Mengunjungi Pelabuhan Peti Kemas di Tiongkok. Tanpa Pengemudi, Tanpa Operator Crane

Eka Prasetya • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 20:03 WIB
TANPA AWAK: Suasana di Pelabuhan Teluk Beibu yang terletak di Provinsi Guangxi, Tiongkok. Crane dan truk di pelabuhan tersebut digerakkan dengan sistem otomatis tanpa awak. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
TANPA AWAK: Suasana di Pelabuhan Teluk Beibu yang terletak di Provinsi Guangxi, Tiongkok. Crane dan truk di pelabuhan tersebut digerakkan dengan sistem otomatis tanpa awak. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

SUNYI. Itulah kesan pertama yang saya rasakan saat berdiri di bibir Pelabuhan Teluk Beibu, Kota Qinzhou, Provinsi Guangxi, Tiongkok.

Tak terdengar teriakan mandor yang mengatur bongkar muat. Tak ada deru truk kontainer yang saling bersahutan. Bahkan, operator crane yang biasanya bertengger di kabin derek raksasa pun tak terlihat.

Padahal, di hadapan saya, ratusan peti kemas terus berpindah dari kapal ke daratan. Aktivitas pelabuhan berjalan seperti biasa. Nyaris tanpa campur tangan manusia.

Pemandangan itulah yang menyambut rombongan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik saat mengunjungi Smart Port Innovation Center di Pelabuhan Teluk Beibu beberapa waktu lalu.

Dari ruang observasi yang menghadap langsung ke terminal kontainer, kami menyaksikan sebuah orkestrasi teknologi yang bekerja nyaris sempurna. 

Crane raksasa bergerak sendiri, kendaraan pengangkut kontainer melaju tanpa sopir, sementara seluruh aktivitas dikendalikan oleh sistem digital dari balik layar komputer.

"Semua peralatan berwarna biru yang terlihat di terminal ini merupakan sistem yang sepenuhnya otomatis," jelas Tian Qiyu, penerjemah sekaligus perwakilan Guangxi Qinzhou Free Trade Port Area Honggang Terminal Co., Ltd.

Saya kemudian mengalihkan pandangan ke bawah gedung observasi. Dua kendaraan pintar tanpa pengemudi melintas beriringan membawa peti kemas. Jalurnya berdekatan, tetapi keduanya bergerak presisi. Tak saling bersenggolan, apalagi bertabrakan.

Yang lebih mengejutkan, tidak ada seorang pun yang mengendalikan kendaraan itu dari dalam kabin.

Pelabuhan Teluk Beibu ternyata menyimpan dua wajah yang berbeda. Di satu sisi, crane dan peralatan berwarna oranye masih beroperasi secara konvensional. Sopir tetap mengemudikan truk, sementara operator mengendalikan crane dari kabinnya.

Namun, hanya dipisahkan beberapa ratus meter, dunia yang sama sekali berbeda sudah hadir.

Seluruh peralatan berwarna biru bekerja secara otomatis. Truk berjalan sendiri mengikuti jalur digital. Crane mengangkat dan menurunkan peti kemas tanpa operator. Peran manusia kini lebih banyak berada di balik layar.

Menurut Tian, seluruh sistem dikendalikan oleh sebuah Operating System yang berfungsi layaknya otak pelabuhan.

Sistem tersebut mengumpulkan jutaan data operasional setiap hari, menganalisis kebutuhan pekerjaan, lalu mengirimkan instruksi secara otomatis kepada seluruh alat yang terhubung.

Akibatnya, manusia tak lagi menjadi pelaku utama di lapangan. Operator cukup mengawasi dari ruang kendali yang berada sekitar satu kilometer dari dermaga. Mereka baru turun tangan ketika sistem mendeteksi kondisi yang membutuhkan intervensi manusia.

Teknologi itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa Pelabuhan Teluk Beibu berkembang sangat cepat.

Terminal Kontainer Otomatis Qinzhou kini memiliki kapasitas desain mencapai 2,6 juta TEU per tahun. Sepanjang 2025, empat dermaga otomatis di kawasan itu berhasil menangani sekitar 2,205 juta TEU.

Secara keseluruhan, Pelabuhan Teluk Beibu membukukan throughput cargo mencapai 358 juta ton pada 2025. Angka tersebut menempatkannya sebagai pelabuhan pesisir terbesar kesembilan di Tiongkok. 

Sementara volume peti kemasnya telah menembus 10 juta TEU, atau peringkat kedelapan secara nasional.

Pelabuhan Teluk Beibu sesungguhnya bukan hanya satu pelabuhan. Kawasan ini merupakan jaringan tiga pelabuhan besar yang saling melengkapi.

Qinzhou menjadi pusat kontainer sekaligus industri manufaktur, elektronik, tekstil, energi, dan petrokimia.

Fangchenggang berfungsi sebagai pintu masuk bahan baku industri berat seperti batu bara, bijih besi, hingga bauksit untuk memasok kawasan barat daya Tiongkok.

Sementara Beihai berkembang sebagai pelabuhan perdagangan regional, industri energi baru, bahan baku kertas, hingga pariwisata kapal pesiar.

Di balik seluruh aktivitas tersebut berdiri Smart Port Innovation Center, laboratorium raksasa tempat berbagai teknologi pelabuhan masa depan dikembangkan.

Di sinilah kecerdasan buatan (AI), jaringan 5G, big data, Internet of Things (IoT), hingga otomasi alat berat dirancang, diuji, lalu diterapkan ke lapangan.

Salah satu inovasi yang paling menarik perhatian adalah penyatuan sistem logistik kereta api dengan pelabuhan.

Sebelum Juni 2023, kawasan stasiun logistik dan terminal pelabuhan dipisahkan oleh sistem pengawasan berbeda. Akibatnya, perpindahan barang memerlukan prosedur tambahan yang menyita waktu.

Kini, pagar pembatas dihilangkan. Sistem pengawasannya disatukan. Hasilnya, proses perpindahan kontainer dari kereta menuju kapal maupun sebaliknya menjadi jauh lebih cepat.

"Dari sisi waktu saat ini lebih efisien sekitar 15 persen," ungkap Tian.

Efisiensi itu bukan sekadar soal memangkas waktu bongkar muat. Pelabuhan Teluk Beibu sedang dipersiapkan menjadi simpul utama koridor perdagangan baru Tiongkok melalui pembangunan Terusan Pinglu, kanal raksasa yang menghubungkan wilayah pedalaman Guangxi langsung ke Laut China Selatan.

Ketika proyek tersebut rampung, jalur distribusi dari kawasan barat dan barat laut Tiongkok menuju laut akan jauh lebih singkat.

Artinya, barang dari negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, dapat bergerak lebih cepat menuju kawasan industri di pedalaman Tiongkok tanpa harus memutar melalui jalur logistik yang lebih panjang seperti saat ini.

Di tengah derasnya gelombang digitalisasi dunia, kunjungan ke Smart Port Innovation Center mengubah cara saya memandang sebuah pelabuhan.

Pelabuhan ternyata bukan lagi sekadar deretan crane, kapal raksasa, atau tumpukan kontainer.

Di Tiongkok, ada algoritma yang terus bekerja, kecerdasan buatan yang mengambil keputusan dalam hitungan detik, serta ruang kendali yang mengatur ribuan pergerakan barang tanpa banyak campur tangan manusia.

Saya pun membayangkan, bagaimana jika teknologi serupa suatu hari diterapkan di pelabuhan-pelabuhan Indonesia, termasuk di Bali. Bukan tentang kemegahan teknologi, tetapi mempercepat logistik, memangkas biaya distribusi, dan meningkatkan daya saing ekonomi nasional di tengah persaingan perdagangan global yang semakin ketat. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : pelabuhan
beijing tiongkok china buleleng