Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
SETIAP pagi, saya memulai rutinitas yang nyaris sama. Dari Stasiun Suzhou Jie, tak jauh dari Renmin University of China (RUC), tempat saya tinggal selama mengikuti program China International Press Communication Center (CIPCC), kereta bawah tanah membawa saya menuju Stasiun Jintai Xizhao.
Setelah keluar dari stasiun, saya berjalan beberapa ratus meter hingga tiba di gerbang selatan kompleks megah China Media Group (CMG).
Rutinitas itu berlangsung lima hari berturut-turut, mulai Senin (6/7/2026) hingga Jumat (10/7/2026).
Bagi saya, perjalanan tersebut bukan sekadar perjalanan menuju tempat kerja. Di baliknya tersimpan kesempatan langka: merasakan langsung atmosfer kerja China Global Television Network (CGTN), media internasional milik CMG yang menyiarkan program ke puluhan negara.
Seminggu tentu bukan waktu yang panjang. Namun, justru dalam rentang waktu yang singkat itulah saya menemukan satu kenyataan yang selama ini nyaris tak pernah terlihat dari balik layar televisi.
Sebuah program televisi ternyata tidak lahir ketika kamera mulai merekam. Sebaliknya, ia sudah "hidup" jauh sebelum tombol rekam ditekan.
Saya ditempatkan di divisi Culture, tepatnya pada tim Music Culture. Bersama Olivia Hutchinson, jurnalis asal Jamaika yang juga mengikuti program CIPCC, saya bergabung dengan tiga anggota tim CGTN, yakni Lily, Ali, dan Fei.
Penempatan itu membawa ingatan saya melompat satu dekade ke belakang. Tepatnya pada 2016, ketika saya bertugas di desk hiburan dan budaya Jawa Pos Radar Bali. Saat itu, liputan saya tak jauh dari aktivitas sekaa gong, sanggar seni, pelukis, seniman, hingga musisi lokal.
Karena itu, saya sempat membayangkan tim Music Culture CGTN akan menghabiskan sebagian besar waktunya di lokasi konser, studio rekaman, atau proses syuting. Dugaan tersebut ternyata meleset.
Sebaliknya, sebagian besar aktivitas mereka justru berlangsung di ruang rapat.
Di sana mereka menghabiskan waktu berjam-jam menyusun konsep, membaca referensi, mencari narasumber, memperdebatkan sudut pandang, hingga mengoreksi detail terkecil sebelum sebuah program dinyatakan layak diproduksi.
Tidak ada keputusan yang diambil secara spontan.
Ali, mentor saya selama menjalani magang, menjadi contoh nyata bagaimana pola kerja itu dijalankan.
Menariknya, latar belakang pendidikannya bukan jurnalistik maupun komunikasi, melainkan musicology, ilmu yang secara khusus mempelajari musik.
Bekal akademik tersebut membuatnya mampu berdiskusi dengan komposer, musisi, hingga sutradara dalam level yang sangat mendalam. Bukan sekadar bertanya, tetapi benar-benar memahami dunia yang sedang dibahas.
Ia pernah mewawancarai Rob Minkoff, sutradara film The Lion King. Dari ceritanya, saya menyadari bahwa wawancara di media internasional bukan sekadar menyusun daftar pertanyaan.
Jauh lebih penting adalah kemampuan membangun percakapan yang lahir dari pemahaman terhadap bidang yang ditekuni narasumber.
Selama sepekan berada di sana, saya justru lebih banyak berdiskusi daripada melihat proses produksi.
Bersama Ali dan anggota tim lainnya, kami berbincang mengenai perkembangan musik di Indonesia maupun Tiongkok. Mulai dari jazz, pop, R&B, rock, EDM, hingga semakin berkembangnya musik independen di kedua negara.
Sekilas, percakapan itu mungkin tampak sederhana.
Namun, justru dari obrolan-obrolan tersebut saya belajar bahwa memahami budaya merupakan fondasi penting sebelum sebuah cerita diproduksi. Tanpa bekal pengetahuan itu, jurnalis hanya akan menghasilkan liputan yang dangkal.
Sayangnya, masa magang yang hanya berlangsung selama seminggu membuat saya belum sempat mengikuti proses produksi hingga pengambilan gambar. Saya hanya menyaksikan tahapan perencanaan.
Akan tetapi, justru di situlah pelajaran paling berharga saya peroleh.
Di CGTN, satu program bisa dipersiapkan hingga satu bulan sebelum syuting dimulai. Tim menggelar rapat berkali-kali untuk menentukan tema, menyusun alur cerita, memilih narasumber, hingga memastikan setiap detail telah siap sebelum kamera dibawa ke lapangan.
Pandangan itu semakin kuat setelah saya berbincang dengan Cheng Guang, salah seorang jurnalis CGTN.
Ia mengatakan, pekerjaan terbesar seorang jurnalis justru terjadi ketika kamera belum dinyalakan.
"Sekitar 90 persen pekerjaan kami di belakang kamera. Kami berteman dengan siapa saja. Jurnalis, masyarakat umum, profesor, dosen, siapa saja. Mendatangi konferensi, membaca paper, tetap menjaga hubungan, menjaga jejaring. Sehingga kami bisa menjangkau mereka ketika kami memerlukan."
Menurut Cheng, ketika CGTN menyiapkan liputan besar, seperti agenda tahunan Partai Komunis China (CPC) setiap Maret, seluruh persiapan bahkan telah dimulai sedikitnya dua bulan sebelumnya.
Selama periode tersebut, para jurnalis membangun jejaring, memperbarui basis data narasumber, membaca berbagai hasil riset, hingga memetakan siapa sosok yang paling relevan untuk diwawancarai.
"Kami punya database tentang spesialisasi, riset, pengalaman media. Kami bukan lagi news reporter, tapi kami sudah menjadi news maker."
Kalimat terakhir itu terus terngiang di kepala saya saat menaiki kereta bawah tanah menuju asrama pada hari terakhir magang.
Di CGTN, saya menemukan perspektif yang berbeda. Bahwa jurnalisme yang baik bukan semata-mata soal menjadi yang tercepat. Lebih dari itu, ia adalah soal kesiapan, kedalaman pengetahuan, dan kesungguhan mempersiapkan setiap cerita—bahkan ketika kamera masih tersimpan rapi di dalam tas. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya