Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
GERAKANNYA lambat. Nyaris tanpa suara. Tak ada teriakan penyemangat, tak ada hitungan satu-dua-tiga seperti dalam senam kebugaran.
Hanya puluhan orang berdiri dengan tubuh rileks, lalu menggerakkan tangan dan kaki perlahan seolah sedang menari mengikuti irama yang hanya mereka dengar sendiri.
Pemandangan itulah yang saya temui saat mengikuti kelas Tai Chi di Renmin University of China, Beijing, pada Selasa (2/6/2026).
Kegiatan itu menjadi agenda pertama setelah beberapa hari menikmati jeda usai perjalanan padat di Provinsi Anhui.
Sepekan berkeliling Anhui cukup menguras energi. Apalagi cuaca Beijing menjelang musim panas sedang garang-garangnya.
Suhu udara bahkan sempat menembus 36 derajat Celcius!
Karena itu, sejak kembali ke Beijing pada Minggu (31/5/2026), saya dan rombongan jurnalis dari berbagai negara Asia Pasifik lebih banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat.
Tubuh memang perlu diajak berdamai setelah beberapa hari dipaksa bekerja tanpa jeda.
Namun masa-masa santai itu tidak berlangsung lama.
Pada Selasa (2/6/2026) pagi, kami kembali berkumpul untuk mengikuti salah satu aktivitas yang cukup ikonik dalam budaya Tiongkok: belajar Tai Chi.
Sebelum mengikuti kelas tersebut, bayangan saya tentang Tai Chi sebenarnya cukup sederhana.
Saya mengira olahraga ini tak jauh berbeda dengan senam biasa. Ada instruktur di depan, peserta mengikuti gerakan, lalu selesai.
Ternyata saya salah.
Begitu kelas dimulai, instruktur meminta kami berdiri tegak, mengatur napas, lalu memusatkan pikiran.
Setelah itu, gerakan demi gerakan dilakukan perlahan. Sangat perlahan.
Tangan bergerak membentuk lingkaran. Pinggang berputar lembut mengikuti arah gerakan. Kaki melangkah pelan, seakan menyapu lantai tanpa suara.
Tidak ada gerakan yang tergesa-gesa.
Instruktur berkali-kali mengingatkan kami agar tubuh tetap rileks. Dalam filosofi Tai Chi, setiap gerakan harus mengalir seperti air. Tidak boleh kaku, tidak boleh dipaksakan.
Kami juga diajak memahami konsep keseimbangan yin dan yang, dua energi yang dipercaya harus tetap harmonis dalam tubuh manusia.
Sekilas, pengalaman itu mengingatkan saya pada yoga. Sama-sama menekankan pernapasan, konsentrasi, dan kesadaran terhadap tubuh.
Namun setelah dijalani, keduanya ternyata sangat berbeda.
Yoga lebih banyak mengandalkan pose-pose tertentu yang harus dipertahankan dalam beberapa saat. Posisi tubuh pun beragam, mulai berdiri, duduk, hingga berbaring.
Sementara Tai Chi hampir seluruhnya dilakukan sambil berdiri. Gerakannya terus mengalir tanpa putus, seperti rangkaian tarian yang tidak pernah berhenti.
Yang paling mengejutkan, gerakan lambat ternyata tidak selalu berarti ringan.
Pada awal sesi, saya beberapa kali kehilangan ritme. Tubuh secara naluriah ingin bergerak lebih cepat.
Namun semakin cepat bergerak, semakin sering pula instruktur meminta saya memperlambat tempo.
Justru itulah tantangannya.
Melakukan gerakan perlahan sambil menjaga keseimbangan tubuh dan fokus pikiran ternyata membutuhkan energi yang tidak sedikit.
Tiga jam berlalu tanpa terasa. Ketika kelas berakhir, kaki mulai terasa pegal. Bukan karena gerakannya berat, melainkan karena terlalu lama berdiri.
Meski demikian, pengalaman itu terasa menyenangkan.
Janelle Pusta Lorzano, jurnalis asal Filipina yang mengikuti kelas bersama saya, mengaku mendapatkan pengalaman yang sama sekali baru.
“Saya sudah pernah ikut kelas yoga dan pilates. Ini pengalaman baru yang menyenangkan. Saya benar-benar menikmatinya,” katanya.
Pengalaman berbeda dirasakan Siti Zanariah Binti Nor Zin, jurnalis dari Kantor Berita Bernama, Malaysia.
Perempuan yang akrab disapa Zana itu mengaku tidak asing dengan Tai Chi. Ia sering melihat aktivitas tersebut dilakukan komunitas Tionghoa di negaranya.
Biasanya, para lansia berkumpul di taman pada pagi atau sore hari untuk berlatih bersama.
Karena itulah ia sempat beranggapan Tai Chi identik dengan olahraga untuk kelompok usia lanjut.
“Saya awalnya mengira Tai Chi hanya untuk lansia. Ternyata bisa dilakukan semua usia,” ujarnya.
Hari itu saya akhirnya memahami satu hal tentang Tai Chi. Bahwa olahraga tidak selalu identik dengan gerakan cepat, napas terengah-engah, atau keringat bercucuran.
Kadang, kesehatan justru dibangun melalui gerakan yang tenang. Pelan. Nyaris tanpa suara.
Namun setelah menjalaninya selama tiga jam, saya bisa memastikan satu hal: jangan pernah meremehkan olahraga yang terlihat santai. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya