Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Innalillahi! Jemaah Haji Asal Buleleng Meninggal di Mekkah saat Tunaikan Ibadah

Eka Prasetya • Senin, 1 Juni 2026 | 14:12 WIB
RUMAH DUKA: Suasana di rumah duka keluarga besar H. Ibrahim Mujab, jemaah haji asal Buleleng. Mendiang meninggal di tanah suci saat menjalankan ibadah naik haji. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
RUMAH DUKA: Suasana di rumah duka keluarga besar H. Ibrahim Mujab, jemaah haji asal Buleleng. Mendiang meninggal di tanah suci saat menjalankan ibadah naik haji. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Kabar duka datang dari Tanah Suci. Seorang jemaah haji asal Kabupaten Buleleng, Bali, H. Ibrahim Mujab, 75, meninggal dunia di Mekkah, Arab Saudi, saat menjalankan rangkaian ibadah haji.

Mendiang diketahui sebagai salah satu jemaah haji yang berasal dari Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada.

Almarhum menghembuskan napas terakhir pada Minggu (31/5/2026) sekitar pukul 13.30 Waktu Arab Saudi. 

Saat itu, ia tengah berada di Mekkah dan bersiap menjalani rangkaian ibadah berikutnya.

Petugas Haji Daerah Kabupaten Buleleng, H. Ali Susanto, membenarkan kabar duka tersebut. 

Menurutnya, almarhum berpulang saat berada di tengah persiapan untuk melaksanakan tawaf.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Telah berpulang ke rahmatullah jemaah haji dari Kabupaten Buleleng atas nama H. Ibrahim Mujab pada hari Minggu (31/5/2026) pukul 13.30 waktu Arab Saudi, di tengah-tengah saat menyiapkan diri hendak melakukan tawaf. Mendiang dipanggil Allah setelah sholat dzuhur," ujarnya.

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Buleleng, H. Agus Annurachman, menjelaskan informasi meninggalnya almarhum diterima dari ketua kloter pada Minggu (31/5/2026) menjelang waktu maghrib Waktu Indonesia Tengah (WITA).

Berdasarkan laporan yang diterimanya, sebelum meninggal dunia almarhum sempat meminta makan kepada rekan-rekannya di kamar hotel. 

Padahal selama menjalankan ibadah haji, almarhum dikenal cukup sulit makan sehingga sering harus dibujuk oleh teman-temannya.

"Ketika menjelang sholat dzuhur, almarhum sempat minta makan. Biasanya almarhum agak susah makan sehingga harus dipaksa. Tapi kemarin tiba-tiba sebelum istirahat minta makan," jelas Agus.

Saat rekan-rekannya meninggalkan kamar untuk melaksanakan sholat dzuhur, almarhum masih dalam kondisi beristirahat. 

Namun ketika mereka kembali, Ibrahim Mujab ditemukan dalam posisi tidur dan tidak merespons.

"Ketika makan, ditinggal sholat oleh teman lainnya. Saat kembali, beliau ditemukan dalam kondisi tidur dan tidak merespon. Sehingga diperiksa nadi, sudah tidak terasa. Kemudian dibawa ke Rumah Sakit King Faisal Arab Saudi sesuai prosedur," katanya.

Hingga kini, penyebab pasti meninggalnya almarhum masih menunggu keterangan resmi dari pihak rumah sakit.

Meski demikian, proses pemakaman telah dilaksanakan sesuai ketentuan pemerintah Arab Saudi. 

Almarhum disholatkan di Masjidil Haram sebelum dimakamkan pada Minggu malam sekitar pukul 20.00 Waktu Arab Saudi.

"Tadi pagi kami konfirmasi, almarhum sudah dimakamkan pukul 20.00 waktu Arab Saudi. Prosedur administrasi pemakaman cukup panjang. Almarhum sudah disholatkan di Masjidil Haram dan dimakamkan," terang Agus.

Pihak keluarga nantinya akan menerima dokumen resmi berupa lokasi makam, nomor pemakaman, serta surat keterangan kematian dari KJRI yang dapat digunakan untuk pengurusan asuransi maupun akta kematian.

Agus menambahkan, secara umum kondisi kesehatan almarhum selama berada di Tanah Suci cukup baik. 

Meski memiliki kendala nafsu makan dan berstatus lanjut usia, Ibrahim Mujab tidak pernah menjalani perawatan khusus di rumah sakit.

Bahkan, sebagian besar rangkaian ibadah haji telah berhasil dituntaskannya.

"Almarhum sudah berangkat ke Tanah Arafah, jadi puncak hajinya sudah terlewati. Hanya satu yang belum terlewati, yakni Tawaf Ifadah," jelas Agus.

Namun karena berstatus jamaah lanjut usia dan telah mendapatkan pendampingan khusus melalui skema Haji Udhur (uzur), ibadah hajinya tetap dinyatakan sah.

"Biasanya saat di Mekkah kami bantu untuk niat melaksanakan Haji Udhur. Artinya jemaah menggunakan baju ihram, kemudian di tengah jalan ada udhur karena sakit atau halangan lain, itu boleh menyelesaikan rangkaian haji. Sehingga hajinya sah," katanya.

Di rumah duka, keluarga mengaku menerima kabar meninggalnya Ibrahim Mujab melalui sambungan telepon pada Minggu (31/5/2026) petang.

Putra almarhum, Ishak Ibrahim, mengatakan sang ayah telah menunggu kesempatan berhaji selama 13 tahun sejak mendaftarkan diri pada 2013.

Saat mendapat kabar keberangkatan tahun ini, kondisi kesehatan Ibrahim Mujab sebenarnya sempat menurun. Namun keinginannya untuk menunaikan rukun Islam kelima tidak pernah surut.

"Saya tanya bagaimana kesiapannya. Saya sebagai keluarga tidak bisa memaksakan berangkat, tidak bisa mencegah juga. Beliau ngomong meski kondisinya sakit tetap ingin berangkat haji," tutur Ishak saat ditemui di Pegayaman pada Senin (1/6/2026).

Sejak saat itu, almarhum rutin menjalani kontrol kesehatan dan mengonsumsi obat hingga akhirnya dinyatakan layak berangkat ke Tanah Suci.

Menurut Ishak, saat pelepasan jemaah haji di Singaraja, ayahnya masih tampak sehat dan penuh semangat. 

Bahkan sebelum berangkat, Ibrahim Mujab sempat meminta maaf kepada seluruh anggota keluarga.

"Beliau sempat bicara: sebagai orang tua saya maafkan semua kesalahan anak saya," ujar Ishak sembari menahan tangis.

Selama berada di Mekkah, komunikasi keluarga dengan almarhum juga berjalan lancar. Bahkan beberapa waktu sebelum meninggal, Ibrahim Mujab masih sempat berbicara melalui telepon dan mengabarkan kondisinya baik.

"Bapak bilang sehat dan hanya batuk saja. Komunikasi lancar sekali," katanya.

Meski kehilangan sosok ayah yang dicintai, keluarga mengaku ikhlas menerima takdir tersebut. 

Mereka meyakini wafat di Tanah Suci merupakan kemuliaan yang diimpikan banyak umat Islam.

"Karena disampaikan dari kementerian haji bahwasanya semua umat muslim, mengharapkan bisa meninggal di Mekkah. Karena itu impian betul. Alhamdulillah bapak saya bisa, tanpa meminta, bisa meninggal di Mekkah. Bagi kami ini keistimewaan sendiri," ucap Ishak.

Keluarga berencana menggelar tahlilan dan yasinan selama tujuh hari untuk mendoakan almarhum. 

Mereka berharap seluruh amal ibadah Ibrahim Mujab diterima Allah SWT dan memperoleh predikat haji mabrur.

Sementara itu, Kementerian Haji dan Umrah Buleleng memastikan kondisi jemaah haji asal Buleleng lainnya dalam keadaan baik. 

Hanya tiga orang jemaah yang masih mengalami gangguan kesehatan dan terus mendapat pemantauan petugas medis. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#jemaah #pegayaman #haji #mekkah #buleleng