Belajar dari Tibet: Rumah Sakit Modern Menjaga Ilmu Pengobatan Tradisional

Eka Prasetya • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 23:54 WIB
TERAPI TRADISIONAL: Jurnalis asal Malaysia, Siti Zanariah Binti Nor Zin mencoba terapi tradisional ala Tibet di Nyingchi Tibetan Hospital, Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
TERAPI TRADISIONAL: Jurnalis asal Malaysia, Siti Zanariah Binti Nor Zin mencoba terapi tradisional ala Tibet di Nyingchi Tibetan Hospital, Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

BANGUNAN Nyingchi Tibetan Hospital di Kota Linzhi, Provinsi Xizang (Tibet), Tiongkok, berdiri megah. 

Sekilas, rumah sakit itu tak berbeda dengan fasilitas kesehatan modern lainnya. Namun, di balik gedung yang serba modern tersebut tersimpan sebuah warisan berusia ribuan tahun yang hingga kini tetap hidup, yakni pengobatan tradisional Tibet.

Di tempat ini, kemajuan teknologi medis tidak menggeser tradisi. Sebaliknya, keduanya berjalan berdampingan. Pasien bisa memperoleh layanan kedokteran modern, tetapi juga mendapatkan terapi tradisional yang diwariskan turun-temurun selama berabad-abad.

Pengalaman itu saya rasakan ketika bersama jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik mengunjungi rumah sakit tersebut dalam rangkaian The 5th Trans-Himalayan Forum for International Cooperation, Sabtu (18/7/2026).

Memasuki lantai dua rumah sakit, suasana langsung berubah seperti museum ilmu kedokteran. 

Di sana dipamerkan ratusan koleksi tanaman herbal, mineral, hingga bahan-bahan alami yang sejak lama menjadi fondasi pengobatan tradisional Tibet.

Akar, batang, daun, bunga, hingga bebatuan berkhasiat tertata rapi di dalam etalase kaca. Setiap koleksi dilengkapi penjelasan mengenai fungsi dan manfaatnya dalam menyembuhkan berbagai penyakit berdasarkan filosofi pengobatan Tibet.

Namun, perhatian saya justru tertuju pada sebuah manuskrip kuno yang dipajang di salah satu sudut ruangan. Namanya Gyud-zhi.

Naskah inilah yang selama ribuan tahun menjadi pegangan utama para tabib Tibet. Bisa dibilang, Gyud-zhi merupakan kitab induk pengobatan tradisional Tibet yang menjadi fondasi dalam memahami anatomi tubuh, penyebab penyakit, hingga metode penyembuhannya.

Gyud-zhi terdiri atas empat bagian utama. Yakni Tsagyu yang membahas prinsip dasar ilmu kedokteran, keseimbangan energi tubuh, serta teknik diagnosis melalui denyut nadi dan pengamatan lidah. Bagian berikutnya, Shegyu yang mengulas anatomi, embriologi, psikologi, hingga fungsi organ tubuh.

Selanjutnya ada Managagyu dengan panduan praktis menangani berbagai penyakit dengan pendekatan pengobatan Tibet. Terakhir Chimagyu yang membahas farmakologi secara rinci, mulai dari formulasi ramuan herbal hingga teknik pembuatan obat tradisional.

Nilai sejarah, budaya, dan ilmu pengetahuan yang terkandung di dalamnya membuat Gyud-zhi mendapat pengakuan dunia. 

Pada 2023, manuskrip kuno tersebut resmi masuk dalam daftar Memory of the World UNESCO, sebagai salah satu warisan dokumenter paling penting di dunia.

Namun, rumah sakit ini tidak sekadar menyimpan sejarah. Ilmu yang tertulis dalam Gyud-zhi masih dipraktikkan hingga sekarang.

Para peserta CIPCC pun diberi kesempatan merasakan langsung berbagai terapi khas Tibet yang masih menjadi bagian dari pelayanan rumah sakit.

Jurnalis asal Malaysia, Siti Zanariah Binti Nor Zin, menjadi salah satu peserta yang mencobanya. Sejak tiba di Tibet, ia mengaku mengalami sakit kepala yang diduga dipicu altitude sickness akibat berada di dataran tinggi Xizang.

Ia memilih menjalani terapi pijat kepala. Selama terapi berlangsung, beberapa kali Zana bersendawa. Terapis menjelaskan, hal tersebut merupakan proses keluarnya "angin" dari dalam tubuh menurut konsep pengobatan tradisional Tibet.

"Ini pertama kalinya saya mencoba pengobatan tradisional Tibet. Kebetulan saya mengalami sakit kepala selama dua sampai tiga hari terakhir, mungkin karena altitude sickness. Tadi juga angin keluar semua, jadi sekarang rasanya lebih enak," ujarnya.

Pengalaman lain datang dari jurnalis Filipina, Janelle Pusta Lorzano.

Ia memilih terapi bekam khas Tibet. Sebelum proses bekam dilakukan, punggungnya terlebih dahulu diolesi ramuan herbal. 

Setelah terapi selesai, praktisi kesehatan mengingatkan agar ia tidak langsung mandi karena pori-pori dan pembuluh darah masih berada dalam kondisi terbuka sehingga tubuh memerlukan waktu untuk beradaptasi kembali.

"Bagi saya rasanya luar biasa. Tubuh saya terasa jauh lebih segar," katanya.

Di tengah kunjungan itu, pikiran saya justru melayang jauh ke Bali.

Saya teringat lontar usadha, warisan intelektual leluhur Bali yang juga memuat pengetahuan tentang pengobatan tradisional berbasis tanaman, rempah, dan filosofi keseimbangan tubuh. 

Bedanya, di Tibet pengetahuan kuno itu tetap dirawat, dikembangkan, bahkan menjadi bagian dari sistem pelayanan kesehatan modern. Sementara di Bali, usadha perlahan semakin jarang dibicarakan. 

Pengetahuan yang diwariskan melalui lembaran-lembaran lontar itu seakan hanya menjadi peninggalan budaya, bukan lagi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Padahal, seperti yang saya saksikan di Nyingchi Tibetan Hospital, pengobatan tradisional tidak harus dipertentangkan dengan kedokteran modern. Keduanya justru dapat berjalan berdampingan, saling melengkapi, sekaligus menjaga agar warisan leluhur tidak hilang ditelan zaman. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
beijing tibet tiongkok china buleleng