Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
KOTA Fuyang di Provinsi Anhui, Tiongkok, mungkin tak sepopuler Beijing, Shanghai, atau Guangzhou. Kota ini bahkan bukan ibu kota provinsi.
Namun jangan salah. Di balik kesan sebagai kota kecil yang tenang, Fuyang tengah bergerak cepat membangun kekuatan ekonomi baru melalui sektor manufaktur.
Pekan lalu, kami bersama para jurnalis dari kawasan Asia Pasifik yang mengikuti program China International Press Communication Center (CIPCC) berkesempatan melihat langsung denyut industri tersebut.
Perjalanan sekitar 45 menit dari pusat Kota Fuyang membawa kami ke Kabupaten Funan, salah satu kawasan yang kini berkembang menjadi pusat industri baru di Anhui.
Di kawasan inilah sejumlah investasi besar mulai bermunculan. Salah satunya adalah fasilitas perakitan kendaraan listrik milik BYD yang mempekerjakan lebih dari seribu pekerja.
Namun tujuan utama kunjungan kami hari itu adalah sebuah pabrik yang mungkin tidak terlalu dikenal publik, tetapi produknya berperan penting dalam pergerakan jutaan kendaraan.
Namanya Anhui Aodehua Technology Co., Ltd.
Dari luar, bangunannya tampak seperti kawasan industri modern pada umumnya. Namun di balik pintu-pintu pabrik itulah ribuan komponen suku cadang kendaraan diproduksi setiap tahun.
Mulai dari kopling, peredam kejut (shock absorber), hingga berbagai suku cadang yang digunakan kendaraan industri, kendaraan pertanian, truk, hingga mobil listrik.
Perusahaan ini sebenarnya bukan pemain baru. Jejak bisnisnya telah dimulai sejak 2002 di Provinsi Zhejiang, kawasan pesisir timur Tiongkok yang dikenal sebagai salah satu pusat manufaktur nasional.
Saat itu Aodehua memproduksi beragam kebutuhan industri, mulai dari komponen otomotif, sistem pemanas ruangan, hingga perlengkapan perpipaan.
Namun seiring perkembangan bisnis, perusahaan mulai melakukan ekspansi. Investasi besar pun digelontorkan untuk membangun fasilitas baru di Funan. Nilainya mencapai sekitar 1,5 miliar yuan atau setara Rp 3,9 triliun.
Di Anhui, fokus bisnis mereka dipersempit. Bukan lagi berbagai kebutuhan industri, melainkan khusus untuk perlengkapan kendaraan.
“Perusahaan kami baru mulai beroperasi di Funan pada musim semi tahun ini. Jadi jumlah tenaga kerja yang kami serap belum terlalu banyak. Saat ini sekitar 500 orang,” ujar Manajer Anhui Aodehua Technology Co., Ltd., Ling Zongshu, saat menerima kunjungan rombongan jurnalis.
Meski baru beroperasi beberapa bulan, skala produksinya tidak bisa dianggap kecil. Hingga kini perusahaan telah mengembangkan lebih dari 7.000 set cetakan secara mandiri.
Produk-produknya dipasarkan tidak hanya untuk kebutuhan domestik, tetapi juga diekspor ke berbagai negara di Asia Tenggara, Rusia, Afrika, hingga Eropa.
Saat memasuki area produksi, suasana sibuk langsung terasa.
Di salah satu ruangan, sejumlah teknisi tampak fokus mengembangkan produk baru.
Mereka keluar masuk ruang uji, melakukan pencetakan awal, pengukuran presisi, hingga pengujian ketahanan material. Semua dilakukan sebelum sebuah komponen dinyatakan layak diproduksi massal.
“Kami memiliki tim riset dan pengembangan yang bertugas menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar. Setiap produk harus melalui tahap desain, pra-cetak, pengujian kualitas, hingga uji daya tahan sebelum diproduksi dalam jumlah besar,” jelas Ling.
Di gedung lainnya, aktivitas produksi berlangsung tanpa henti. Para pekerja merakit set kopling satu per satu. Sebagian lainnya melakukan pengecekan kualitas, sementara kelompok lain sibuk melakukan pengepakan untuk pengiriman.
Sekilas pekerjaan itu tampak sederhana. Namun kenyataannya membutuhkan tenaga dan ketelitian tinggi.
Satu set kopling memiliki berat sekitar lima kilogram. Untuk kendaraan pertanian dan truk, bobotnya bahkan jauh lebih berat.
Menariknya, pekerjaan tersebut tidak hanya dilakukan pekerja pria. Banyak pekerja perempuan yang juga terlihat cekatan mengangkat, merakit, hingga memindahkan komponen-komponen tersebut.
Tidak ada teriakan atau hiruk-pikuk seperti yang sering tergambar dalam film-film industri.
Yang terdengar hanya suara mesin, percikan alat produksi, dan langkah para pekerja yang bergerak cepat dari satu lini ke lini lainnya.
Di tengah persaingan industri otomotif global yang semakin ketat, perusahaan ini memasang target cukup ambisius. Mereka menargetkan mampu memproduksi sekitar 1,15 juta set komponen kendaraan setiap tahun.
Jika target itu tercapai, perusahaan diperkirakan mampu membukukan pendapatan hingga 1 miliar yuan per tahun sekaligus membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Meski demikian, Ling mengakui kontribusi perusahaan terhadap perekonomian Anhui saat ini masih terbatas.
Maklum, operasional pabrik baru berjalan beberapa bulan sehingga proses adaptasi masih berlangsung.
Namun optimisme tetap tinggi. Terlebih ketika permintaan kendaraan listrik terus meningkat di berbagai negara.
“Kendaraan listrik sedang menjadi tren global. Kami yakin produk yang kami hasilkan mampu bersaing di pasar internasional. Harapannya, ke depan kami bisa memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian negara,” ujarnya.
Di Funan, optimisme itu tidak hanya datang dari satu perusahaan. Ia menjadi gambaran bagaimana kota-kota yang jauh dari gemerlap pusat kekuasaan perlahan membangun masa depannya melalui pabrik-pabrik, teknologi, dan ribuan tangan pekerja yang setiap hari menggerakkan roda industri. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya