terjadi pada Rabu (1/10/2025) dini hari, tepatnya pada pukul 00.49 WITA.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, pusat gempa berada pada koordinat 7,25 Lintang Selatan-114,22 Bujur Timur.
Lokasi pastinya berada sekitar 50 kilometer arah tenggara Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.
Kekuatan gempa mencapai 6,5 skala richter. Di Buleleng, getaran terasa hingga skala III MMI. Artinya getaran terasa di dalam rumah, seakan-akan ada truk yang melintas.
Kondisi getaran itu diungkapkan sejumlah warga Buleleng. “Pas lagi tidur, tiba-tiba ada goyang. Setengah sadar, apa gempa atau bukan,” kata Komang Yuda, salah satu warga di Desa Nagasepaha.
Hal serupa diungkapkan warga lainnya. Wayan Arcana yang tinggal di Baktiseraga menyebut getaran cukup kuat.
“Pas masih belum tidur. Lumayan keras getarannya,” katanya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng, Putu Ariadi Pribadi menyatakan gempa bumi tersebut tidak memicu tsunami.
“Astungkara sampai pagi ini kami tidak menerima laporan dampak kerusakan akibat gempa,” kata Ariadi.
Gempa Menurut Lontar
Gejala alam seperti gempabumi turut dipelajari oleh para leluhur masyarakat Bali. Para leluhur mengaitkan gejala tersebut dengan fenomena alam yang akan terjadi.
Hal itu tertuang dalam Lontar Palalindon. Lontar itu telah dipelajari selama bertahun-tahun oleh para akademisi.
Dalam lontar tertulis bahwa dampak dari gempa sangat bergantung pada waktu terjaidnya. Baik itu sasih, rahina, maupun pancawara.
Gempa yang terjadi pada Rabu (1/10/2025) bertepatan dengan rahina Anggara Kliwon Kapat. Waktu itu bersamaan pula dengan rahina kajeng kliwon.
Berikut makna gempa yang terjadi pada Rabu, 10 Oktober 2025 menurut Lontar Palalindon:
Dalam lontar, gempa yang terjadi pada rahina anggara atau hari Selasa tertulis sebagai berikut: tekaning lindu, laraning wang makweh, Bhatara Brahma mayoga, kayu-kayu geseng, lolos laraning wong, uci-uci gering nikang wang Bhatara Akasa manangis, pamigenanira Sang Hyang Wintang.
Bila diterjemahkan, gempa yang terjadi pada Selasa berarti: terjadi linuh, suka duka manusia silih berganti. Cinta kasih kepada sesama merosot, terjadi penyakit karena perang. Selalu gelisah, manusia kelihatan pucat, perekonomian lesu, pemimpin menjadi kebingungan.
Sementara gempa yang terjadi pada pancawara kliwon, lontar juga menyampaikan makna khusus.
Dalam teks lontar, gempa pada kliwon tertulis sebagai berikut: tekaning lindu, Bhatara Siwa mayoga, laraning wong baya sarat makewuh, kena upa wisia. Bhatari ring dalem, wong rare akweh pejah, mutah mising, wong kapegatan sih, wenang acaru ring lebuh suwung-suwung.
Hal itu berarti: terjadi gempa, Bhatara Siwa beryoga. Banyak orang kesulitan, terkena malapetaka. Bhatari di Pura Dalem, bayi banyak yang meninggal karena muntah berak, orang kehilangan kasih sayang. Patut melaksanakan upacara caru di pintu rumah masing-masing.
Sedangkan gempa yang terjadi pada sasih kapat atau bulan keempat dalam kalender Bali, tertulis sebagai berikut: tekaning lindu, Bhatara Brahma sira mayoga. Rahayu ikan rat tahun dadi, banyu akweh mili, gring makwehsasab mrana, kweh wong pejah.
Bila diterjemahkan, hal itu bermakna: Bila kapat datangnya linuh, Bhatara Brahma beryoga, dunia selamat, air banyak mengalir. Penyakit wabah berjangkit, banyak orang meninggal.
Apabila seluruh hal tersebut dipadukan, maka gempabumi yang terjadi pada rahina Anggara Kliwon Kapat atau pada 1 Oktober 2025, berarti bahwa:
Bencana alam mengakibatkan berbagai masalah di dunia. Ditandai dengan merosotnya kasih sayang sesama manusia, merebaknya wabah penyakit, keterpurukan ekonomi dan kekacauan sosial-politik.
Untuk menanggulangi musibah tersebut, disarankan untuk melaksanakan upacara caru. Upacara dapat dilakukan di rumah-rumah, apabila dampaknya hanya dirasakan di tingkat keluarga.
Namun apabila dampaknya dirasakan pada komunitas yang lebih luas, sangat disarankan menggelar upacara pecaruan di tingkat yang lebih luas. Baik itu di banjar, desa adat, maupun di tingkat kabupaten.
Perlu dipahami bahwa dalam lontar palalindon, gempa bukan hanya dipahami sebagai sebuah bencana. Tapi juga sebuah peringatan untuk memperbaiki hubungan antara manusia dengan alam.
Adapun ajaran-ajaran dalam lontar tersebut sangat diyakini oleh para leluhur, dan masih dilestarikan oleh para tetua di Bali. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya