Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kembangkan Wisata Edukasi Berbasis Lingkungan, Desa Adat Banyuasri Siapkan Konservasi Tukik

Francelino Junior • Minggu, 31 Mei 2026 | 08:43 WIB
KONSERVASI: Desa Adat Banyuasri kini menyiapkan bak penetasan telur penyu di kawasan Pantai Camplung. Kawasan tersebut disiapkan menjadi lokasi konservasi penyu di Bali Utara. (Pemkab Buleleng)
KONSERVASI: Desa Adat Banyuasri kini menyiapkan bak penetasan telur penyu di kawasan Pantai Camplung. Kawasan tersebut disiapkan menjadi lokasi konservasi penyu di Bali Utara. (Pemkab Buleleng)

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Upaya menjadikan kawasan Pantai Camplung Banyuasri sebagai destinasi wisata berbasis konservasi lingkungan mulai direalisasikan. 

Salah satu langkah awal yang dilakukan adalah pembangunan bak penampungan tukik dan telur penyu sebagai lokasi penyelamatan sementara bagi telur-telur penyu yang ditemukan di pesisir Bali Utara.

Program ini menjadi bagian dari upaya pelestarian satwa laut yang selama ini menjadikan pantai-pantai di Kabupaten Buleleng sebagai lokasi bertelur. 

Selain menjaga kelestarian penyu, kawasan konservasi tersebut juga diproyeksikan berkembang menjadi wisata edukasi yang memberikan pengalaman belajar bagi masyarakat dan wisatawan.

Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Ketahanan Pangan (Distankan) Buleleng, I Gede Melandrat, menjelaskan bahwa Buleleng memiliki garis pantai sepanjang 157,05 kilometer yang menjadi habitat berbagai jenis penyu, seperti penyu sisik dan penyu belimbing. 

Kawasan pesisir Bali Utara juga dikenal memiliki banyak tumbuhan katang-katang yang menjadi lokasi favorit penyu untuk bertelur.

Menurut Melandrat, penyu sisik merupakan jenis yang paling sering ditemukan bertelur di wilayah Buleleng. 

Beberapa lokasi yang kerap menjadi tempat pendaratan penyu antara lain Pantai Kerobokan, kawasan Pelabuhan Buleleng, Pantai Camplung Banyuasri, hingga kawasan wisata Lovina.

“Paling banyak yang bertelur adalah penyu sisik hijau, seperti di Pantai Kerobokan, Pelabuhan Buleleng, kawasan Pantai Banyuasri, dan seputar Lovina,” ujarnya.

Ia menegaskan, pelestarian penyu tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Keterlibatan masyarakat pesisir sangat diperlukan untuk menjaga keberlangsungan habitat satwa dilindungi tersebut. 

Karena itu, pemerintah mendorong terbentuknya kelompok masyarakat yang aktif melakukan pengawasan sekaligus penyelamatan telur penyu saat musim bertelur tiba.

“Jika penyu bertelur agar menandai tempat tersebut serta menutup dengan keranjang agar terhindar dari predator seperti anjing,” katanya.

Sementara itu, pembangunan fasilitas konservasi tukik di wewidangan Desa Adat Banyuasri, masih dilakukan secara bertahap. 

Proses pengembangannya juga memerlukan koordinasi serta perizinan dari instansi terkait agar seluruh kegiatan konservasi berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

Ketua Relawan Kurma Segara Raksa Desa Adat Banyuasri, Nyoman Sadwika, mengatakan pembangunan bak penampungan sementara dilakukan setelah adanya peninjauan dari Distankan Buleleng. 

Saat ini, relawan bersama nelayan dan masyarakat setempat baru membangun fasilitas sederhana yang difungsikan sebagai tempat penyelamatan awal bagi telur-telur penyu.

“Bak penampungan yang kami buat belum memenuhi standar konservasi, namun bak ini untuk langkah penyelamatan bagi telur-telur penyu,” ujarnya.

Sadwika menjelaskan, setiap tahun kawasan Pantai Asri menjadi salah satu lokasi pendaratan penyu untuk bertelur. 

Selama ini, telur-telur yang ditemukan biasanya direlokasi ke lokasi penangkaran terdekat guna menghindari kerusakan akibat aktivitas manusia maupun ancaman predator.

Kini, relawan, nelayan, dan krama desa mulai memperkuat upaya konservasi dengan melakukan penyelamatan telur penyu secara lebih terstruktur. 

Mereka juga terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk mendapatkan pendampingan teknis sekaligus memastikan seluruh proses konservasi berjalan sesuai regulasi.

“Kami berharap pelestarian telur penyu dan tukiknya bisa berjalan sesuai aturan dan arahan pemerintah,” katanya.

Ke depan, kawasan konservasi tukik di Banyuasri diharapkan tidak hanya menjadi pusat penyelamatan penyu di Buleleng, tetapi juga berkembang menjadi destinasi wisata edukasi berbasis konservasi lingkungan yang mampu menarik minat wisatawan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga ekosistem pesisir. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#satwa #Desa adat #buleleng #Banyuasri #penyu