Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Dari Kaki Himalaya, Mencari Titik Temu Pariwisata, Ekonomi, dan Kelestarian Alam

Eka Prasetya • Minggu, 19 Juli 2026 | 01:38 WIB
BICARA HIMALAYA: The 5th China Xizang Trans-Himalaya Forum for International Cooperation di Kota Linzhi, Provinsi Xizang (Tibet), Tiongkok, Jumat (17/7/2026). (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
BICARA HIMALAYA: The 5th China Xizang Trans-Himalaya Forum for International Cooperation di Kota Linzhi, Provinsi Xizang (Tibet), Tiongkok, Jumat (17/7/2026). (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

JAS hitam, kemeja putih, dan dasi menjadi perlengkapan pertama yang saya siapkan pagi itu. Bukan untuk menghadiri pertemuan kenegaraan, melainkan meliput The 5th China Xizang Trans-Himalaya Forum for International Cooperation di Kota Linzhi, Provinsi Xizang (Tibet), Tiongkok, Jumat (17/7/2026).

Seperti konferensi internasional lain yang saya ikuti selama mengikuti program China International Press Communication Center (CIPCC), berpakaian formal merupakan bagian dari etika yang harus dipatuhi seluruh peserta. 

Bedanya, kali ini saya tak perlu tergesa-gesa mengejar bus. Hotel tempat kami menginap hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki dari lokasi acara.

Udara pagi Linzhi masih terasa menggigit. Kabut tipis menyelimuti jalanan ketika satu per satu delegasi mulai memasuki Hotel Hilton Linzhi. Dari kejauhan terdengar sapaan dalam berbagai bahasa. Diplomat, akademisi, pelaku usaha, peneliti, hingga pemerhati perubahan iklim datang dari beragam negara dengan satu tujuan yang sama: membicarakan masa depan kawasan Himalaya.

Linzhi memang bukan dipilih secara kebetulan. Kota yang kerap dijuluki "Swiss-nya Tibet" itu berdiri di kaki Pegunungan Himalaya, salah satu bentang alam paling strategis di dunia. 

Selain dikenal sebagai "menara air Asia" karena menyimpan cadangan air tawar terbesar setelah kawasan kutub, Himalaya juga menjadi sumber kehidupan bagi ratusan juta penduduk di berbagai negara.

Begitu memasuki ruang konferensi, suasana internasional langsung terasa. Layar LED raksasa berwarna biru memenuhi panggung utama. Di atasnya terpampang logo Trans-Himalaya Forum, sementara deretan bendera negara peserta berjajar di sisi ruangan, menjadi simbol bahwa persoalan yang dibahas jauh melampaui kepentingan satu negara.

Delegasi dari Nepal, Pakistan, Bhutan, Myanmar, Sri Lanka, hingga berbagai organisasi internasional duduk dalam satu ruangan. 

Mereka datang membawa perspektif masing-masing, tetapi memiliki pertanyaan yang sama: bagaimana menjaga kawasan Himalaya tetap lestari tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi masyarakat yang bergantung padanya.

Bagi saya, forum ini menghadirkan nuansa yang berbeda dibanding berbagai konferensi yang sebelumnya saya ikuti di Tiongkok. 

Jika sebagian besar forum berbicara tentang investasi, teknologi, atau perdagangan, diskusi di Linzhi justru membawa perhatian pada sesuatu yang lebih mendasar, yakni hubungan manusia dengan alam.

Forum dibuka oleh Sekretaris Komite Partai Wilayah Otonom Xizang, Wang Junzheng. Dalam pidatonya, ia menggambarkan arah pembangunan Tibet yang dibangun di atas dua fondasi yang saling menguatkan, yakni pertumbuhan ekonomi dan perlindungan ekologi.

Menurut Wang, peningkatan kesejahteraan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, hingga pembangunan kawasan perbatasan memang menjadi prioritas pemerintah. Namun, seluruh agenda tersebut, katanya, tidak boleh mengorbankan kelestarian lingkungan.

Ia menegaskan, Tibet masih mempertahankan konservasi ekologi sebagai fondasi pembangunan. Di tengah ancaman perubahan iklim dan meningkatnya tekanan terhadap sumber daya alam, pembangunan hijau dipilih sebagai strategi jangka panjang.

"Pembangunan ekonomi harus berjalan harmonis dengan perlindungan lingkungan. Kami berpegang pada filosofi pembangunan yang berpusat pada rakyat sekaligus menjaga kelestarian alam," ujarnya.

Wang juga mengungkapkan bahwa pendapatan masyarakat Tibet dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat dengan rata-rata pertumbuhan antara 7,4 hingga 9,7 persen setiap tahun. Menurutnya, capaian tersebut berjalan beriringan dengan stabilitas sosial, persatuan antar etnis, dan peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan.

Pandangan lain datang dari Managing Director and Chair of Greater China World Economic Forum, Neo Gim Huay. Ia mengajak peserta melihat pariwisata dari sudut pandang yang lebih luas.

Baginya, keberhasilan sebuah destinasi tidak lagi diukur dari banyaknya wisatawan atau besarnya nilai investasi. Yang lebih penting adalah sejauh mana masyarakat lokal memperoleh manfaat ekonomi tanpa kehilangan budaya, identitas, dan kualitas lingkungan yang menjadi daya tarik utama.

Neo menilai masyarakat harus ditempatkan sebagai aktor utama dalam pembangunan pariwisata. Gunung, sungai, hutan, sejarah, musik, hingga tradisi lokal bukan sekadar aset ekonomi, melainkan warisan yang harus dijaga agar tetap hidup untuk generasi berikutnya.

"Pariwisata bukan hanya tentang mengunjungi suatu destinasi. Ini adalah pengalaman untuk menemukan alam, budaya, sejarah, sekaligus membangun hubungan antar manusia," katanya.

Karena itu, ia mendorong pemanfaatan teknologi, data, dan infrastruktur cerdas untuk mengelola destinasi wisata secara berkelanjutan. Namun, menurutnya, inovasi tidak boleh menggantikan peran masyarakat. Sebaliknya, teknologi harus menjadi alat untuk memperkuat pelaku usaha lokal, memperkenalkan produk daerah, sekaligus menjaga identitas budaya.

Dari kaki Pegunungan Himalaya, saya menangkap sebuah pesan sederhana namun relevan bagi banyak negara, termasuk Indonesia: kemajuan tidak selalu harus dibayar dengan hilangnya alam. Justru, masa depan yang berkelanjutan lahir ketika pembangunan mampu tumbuh bersama lingkungan yang tetap terjaga. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
beijing himalaya tiongkok china buleleng