Dari Kepompong Menjadi Miliaran Rupiah, Jejak Sutra Tiongkok yang Tetap Bertahan Selama Berabad-abad

Eka Prasetya • Dipublikasikan Jumat, 29 Mei 2026 | 04:53 WIB
MEMINTAL SUTRA: Salah seorang pekerja di H&S’YATI Silk (Sutra Huashiyadi) tampak memintal benang sutra. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
MEMINTAL SUTRA: Salah seorang pekerja di H&S’YATI Silk (Sutra Huashiyadi) tampak memintal benang sutra. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.  

AROMA air panas bercampur serat kain langsung terasa begitu memasuki ruang produksi H&S’YATI Silk (Sutra Huashiyadi) di Kota Fuyang, Provinsi Anhui, Tiongkok.

Di dalam ruangan yang luas itu, puluhan pekerja tampak sibuk memilah kepompong ulat sutra. 

Tangan mereka bergerak cepat. Satu per satu kepompong dipilih dengan ketelitian nyaris tanpa cela.

Ada yang masuk kategori kualitas super. Ada kelas satu. Ada pula yang harus disingkirkan karena dianggap gagal produksi.

Sesekali suara mesin pemintal terdengar bersahut-sahutan. Di sudut lain, gulungan benang putih mengilap perlahan memenuhi rak-rak produksi.

Sulit membayangkan benang selembut itu berasal dari ulat kecil yang membutuhkan waktu sekitar 72 jam untuk berubah menjadi kepompong.

“Seekor ulat untuk menjadi kepompong itu biasanya perlu waktu 72 jam,” ujar Zhou Yan, General Manager Huashiyadi Silk.

Pabrik sutra ini berada di Xin’an Avenue, kawasan Zona Pengembangan Ekonomi Fuyang. Lokasinya bahkan hanya sekitar lima menit dari Bandara Fuyang.

Di balik lokasinya yang modern, perusahaan ini sebenarnya berdiri di atas tradisi panjang industri sutra Tiongkok.

Didirikan sejak 1997, H&S’YATI Silk kini menjadi salah satu dari 10 perusahaan sutra paling kompetitif di Tiongkok. 

Tahun lalu, Kementerian Perindustrian Tiongkok juga menetapkan mereka sebagai pemilik merek konsumen terkenal tingkat nasional.

Skalanya pun tak main-main.

Perusahaan ini berdiri di atas lahan seluas 280 hektare dan mempekerjakan lebih dari 1.000 orang karyawan. Semuanya bekerja dalam rantai produksi yang nyaris lengkap.

Mulai dari menanam dan merawat pohon murbei, membudidayakan ulat sutra, pemintalan benang, produksi tekstil, pemasaran, hingga pengelolaan museum sutra.

Salah satu produk unggulannya adalah kain satin sutra yang terasa begitu lembut saat disentuh.

Perjalanan kami di kawasan pabrik dimulai dari area pemrosesan kepompong.

Setelah dipilah berdasarkan kualitas, kepompong direbus menggunakan air panas sebelum masuk tahap pemintalan. Dari proses itulah benang-benang sutra mulai terbentuk.

Untuk menghasilkan satu gulung benang saja, diperlukan sekitar delapan hingga sembilan kepompong ulat sutra.

Dalam sehari, pabrik ini mampu memproduksi hingga 1,2 ton benang sutra.

Angka yang menunjukkan bahwa industri tradisional ini ternyata masih hidup sangat kuat di Tiongkok.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju museum sutra milik perusahaan.

Di tempat itu, sejarah panjang sutra Tiongkok terasa begitu dekat.

Terdapat replika pakaian raja dan ratu era dinasti Tiongkok masa lalu. Pakaian raja didominasi warna emas dengan motif naga dengan lima cakar. Sedangkan pakaian ratu berwarna merah dengan naga dengan empat cakar.

Selain itu, museum juga memamerkan berbagai produk tekstil modern hasil pengembangan perusahaan. Mulai dari syal, pakaian, selimut, hingga produk yang cukup tak terduga: buku berbahan sutra.

“Kami terus berusaha mempertahankan produksi dan kualitas. Karena Tiongkok punya sejarah panjang selama ribuan tahun terkait produksi sutra, bahkan sampai saat ini negara kami masih menjadi produsen sutra terdepan di seluruh dunia,” ujar Zhou Yan.

Menurut Zhou, produk yang paling diminati pasar saat ini adalah bedcover dan perlengkapan pernikahan berbahan sutra. Mayoritas menggunakan warna merah yang dipercaya sebagai simbol keberuntungan dalam budaya Tiongkok.

Permintaan pasar terhadap sutra juga terus tumbuh.

Saat ini perusahaan memproduksi sekitar 150 ribu meter kain sutra setiap bulan. Bahkan dalam kondisi produksi tertinggi, jumlahnya bisa mencapai dua juta meter per tahun.

Sebagian besar permintaan masih berasal dari pasar domestik Tiongkok. Sementara sekitar 30 persen lainnya diekspor ke berbagai negara Asia.

Dari bisnis itu, perusahaan mampu meraup omzet hingga 400 juta dolar AS per tahun, atau setara sekitar Rp 7 triliun.

“Pelanggan kami biasanya membeli dalam bentuk kain lembaran. Sehingga mereka bisa membuat produk sesuai dengan keinginan. Kalau dalam bentuk jadi, salah satu produk kami yang paling digemari itu bed cover,” ungkap Yan.

Di tengah gempuran mode modern dan industri tekstil sintetis, perusahaan ini tampaknya belum ingin kehilangan identitasnya.

Mereka mulai memproduksi tas, pakaian, hingga berbagai produk fesyen yang lebih dekat dengan gaya hidup generasi muda.

Sutra di Fuyang kini bukan lagi sekadar kain tradisional kerajaan masa lalu.

Ia perlahan berubah menjadi simbol bagaimana tradisi lama mencoba tetap bertahan di tengah dunia yang terus bergerak cepat. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
beijing tiongkok sutra buleleng ekspor