Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Jejak dari Tibet: Desa Kecil yang Kaya Berkat Menjaga Alam, Bukan Menebangnya

Eka Prasetya • Jumat, 17 Juli 2026 | 22:51 WIB
MENJAGA DESA: Para jurnalis peserta program  CIPCC saat berkunjung ke Desa Gala di Kota Lingzhi, Tibet. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
MENJAGA DESA: Para jurnalis peserta program CIPCC saat berkunjung ke Desa Gala di Kota Lingzhi, Tibet. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

BEGITU melangkah keluar dari ruang kedatangan Bandara Nyingchi Mainling, Kota Linzhi, Provinsi Xizang, sehelai kain putih lembut langsung disampirkan ke leher kami. 

Senyuman hangat warga Tibet menyambut rombongan jurnalis peserta China International Press Communication Centre (CIPCC) yang baru menempuh penerbangan sekitar empat jam dari Beijing.

Kain itu bernama khada, simbol penghormatan yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Tibet. Bagi mereka, khada bukan sekadar kain. Khada menyimpan doa, ketulusan, harapan akan keberuntungan, sekaligus ungkapan niat baik bagi setiap tamu yang datang.

Sambutan sederhana itu menjadi kesan pertama sebelum kami menyaksikan wajah lain Tibet. Bukan tentang pegunungan bersalju atau biara-biara tua yang selama ini melekat dalam imajinasi banyak orang, melainkan sebuah desa kecil yang berhasil mengubah bentang alam menjadi mesin penggerak ekonomi.

Udara Linzhi terasa jauh lebih sejuk dibandingkan Beijing. Kota di bagian timur Provinsi Xizang itu dikelilingi pegunungan hijau yang memanjakan mata. Setelah beristirahat sejenak, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Gala, sekitar 13 kilometer dari pusat Kota Linzhi.

Sekilas, Gala tak berbeda dengan desa pegunungan lainnya. Jumlah penduduknya sangat sedikit, bahkan lebih sedikit dari desa kecil yang ada di Bali. Desa hanya memiliki penduduk sebanyak 151 jiwa yang terbagi dalam 33 kepala keluarga. Mayoritas hidup dari pertanian, peternakan, dan usaha yang berkaitan dengan sektor pariwisata.

Desa itu memiliki sekitar 39,33 hektare lahan pertanian serta lebih dari 679 hektare padang rumput untuk menggembalakan ternak. Di balik ukurannya yang kecil, Gala menyimpan kisah transformasi ekonomi yang membuatnya dikenal hingga mancanegara.

Setiap musim semi, ribuan pohon persik bermekaran hampir bersamaan. Seluruh lembah berubah menjadi hamparan bunga merah muda yang membentang sejauh mata memandang. Pemandangan inilah yang melahirkan Peach Blossom Festival, festival bunga persik yang kini menjadi ikon wisata Linzhi.

Tahun ini festival tersebut memasuki penyelenggaraan ke-22. Dampaknya tidak main-main. Sepanjang tahun lalu, sekitar 120 ribu wisatawan datang berkunjung ke Desa Gala. Arus wisata itu mendongkrak pendapatan masyarakat hingga rata-rata mencapai 44.300 yuan per kapita setiap tahun.

Kepala Desa Gala, Nimaduoji, mengatakan perubahan tersebut bukan hasil yang diraih dalam waktu singkat. Dulu, kata dia, warga hidup terpencar di lereng-lereng pegunungan dalam kelompok kecil yang hanya dihuni tiga hingga tujuh keluarga. Baru pada 1962 seluruh penduduk dipindahkan ke lokasi desa yang sekarang.

"Waktu itu hanya ada 23 kepala keluarga. Sekarang menjadi 33 kepala keluarga," ujarnya.

Puluhan tahun silam, kehidupan warga bergantung pada hasil hutan. Mereka menebang kayu, mengumpulkan hasil hutan, serta menjual buah persik liar yang tumbuh alami di kawasan tersebut. Meski terkenal manis, harga buah persik saat itu sangat murah. Satu keranjang hanya dihargai sekitar 13 hingga 14 yuan, atau setara sekitar Rp 35 ribu.

Titik balik datang ketika masyarakat memilih jalan yang berbeda. Mereka menghentikan eksploitasi kawasan pegunungan dan mulai menjaga ekosistem yang selama ini menjadi sumber kehidupan. 

Alih-alih menebang hutan, warga justru menjadikannya kawasan ekowisata. Keputusan tersebut melahirkan Peach Blossom Spring Scenic Area, destinasi wisata yang kini menjadi tulang punggung perekonomian desa.

"Berkat upaya generasi terdahulu menjaga lingkungan, kawasan konservasi berkembang menjadi destinasi wisata berbasis ekologi. Pelestarian lingkungan akhirnya berubah menjadi sumber kesejahteraan masyarakat," tutur Nimaduoji.

Kini sumber penghasilan warga jauh lebih beragam. Selain bertani dan beternak, mereka memperoleh pendapatan dari homestay, jasa transportasi wisata, hingga berbagai atraksi budaya khas Tibet.

Wisatawan dapat menunggang kuda maupun yak, mencoba memanah menggunakan whistling arrow, hingga mengangkat batu tradisional yang sejak lama menjadi simbol kekuatan dalam budaya Tibet.

Bagi Nimaduoji, seluruh pengalaman itu bukan sekadar hiburan bagi wisatawan. "Bagi kami, budaya dan sejarah merupakan buku pelajaran terbaik yang harus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang," katanya.

Transformasi ekonomi itu juga membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Jika dahulu sebagian besar penghasilan hanya cukup memenuhi kebutuhan pokok, kini keluarga-keluarga di Gala mulai menikmati kualitas hidup yang jauh lebih baik.

Anak-anak dapat mengenyam pendidikan tanpa harus membantu orang tua mencari nafkah. Akses layanan kesehatan semakin mudah. Bahkan, air bersih kini telah mengalir ke setiap rumah sehingga warga tak lagi memikul air dari mata air pegunungan.

Perkembangan Desa Gala turut menarik perhatian Presiden China, Xi Jinping. Pada 21 Juli 2021, Xi berkunjung langsung ke desa tersebut untuk melihat perubahan yang terjadi.

Dalam kunjungan itu, ia meninjau pusat pelayanan publik, supermarket desa, klinik kesehatan, hingga rumah-rumah warga. 

Pada tahun yang sama, pemerintah China juga memberikan bantuan dana tunai kepada masyarakat. Dana tersebut dibagikan secara merata kepada seluruh keluarga di Desa Gala.

Masing-masing keluarga menerima sekitar 90 ribu yuan, atau setara sekitar Rp 234 juta, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Dari sebuah desa kecil di kaki pegunungan Xizang, Gala menunjukkan bahwa menjaga alam tidak selalu berarti mengorbankan ekonomi. Justru sebaliknya, ketika alam dirawat, kesejahteraan dapat tumbuh bersama. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
beijing tibet tiongkok china buleleng