Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Belajar Luodian, Seni Tatah Kulit Kerang Tiongkok yang Bertahan 3.000 Tahun

Eka Prasetya • Kamis, 9 Juli 2026 | 09:51 WIB
MEMBUAT KERAJINAN: Jurnalis peserta program CIPCC dari kawasan Asia Pasifik saat mencoba membuat kerajinan tatah kulit kerang atau luodian. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
MEMBUAT KERAJINAN: Jurnalis peserta program CIPCC dari kawasan Asia Pasifik saat mencoba membuat kerajinan tatah kulit kerang atau luodian. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

TAK ada bunyi papan ketik laptop. Tak terdengar pula dering telepon yang biasanya bersahutan mengejar konfirmasi narasumber. 

Jumat (3/7/2026) pagi itu, ruang kelas di Lide Building, Renmin University of China, berubah total. Bukan lagi tempat berdiskusi soal jurnalistik, melainkan menyerupai studio kerajinan tradisional.

Puluhan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik duduk membungkuk di depan meja masing-masing. 

Tatapan mereka tertuju pada sebuah bros mungil, sementara jemari sibuk menjepit serpihan-serpihan kulit kerang menggunakan pinset.

Suasana nyaris hening. Sesekali hanya terdengar bunyi tutup wadah plastik yang dibuka, ujung pinset yang menyentuh logam bros, atau tawa kecil ketika potongan kulit kerang terlepas sebelum berhasil ditempatkan pada pola yang diinginkan.

Di atas meja, botol-botol lem mini, wadah transparan berisi serpihan kulit kerang berwarna-warni, serta alas kerja hijau menjadi "peralatan tempur" kami pagi itu. 

Untuk beberapa jam, profesi sebagai jurnalis seolah ditinggalkan. Kami berganti peran menjadi perajin.

Tak ada lagi yang dikejar selain ketelitian, kesabaran, dan ketekunan.

Kelas tersebut dipandu Emma, seorang perajin yang didampingi penerjemah. Sebelum praktik dimulai, ia mengajak seluruh peserta mengenal salah satu seni kriya tertua di Tiongkok, yakni Luodian, seni tatahan kulit kerang yang telah bertahan lebih dari tiga milenium.

Emma menjelaskan, kerajinan itu telah dikenal sejak awal Dinasti Shang sekitar 3.000 tahun lalu. 

Popularitasnya terus berkembang hingga mencapai masa keemasan pada era Dinasti Tang, lalu semakin kaya teknik dan detail pada masa Dinasti Ming dan Qing.

Sekilas proses pembuatannya tampak sederhana. Namun, ketika mulai dipraktikkan, barulah kami menyadari tingkat kerumitan di balik karya-karya tersebut.

Kulit kerang air tawar maupun kerang laut dipotong menjadi serpihan-serpihan tipis. 

Potongan kecil itu kemudian disusun membentuk bunga, burung, tokoh, motif geometris, hingga aksara sebelum ditanam pada permukaan benda sesuai rancangan yang telah dibuat.

"Sebagai kriya tradisional Tiongkok, simbolisme dan makna dari kerajinan kulit kerang ini utamanya tercermin dalam keberuntungan, kekayaan, panjang umur, dan kegembiraan. Hasil kerajinan tangan kulit kerang tidak hanya memiliki tampilan fisik yang indah, tetapi juga mengandung konotasi budaya yang kaya serta makna yang mendalam," jelas Emma.

Di berbagai wilayah Tiongkok, seni ini berkembang dengan ciri khas masing-masing. Salah satunya teknik pernis kulit kerang dari Jishan, Provinsi Shanxi. Bersama tradisi Luodian, teknik tersebut kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional Tiongkok.

Setelah pengantar sejarah selesai, setiap peserta menerima satu paket perlengkapan sederhana. Isinya pinset, bros berbahan logam berwarna emas, lem, serta beberapa wadah mungil berisi serpihan kulit kerang yang memantulkan warna pelangi saat terkena cahaya.

Setiap peserta memperoleh motif berbeda. Ada yang mendapatkan gambar pegunungan, rumpun bambu, bunga, hingga kupu-kupu. Sementara saya menjadi satu-satunya peserta yang memperoleh motif burung phoenix, simbol keagungan dalam budaya Tiongkok.

Pekerjaan dimulai dengan memecah kulit kerang menjadi serpihan yang lebih kecil. Setelah permukaan bros dilapisi lem, tantangan sebenarnya baru dimulai.

Satu per satu serpihan harus diangkat menggunakan pinset, lalu ditempel mengikuti garis pola sekaligus gradasi warna. Kedengarannya mudah. Faktanya, tidak demikian.

Potongan kulit kerang yang ukurannya bahkan lebih kecil daripada sebutir beras ternyata sulit dikendalikan. Berkali-kali serpihan itu terlepas dari ujung pinset sebelum berhasil menempel pada tempatnya.

Saya pun mengalami hal serupa.

Usia membuat mata saya tak lagi setajam dulu. Melihat detail berukuran sangat kecil membutuhkan usaha ekstra. 

Tak jarang saya harus mendekatkan wajah ke meja hanya untuk memastikan setiap potongan benar-benar mengikuti pola burung phoenix yang sudah digambar.

Namun perlahan, serpihan-serpihan kecil yang semula tampak acak mulai menyatu menjadi sebuah gambar utuh. Sayap, ekor, hingga lekuk tubuh burung phoenix muncul sedikit demi sedikit. Rasa lelah berganti menjadi kepuasan ketika karya itu akhirnya terbentuk.

Setelah seluruh permukaan bros tertutup, lapisan lem kembali dioleskan agar setiap potongan melekat sempurna. Bros kemudian dikeringkan sebelum dimasukkan ke dalam kotak kecil untuk dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.

Dari proses sederhana itu saya akhirnya memahami mengapa Luodian menjadi salah satu seni kriya paling bergengsi dalam sejarah Tiongkok.

Pada masa kekaisaran, karya-karya Luodian menghiasi furniture istana, kotak perhiasan, hingga alat musik. 

Para perajinnya mampu mengikis kulit kerang hingga ketebalan kurang dari setengah milimeter sehingga menghasilkan detail yang menyerupai sapuan kuas pada lukisan. Tak heran bila sebuah karya dapat diselesaikan dalam hitungan bulan, bahkan bertahun-tahun.

Pengalaman itu juga membekas bagi Tsendmaa Bayartogtokh, jurnalis asal Mongolia yang mengikuti kelas tersebut.

"Menyenangkan sekali. Mendapat pengetahuan dan pengalaman baru. Meski sulit, tapi ini akan menjadi kenang-kenangan yang bagus saat saya bawa pulang ke Mongolia,” ujarnya.

Menjelang kelas usai, suasana berubah lebih hangat. Kami saling menunjukkan hasil karya masing-masing. Tak ada satupun bros yang benar-benar sama. Ada yang tersusun sangat rapi, ada pula yang masih menyisakan celah di antara serpihan kulit kerang.

Namun pagi itu, kesempurnaan bukanlah tujuan utama. Yang jauh lebih berharga adalah kesempatan menyentuh langsung warisan budaya Tiongkok berusia ribuan tahun—sebuah pengalaman yang tak mungkin diperoleh hanya dengan membaca buku atau mendengarkan penjelasan di ruang kuliah. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#beijing #tiongkok #china #buleleng