Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Dari Anhui untuk Tiongkok, Lembah Tomat Wada Panen Cuan dari Teknologi dan Rasa

Eka Prasetya • Senin, 1 Juni 2026 | 09:41 WIB
PERKEBUNAN TOMAT: Suasana di perkebunan tomat milik milik Anhui Wada Modern Agricultural Technology. Dari perkebunan tersebut, mereka menghasilkan 13 ton tomat per hari. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
PERKEBUNAN TOMAT: Suasana di perkebunan tomat milik milik Anhui Wada Modern Agricultural Technology. Dari perkebunan tersebut, mereka menghasilkan 13 ton tomat per hari. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.   

DERETAN rumah kaca berwarna putih membentang sejauh mata memandang. 

Di balik bangunan-bangunan raksasa itu, jutaan buah tomat tumbuh rapi dalam pengawasan teknologi modern. 

Sulit membayangkan kawasan ini dulunya hanyalah lahan pertanian biasa.

Saat berkunjung ke Kota Fuyang, Provinsi Anhui, Tiongkok, para jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) diajak melihat langsung bagaimana sektor pertanian bertransformasi menjadi industri berteknologi tinggi. 

Salah satu destinasi yang dikunjungi adalah Wada Tomato Valley atau Lembah Tomat Wada, pusat agribisnis milik Anhui Wada Modern Agricultural Technology.

Perusahaan yang berdiri sejak 2004 itu kini dikenal sebagai salah satu produsen tomat premium terbesar di Tiongkok. 

Produknya tersebar ke berbagai penjuru negeri. Bahkan, tingginya permintaan membuat perusahaan belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar domestik.

Luas kawasan pertanian mereka mencapai 780 hektare. Bukan sekadar area budidaya, kompleks tersebut juga mencakup pusat penelitian varietas, kawasan greenhouse modern, hingga fasilitas industri pengolahan hasil pertanian.

Namun yang membuat Wada berbeda bukan hanya luas lahannya. Perusahaan ini berhasil mengubah bisnis pertanian konvensional menjadi agroteknologi. 

Pemanfaatan internet of things (IoT), sistem manajemen digital, dan riset berkelanjutan menjadi senjata utama untuk meningkatkan produktivitas.

Target mereka tidak main-main. Tahun ini, produksi ditargetkan meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan sebelumnya.

Saat rombongan jurnalis Asia Pasifik mengunjungi fasilitas penelitian mereka, sejumlah peneliti tampak sibuk mengamati tanaman tomat yang ditanam dalam berbagai varietas. 

Setiap varietas memiliki karakteristik berbeda, mulai dari ukuran, warna, tekstur hingga tingkat kemanisan.

Chairman Anhui Wada Modern Agricultural Technology, Lv Bin, menjelaskan bahwa sejak berdiri perusahaan telah mengembangkan lebih dari 50 varietas tomat. Namun hanya sekitar 30 varietas yang akhirnya diproduksi secara massal.

Menurutnya, pengembangan varietas dilakukan berdasarkan selera konsumen yang berbeda-beda di setiap wilayah Tiongkok.

“Sehingga kami mengembangkan varietas yang benar-benar berorientasi pada konsumen. Apabila sudah sesuai, baru tomat kami tanam secara masif,” ungkapnya.

Ternyata, preferensi konsumen di negeri tirai bambu cukup unik. Masyarakat di Beijing dan Shanghai, misalnya, tidak terlalu menyukai tomat yang terlalu manis. 

Sebaliknya, konsumen di Guangzhou justru menggemari tomat dengan rasa manis yang kuat.

Pendekatan berbasis riset pasar itulah yang membuat produk Wada mampu bertahan di tengah persaingan industri pangan yang sangat ketat.

Di antara puluhan varietas yang dikembangkan, tomat ceri berwarna hijau menjadi salah satu primadona. 

Buah berukuran kecil itu sukses mencuri perhatian para jurnalis yang berkesempatan mencicipinya langsung.

Patience Mawa, jurnalis asal Vanuatu, mengaku langsung jatuh hati pada tomat tersebut.

“Rasanya manis dan segar. Ini adalah favorit saya,” ujarnya sambil tersenyum.

Komentar serupa datang dari jurnalis Malaysia, Siti Zanariah Binti Nor Zin.

“Biasanya saya tidak suka makan tomat. Tapi untuk kali ini, saya akui tomat ini benar-benar sedap,” katanya.

Kesuksesan Wada tidak lepas dari strategi budidaya yang mengandalkan rumah kaca atau greenhouse. 

Saat ini mereka memiliki lebih dari 300 greenhouse di Provinsi Anhui. Secara nasional, jumlahnya telah melampaui 2.000 unit yang tersebar di sejumlah provinsi.

Ukuran setiap greenhouse pun tidak main-main. Rata-rata mencapai 12 ribu meter persegi atau sekitar dua kali luas lapangan sepak bola.

Menurut Lv Bin, penggunaan greenhouse menjadi kunci utama untuk menghasilkan tomat premium dengan kualitas yang konsisten sepanjang tahun.

Tomat yang ditanam di dalam rumah kaca lebih terlindungi dari perubahan cuaca ekstrem maupun serangan hama, terutama lalat buah. 

Penerapan sistem biosekuriti yang ketat membuat kualitas buah tetap terjaga hingga sampai ke tangan konsumen.

Permintaan pasar yang tinggi membuat tomat Wada harus dikirim hingga ke berbagai pelosok Tiongkok. 

Agar kualitas tetap terjaga selama perjalanan, perusahaan merancang kemasan khusus dengan dinding lebih tebal dan lapisan aluminium foil.

“Rata-rata satu boks itu isinya 2,5 kilogram. Biasanya cukup untuk seminggu bagi satu keluarga di Tiongkok,” jelas Lv Bin.

Harga satu kemasan tomat premium tersebut mencapai sekitar 11 dolar AS atau setara Rp 187 ribu.

Meski harganya relatif tinggi, permintaan terus mengalir. Bahkan produksi yang ada saat ini masih belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Untuk mengejar permintaan tersebut, perusahaan memperluas area budidaya ke berbagai provinsi lain. Khusus di Anhui, lebih dari 100 petani dilibatkan dalam operasional perkebunan.

Hingga akhir 2025, kawasan pertanian mereka di Anhui mampu menghasilkan sekitar 13 ton tomat per hari. 

Jika dihitung dari seluruh jaringan perkebunan Wada di berbagai wilayah Tiongkok, total produksi mencapai sekitar satu juta ton per tahun.

Angka itu terdengar fantastis. Namun bagi Lv Bin, jumlah tersebut masih jauh dari cukup.

“Permintaan domestik masih sangat tinggi. Kami sedang mengembangkan teknologi. Harapannya dalam akhir tahun dari perkebunan di Anhui ini, produksi bisa meningkat antara 40 ton sampai 50 ton per hari,” katanya.

Menariknya, di tengah kapasitas produksi yang terus bertumbuh, Wada belum terlalu tertarik menggarap pasar ekspor. Fokus utama mereka masih tertuju pada pasar domestik yang dinilai sangat menjanjikan.

Meski demikian, peluang kerja sama internasional tetap terbuka. Terutama dengan negara-negara ASEAN dan kawasan Pasifik yang memiliki iklim tropis cocok untuk pengembangan tomat.

“Tentu Tiongkok dan negara-negara di ASEAN bisa bekerja sama. Misalnya kami menyediakan bibit dan standarisasi produksi, sedangkan petani di ASEAN menjadi mitra kami. Itu sangat mungkin dilakukan. Tentu kami akan mengikuti arah kebijakan pemerintah kami di Tiongkok,” tegasnya.

Dari sebuah kota di Anhui, Wada menunjukkan bahwa pertanian modern bukan lagi sekadar urusan menanam dan memanen. 

Lewat teknologi, riset, dan pemahaman terhadap pasar, sebutir tomat bisa berubah menjadi bisnis bernilai miliaran rupiah. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#tiongkok #tomat #perkebunan #buleleng