Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
TIDAK ada hari yang benar-benar lengang selama mengikuti program China International Press Communication Center (CIPCC).
Agenda selalu menunggu sejak pagi hingga malam. Hanya akhir pekan yang memberi ruang bernapas.
Namun justru di situlah letak menariknya. Setiap kegiatan menghadirkan pengalaman baru.
Tentang Tiongkok yang selama ini hanya dikenal lewat layar gawai. Tentang dunia media yang terus berubah.
Tentang bagaimana jurnalisme dipandang dalam konteks komunikasi global yang semakin tanpa batas.
Jumat (5/6/2026), rombongan jurnalis kembali bergerak. Tujuan kali ini adalah Communication University of China (CUC), salah satu kampus paling bergengsi di Negeri Tirai Bambu untuk bidang komunikasi dan media.
Bus yang membawa peserta melaju menuju kawasan Beijing Timur. Di dalamnya, para jurnalis dari Asia Pasifik, Afrika, dan Eurasia bercampur dalam satu perjalanan.
Meski berasal dari negara, bahasa, dan budaya yang berbeda, tujuan hari itu sama: belajar bagaimana dunia media sedang bertransformasi.
CUC bukan kampus biasa. Sebelum berstatus universitas pada 2004, lembaga ini dikenal sebagai Beijing Broadcasting Institute, akademi yang selama puluhan tahun mencetak tenaga profesional untuk industri penyiaran Tiongkok.
Kini kampus tersebut berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan komunikasi terbesar di negara itu. Dari jurnalistik, broadcasting, perfilman, hingga industri kreatif digital.
Bahkan sejumlah program internasional diselenggarakan dalam bahasa Inggris untuk menarik mahasiswa dari berbagai belahan dunia.
Di kampus inilah berlangsung "Global Journalists Salon", sebuah forum dialog yang mempertemukan para jurnalis internasional dengan akademisi CUC.
Peserta dibagi ke dalam tiga kelompok berdasarkan bahasa. Asia Pasifik menggunakan bahasa Inggris, Afrika menggunakan bahasa Perancis, sementara Eurasia menggunakan bahasa Rusia.
Di salah satu ruang pertemuan, Wakil Presiden CUC Ren Mengshan menyampaikan pandangannya tentang tantangan media global saat ini.
Menurutnya, dunia sedang mengalami perubahan besar. Revolusi teknologi berkembang sangat cepat.
Artificial Intelligence (AI) mengubah cara informasi diproduksi dan disebarluaskan. Di sisi lain, konflik geopolitik, ketimpangan pembangunan, hingga prasangka antar budaya masih menjadi tantangan yang harus dihadapi masyarakat internasional.
"Dunia membutuhkan media untuk memainkan perannya. Bukan hanya menghubungkan Tiongkok dengan dunia, tapi menjembatani antar negara, serta membangun konsensus di masyarakat internasional," ujarnya.
Bagi Ren, media bukan sekadar penyampai informasi. Media adalah pencatat peradaban.
Satu laporan berita, satu rekaman video, atau satu wawancara dapat membentuk cara pandang masyarakat lintas negara.
Karena itu, jurnalisme hari ini memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya.
Diskusi kemudian berkembang ke berbagai isu. Mulai dari bagaimana media mematahkan stereotip budaya, membangun narasi yang lebih inklusif, hingga peluang dan tantangan komunikasi antar peradaban di era AI.
Usai sesi dialog, perjalanan berlanjut ke salah satu sudut kampus yang tak kalah menarik: Media Museum.
Begitu memasuki bangunan museum, kesan pertama yang muncul adalah perjalanan waktu.
Seolah pengunjung diajak menelusuri sejarah panjang dunia komunikasi massa Tiongkok dari masa ke masa.
Di tempat itulah sebuah kejutan kecil terjadi.
"Dari Indonesia ya?"
Sapaan itu datang dari seorang mahasiswa yang bertugas menjadi pemandu museum.
Namanya Dina, mahasiswa asal Indonesia yang tengah menempuh pendidikan magister jurnalistik di CUC.
Sudah sembilan bulan terakhir ia tinggal di Beijing.
Bersama Dina dan Nadia Ayu Sorya, jurnalis Metro TV yang juga peserta CIPCC, saya kemudian berkeliling menyusuri setiap sudut museum.
Di dalamnya tersimpan berbagai artefak yang menjadi saksi perkembangan media komunikasi.
Radio-radio lawas berukuran besar berjajar di beberapa etalase. Dahulu benda-benda itulah yang menjadi sumber utama informasi publik sebelum televisi dan internet mengambil alih peran.
Tak jauh dari sana, tersimpan kamera televisi generasi awal. Ukurannya jauh lebih besar dibanding kamera modern yang kini digunakan para jurnalis lapangan.
Sulit membayangkan bagaimana kru televisi masa lalu harus memindahkan perangkat sebesar itu demi menghasilkan tayangan berita.
Namun dari peralatan-peralatan itulah sejarah penyiaran dibangun.
Setiap teknologi yang hari ini terasa usang pernah menjadi inovasi paling mutakhir pada zamannya.
Di salah satu area museum, perhatian pengunjung tertuju pada sebuah replika studio berita milik China Central Television (CCTV). Lengkap dengan meja presenter dan green screen.
Tempat itu langsung menjadi magnet.
Satu per satu peserta bergantian duduk di kursi pembaca berita. Ada yang berpose serius layaknya news anchor profesional.
Ada pula yang sekadar mengabadikan momen untuk dibawa pulang sebagai kenang-kenangan dari Beijing.
Saya memperhatikan suasana itu beberapa saat.
Di tengah era ketika AI mulai menulis naskah, algoritma menentukan distribusi informasi, dan media sosial menjadi ruang publik baru, museum tersebut seperti menghadirkan sebuah pengingat sederhana.
Bahwa setiap lompatan teknologi selalu memiliki sejarah panjang di belakangnya.
Sebelum ada internet, pernah ada radio.
Sebelum ada media sosial, pernah ada televisi yang menjadi jendela utama masyarakat melihat dunia.
Dan sebelum dunia mengenal kecerdasan buatan, ada generasi-generasi jurnalis yang membangun fondasi komunikasi menggunakan perangkat-perangkat yang kini hanya bisa ditemukan di balik kaca museum.
Di CUC hari itu, pelajaran yang didapat bukan hanya tentang masa depan media.
Tetapi juga tentang pentingnya memahami jejak masa lalu sebelum melangkah ke arah yang baru. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya