Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Liangma River, Ketika Sungai Menjadi Ruang Hidup di Tengah Pencakar Langit Beijing

Eka Prasetya • Sabtu, 11 Juli 2026 | 08:52 WIB
OASE DI PUSAT KOTA: Suasana di Liangma River. Lokasi ini menjadi salah satu oase bagi warga di pusat Kota Beijing. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
OASE DI PUSAT KOTA: Suasana di Liangma River. Lokasi ini menjadi salah satu oase bagi warga di pusat Kota Beijing. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

ADA satu foto yang terus mengusik pikiran saya selama berada di Beijing.

Foto itu terpajang di salah satu sudut Party School of the Beijing Municipal Committee of the CPC yang saya kunjungi beberapa pekan sebelumnya. 

Bukan foto gedung pencakar langit atau jalan raya yang dipenuhi kendaraan. Melainkan sebuah sungai dengan air sebening kaca, dikelilingi pepohonan rindang dan deretan bangunan modern yang berdiri anggun di kejauhan.

Di tepian sungai, orang-orang tampak menikmati sore tanpa tergesa. Ada yang duduk santai, mengayuh kayak, bercengkrama dengan keluarga, hingga sekadar memandangi aliran air.

Sulit membayangkan pemandangan seperti itu berada di jantung Beijing, kota metropolitan yang dihuni lebih dari 20 juta penduduk.

Rasa penasaran itulah yang akhirnya membawa saya menuju Liangma River pada Rabu (8/7/2026).

Perjalanan dimulai dari Renmin University of China, tempat saya tinggal selama mengikuti program China International Press Communication Center (CIPCC). 

Dari kampus, saya berjalan menuju Stasiun Suzhou Jie, lalu menaiki Beijing Subway sekitar setengah jam hingga turun di Stasiun Liangmaqiao.

Keluar dari stasiun, hanya beberapa menit berjalan kaki, tepian sungai mulai menyambut.

Saat itulah saya memahami mengapa Liangma River dijadikan contoh keberhasilan penataan ruang publik di Beijing.

Sungai itu benar-benar hidup.

Di atas permukaan air yang tenang, perahu kayak dan kano hilir mudik membawa para pengunjung menikmati suasana musim panas. Tawa anak-anak pecah di tepian saat mereka bermain air. Tak jauh dari sana, beberapa warga berenang santai seolah sedang menikmati kolam renang alami di tengah kota.

Di bawah rindangnya pepohonan, sekelompok pria paruh baya duduk melingkar memainkan kartu. Sebagian bertelanjang dada untuk mengusir gerah musim panas. Gelak tawa sesekali pecah ketika salah seorang di antara mereka kalah permainan.

Sementara di sepanjang jalur pedestrian, suasana tak kalah semarak. Pasangan muda, keluarga, hingga wisatawan mancanegara menikmati sore dengan caranya masing-masing. 

Ada yang membaca buku, berbincang, mengabadikan momen lewat kamera, atau sekadar menikmati semilir angin yang berhembus pelan dari permukaan sungai.

Pemandangan itu terasa begitu kontras dengan bayangan saya tentang Beijing yang selama ini identik dengan kemacetan, jalan raya lebar, dan deretan gedung pencakar langit.

Liangma River menghadirkan wajah lain ibu kota Tiongkok.

Di sini, sungai bukan lagi sekadar saluran air yang membelah kota. Ia telah berubah menjadi ruang hidup, tempat masyarakat bertemu, berinteraksi, berolahraga, hingga melepas penat selepas bekerja.

Bagi yang ingin menikmati sungai dari atas air, tersedia penyewaan kayak maupun perahu karet dengan tarif sekitar 100 yuan atau sekitar Rp 250 ribu untuk penggunaan seharian pada hari biasa. Saat akhir pekan, tarif sedikit lebih tinggi karena jumlah pengunjung meningkat drastis.

Sementara bagi mereka yang memilih bersantai, deretan kafe di sepanjang tepian sungai menjadi pilihan menarik. Berbagai minuman, kopi, makanan ringan, hingga bir dingin tersaji untuk menemani sore yang hangat.

Salah satu kafe bahkan memamerkan sebuah mobil sport Porsche di dalam ruangannya. Perpaduan gaya hidup modern dengan panorama sungai itu menghadirkan suasana yang unik sekaligus berkelas.

Saya sempat berbincang dengan seorang pria asal Beijing yang baru selesai berenang.

Selama tiga tahun terakhir, ia hampir rutin datang ke Liangma River setiap musim panas.

"Kalau musim panas, saya sering berenang di sini. Tempatnya nyaman, airnya bersih, dan sekarang jauh lebih ramai dibanding beberapa tahun lalu," tuturnya.

Cerita serupa juga disampaikan Ali, rekan saya di Beijing. Menurutnya, sekitar satu dekade lalu Liangma River belum menjadi destinasi favorit seperti sekarang. 

Penataan kawasan secara besar-besaran mengubah wajah sungai itu menjadi salah satu ruang publik paling populer di Beijing.

Hal yang membuat saya semakin terkesan, seluruh kawasan tersebut dapat dinikmati secara gratis.

Siapa pun bebas berjalan kaki menyusuri pedestrian, duduk di tepian sungai, menikmati matahari terbenam, atau sekadar menghabiskan waktu tanpa harus membeli tiket masuk.

Soal keamanan pun nyaris tak menimbulkan kekhawatiran. Petugas keamanan dan polisi terlihat rutin berpatroli di sepanjang kawasan. 

Kehadiran mereka terasa alami, bukan untuk membatasi aktivitas warga, melainkan memastikan ribuan orang dapat menikmati ruang publik dengan aman dan nyaman.

Sore itu saya akhirnya memahami mengapa Liangma River begitu dicintai warga Beijing.

Bukan semata karena airnya yang jernih atau pemandangannya yang indah.

Melainkan karena kota ini berhasil mengubah sungai yang dahulu biasa saja menjadi ruang bersama yang membuat masyarakat merasa memiliki tempat untuk bernapas di tengah ritme kehidupan metropolitan yang begitu cepat.

Pengalaman itu tanpa sadar membawa pikiran saya pulang ke Bali.

Pulau Dewata memiliki banyak sungai yang membelah kota maupun desa. Namun, sebagian besar masih diperlakukan sebagai halaman belakang, bukan ruang depan yang layak dinikmati masyarakat. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#beijing #tiongkok #sungai #china #buleleng