SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Ketut Putra Sedana atau yang akrab disapa Dokter Caput dipercaya memimpin organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Buleleng.
Baru menerima amanah tersebut, Dokter Caput langsung menyoroti persoalan yang dinilainya paling mendesak bagi dunia pertanian Buleleng. Yakni semakin menyusutnya lahan pertanian produktif akibat alih fungsi lahan.
Menurutnya, Buleleng dikenal sebagai salah satu daerah dengan potensi pertanian dan perkebunan terbesar di Bali.
Namun, dibalik luasnya kawasan pertanian yang dimiliki, lahan produktif yang benar-benar aktif digarap petani jumlahnya relatif terbatas dan terus menghadapi tekanan pembangunan.
"Kalau tidak salah luas kawasan pertanian dan perkebunan di Buleleng sekitar 125 ribu hektare. Tetapi lahan pertanian produktif hanya sekitar 8 ribu hektare. Ini menjadi persoalan yang harus mendapat perhatian bersama," ujar Dokter Caput.
Meningkatnya kebutuhan lahan untuk pembangunan perumahan dan berbagai sektor lainnya dinilai menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan pertanian di Bali Utara.
Jika tidak dikendalikan, kondisi tersebut dikhawatirkan akan semakin mempersempit ruang bagi aktivitas pertanian yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat.
Karena itu, penyelamatan lahan pertanian produktif menjadi salah satu agenda utama yang akan diperjuangkan HKTI Buleleng.
Meski pemerintah telah menetapkan kawasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), menurutnya langkah tersebut masih perlu diperkuat agar lahan pertanian benar-benar terlindungi dari ancaman konversi.
"Bagaimana caranya supaya konversi lahan pertanian menjadi perumahan dan fungsi lainnya bisa ditekan. Ini menjadi pekerjaan rumah yang harus kita pikirkan bersama," katanya.
Selain persoalan lahan, Dokter Caput juga menyoroti semakin berkurangnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.
Banyak anak muda, termasuk anak petani, kini lebih memilih bekerja di sektor lain atau mencari pekerjaan di luar negeri karena menganggap pertanian tidak mampu memberikan penghasilan yang cepat.
Padahal, menurutnya, sektor pertanian memiliki prospek yang menjanjikan apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan. Hanya saja, hasil yang diperoleh memang tidak bisa dinikmati secara instan.
"Pertanian itu sebenarnya sangat menjanjikan. Tetapi memang membutuhkan proses. Bisa tiga sampai lima tahun baru menghasilkan. Sementara karakter masyarakat sekarang banyak yang menginginkan hasil cepat," ujarnya.
Ia mengingatkan, jika tren tersebut terus berlangsung, bukan tidak mungkin lahan pertanian yang saat ini dimiliki masyarakat akan beralih tangan kepada pihak lain.
Akibatnya, masyarakat lokal berpotensi kehilangan kendali atas sumber daya yang selama ini menjadi kekuatan daerah.
"Jangan sampai lahan yang kita miliki akhirnya dimiliki orang lain dan kita menjadi tamu di daerah sendiri," tegasnya.
Sebagai langkah awal, HKTI Buleleng akan melakukan pendataan dan inventarisasi persoalan yang dihadapi petani di lapangan.
Organisasi tersebut ingin memperoleh gambaran yang utuh sebelum menyusun program kerja dan langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
Menurut Dokter Caput, persoalan klasik yang hingga kini masih sering dikeluhkan petani adalah ketersediaan pupuk, kepastian harga hasil panen, dan akses pasar.
Ketiga aspek tersebut dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga semangat masyarakat tetap bertani.
"Kita ingin memastikan petani tidak kesulitan pupuk, harga panen layak, dan pasarnya jelas. Kalau hasil panen terjamin terserap dengan harga yang baik, petani akan lebih tenang untuk bertani," katanya.
Ke depan, HKTI Buleleng juga ingin mendorong perubahan paradigma pembangunan pertanian.
Jika selama ini fokus lebih banyak diarahkan pada ketahanan pangan, organisasi tersebut ingin mengangkat target yang lebih tinggi, yakni mewujudkan kedaulatan pangan. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya