Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
GEDUNG megah berarsitektur modern itu berdiri di tepi Taman Teluk Shuangqing, Distrik Baru Chengnan, Kota Fuyang, Provinsi Anhui, Tiongkok.
Dari luar, bangunannya tampak seperti museum modern pada umumnya. Namun siapa sangka, di balik dinding-dindingnya tersimpan jejak perjalanan peradaban yang membentang dari zaman prasejarah hingga era modern Tiongkok.
Itulah Fuyang City Museum atau Museum Kota Fuyang. Salah satu destinasi yang wajib dikunjungi ketika berada di kota yang terletak di bagian barat laut Provinsi Anhui tersebut.
Meski menyandang nama museum kota, koleksi yang tersimpan di dalamnya jauh melampaui sejarah lokal Fuyang.
Museum ini menjadi etalase besar yang merekam perkembangan peradaban di Anhui selama ribuan tahun.
Museum Kota Fuyang sebenarnya telah berdiri sejak 1958. Namun seiring meningkatnya kebutuhan ruang pamer dan konservasi koleksi, pemerintah setempat memutuskan melakukan revitalisasi besar-besaran pada 2017.
Museum kemudian dipindahkan ke lokasi baru yang hanya berjarak sekitar 15 menit dari Bandara Fuyang.
Setelah lima tahun proses pembangunan, museum mulai menjalani masa uji coba pada Oktober 2022 sebelum akhirnya dibuka penuh untuk publik setahun kemudian.
Antusiasme masyarakat ternyata luar biasa. Hingga akhir 2025, jumlah pengunjung tercatat telah menembus 1,8 juta orang.
Ukuran museum ini pun cukup mencengangkan untuk kategori museum tingkat kota. Luas bangunannya mencapai 34 ribu meter persegi, setara sekitar lima kali lapangan sepak bola.
Empat lantai yang tersedia memiliki fungsi berbeda. Lantai pertama digunakan sebagai ruang publik, sedangkan lantai dua hingga empat menjadi area pameran utama.
Begitu memasuki ruang pamer, pengunjung langsung diajak melakukan perjalanan lintas zaman.
Mulai dari kehidupan manusia purba, era berburu dan meramu, kejayaan berbagai dinasti, hingga sejarah modern Tiongkok.
Salah satu koleksi yang paling menarik perhatian adalah replika gading mammoth berukuran raksasa. Artefak itu menjadi bukti bahwa wilayah Anhui pernah menjadi habitat hewan purba tersebut.
Tak jauh dari sana, tersimpan pula fosil Paleoloxodon, gajah purba yang pernah hidup ribuan tahun lalu. Fosil itu menjadi salah satu magnet utama yang selalu menarik perhatian pengunjung.
Namun kejutan tidak berhenti di sana.
Museum ini juga menyimpan berbagai artefak yang menggambarkan perkembangan budaya dan kepercayaan masyarakat Tiongkok kuno. Salah satunya adalah artefak perunggu legendaris berjudul "The Dragon and Tiger Statue".
Artefak yang berasal dari era Dinasti Shang itu dahulu digunakan dalam ritual keagamaan.
Bentuknya unik dan sarat makna. Pada bagian badan terdapat ukiran manusia yang sedang diterkam harimau, sementara pada bagian leher terpahat sosok naga.
“Mungkin artefak tersebut menggambarkan kondisi kehidupan setelah meninggal karena digunakan dalam ritual. Yang dipamerkan di museum ini hanya replika, sedangkan artefak aslinya disimpan di museum nasional,” ujar Manajer Museum Kota Fuyang, Liu Jian Sheng.
Selain itu, terdapat pula koleksi artefak perunggu berusia lebih dari dua ribu tahun yang diyakini menjadi salah satu perangkat astrologi paling awal dalam sejarah Tiongkok.
Alat tersebut digunakan masyarakat kuno untuk mengamati posisi bulan, bintang, serta memprediksi perubahan cuaca.
Ribuan koleksi lainnya turut memenuhi ruang-ruang pamer. Mulai dari vas kuno, gerabah, porselen, giok, hingga peninggalan sejarah dari berbagai dinasti yang pernah berkuasa di Tiongkok.
Salah satu lantai bahkan secara khusus didedikasikan untuk mengisahkan perjuangan revolusi yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok melawan pendudukan Jepang di wilayah Fuyang.
Meski sarat dengan koleksi bersejarah, museum ini tidak terkesan kaku. Pengelola berupaya membuat pengalaman berkunjung menjadi lebih ramah bagi wisatawan mancanegara.
Hampir seluruh artefak dilengkapi keterangan dalam bahasa Inggris. Pengunjung tidak harus memahami huruf Mandarin untuk mengetahui sejarah di balik benda-benda yang dipamerkan.
Teknologi juga dimanfaatkan untuk memperkaya pengalaman wisata. Di dekat sebagian besar koleksi tersedia kode QR yang dapat dipindai menggunakan aplikasi WeChat.
Setelah dipindai, pengunjung bisa mendengarkan penjelasan audio mengenai artefak yang sedang dilihat.
Memang, layanan audio tersebut saat ini masih tersedia dalam bahasa Mandarin. Namun setidaknya langkah itu menunjukkan bagaimana museum berusaha menghadirkan pengalaman yang lebih interaktif.
Sebagai salah satu pusat penyimpanan sejarah terbesar di Anhui, Museum Kota Fuyang memiliki koleksi yang sangat besar.
Tercatat ada sekitar 130 ribu artefak yang tersimpan di sana. Di antaranya terdapat 2.622 peninggalan budaya berharga dan 47 set peninggalan budaya tingkat nasional.
Yang tak kalah penting, museum ini juga menyimpan 5.226 potongan bambu dan kayu peninggalan Dinasti Han Barat. Sebanyak 13 jilid di antaranya, termasuk “The Book of Songs” dan “The Book of Changes”, telah masuk dalam daftar nasional naskah kuno berharga yang wajib dilindungi.
“Saat ini museum menjadi pusat layanan pariwisata dan kerja sama internasional. Museum ini juga menjadi pusat pendidikan bagi universitas-universitas di Tiongkok,” jelas Liu Jian Sheng, Manajer Museum Kota Fuyang.
Dan memang, di Museum Kota Fuyang, sejarah tidak hanya dipajang di balik etalase kaca. Ia hidup dalam setiap fosil, artefak, dan kisah yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya