SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Banjir bandang yang menerjang Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, menimbulkan dampak cukup besar.
Ratusan keluarga terdampak, bahkan seorang warga masih dinyatakan hilang. Namun hingga kini Pemkab Buleleng belum menetapkan status darurat bencana.
Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra mengatakan pemerintah daerah masih melakukan kajian sebelum menetapkan status tanggap darurat. Meski begitu, penanganan di lapangan tetap dilakukan dengan pola seperti kondisi darurat.
“Masalah penetapan darurat bencana, kami masih melakukan kajian mendalam. Walaupun ini belum penetapan darurat bencana, tetapi kami dengan koordinasi TNI/Polri, Pemprov, BPBD, relawan, Basarnas tetap merespons. Responsnya seperti menghadapi tanggap darurat,” ujarnya saat berada di Posko Penanggulangan Bencana Desa Banjar, Minggu (8/3/2026).
Bencana banjir bandang dipicu hujan deras yang melanda wilayah Buleleng pada Jumat (6/3/2026) sore.
Tidak hanya Desa Banjar, bencana juga berdampak di sejumlah kecamatan lain seperti Sukasada, Seririt, Busungbiu, dan Kubutambahan. Namun kerusakan terparah terjadi di Desa Banjar.
Terhitung sejak Jumat (6/3/2026) hingga Minggu (8/3/2026), BPBD Buleleng menerima laporan 78 titik lokasi bencana yang tersebar di seluruh kecamatan. Mayoritas berupa banjir, longsor, dan pohon tumbang.
Khusus di Desa Banjar saja, ada 253 kepala keluarga yang terdampak bencana. Sebagian besar merupakan warga yang bermukim di dekat aliran Tukad Mendaum.
Selain melakukan proses pembersihan material banjir, kini fokus utama penanganan yakni pencarian korban yang masih hilang. Putu Wini, 17, dilaporkan masih dalam pencarian.
“Ini yang masih menjadi pekerjaan cukup berat bagi tim. Karena material baik itu lumpur maupun bekas tumbangan pohon memang sangat besar. Apalagi ada kecurigaan kalau korban ini masih tersangkut di antara timbunan ranting dan bambu,” jelas Sutjidra.
Pemerintah juga mengakui masih kekurangan alat berat untuk mempercepat pembersihan material banjir. Saat ini baru tersedia empat unit alat berat yang digunakan untuk membersihkan lumpur dan kayu yang menumpuk.
“Sudah ada empat unit, siang ini ada rencana dari PUPR Bali untuk bisa backup pembersihan di sekitar Pantai Kalianget,” katanya.
Sutjidra menegaskan, warga yang rumahnya rusak, saat ini telah mendapat bantuan berupa tenda, tempat tidur lipat (velbed), peralatan masak, pakaian, serta bantuan sembako.
Sementara itu, di kecamatan lain juga terjadi longsor dan banjir, namun dampaknya tidak separah di Desa Banjar. Sebagian warga terdampak masih bisa tinggal bersama keluarga sehingga pemerintah belum membuka lokasi pengungsian khusus.
Terkait status darurat bencana, pemerintah daerah menegaskan keputusan tersebut tidak akan diambil secara tergesa-gesa. Kajian menyeluruh masih dilakukan sebelum penetapan resmi.
“Artinya penetapan tinggal menunggu kajian supaya tidak grusa-grusu tapi tetap responnya tanggap darurat,” pungkasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya