Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
TRUK kontainer itu meluncur pelan menuju gerbang pemeriksaan. Tak ada tangan yang menggenggam setir. Tak ada sopir yang menginjak pedal gas maupun rem.
Mesin tetap berdengung halus. Kendaraan berwarna putih tersebut bergerak mengikuti jalurnya dengan presisi.
Sesaat sebelum memasuki pos pemeriksaan, truk berhenti sendiri. Sensor mendeteksi ada objek di depannya. Beberapa detik kemudian, setelah lintasan dinyatakan aman, kendaraan kembali melaju.
Tak lama berselang, truk itu mundur perlahan menuju area bongkar muat. Manuvernya nyaris sempurna. Kontainer berhenti tepat di titik yang telah ditentukan. Semua berlangsung otomatis, tanpa bantuan sopir ataupun kernet.
Pemandangan seperti itu bukan lagi cuplikan film fiksi ilmiah.
Di kawasan perbatasan Pingxiang, Kota Chongzuo, Provinsi Guangxi, Tiongkok, kendaraan tanpa awak telah menjadi bagian dari rutinitas perdagangan lintas negara.
Belum lama ini, rombongan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik berkesempatan mengunjungi Pingxiang Integrated Free Trade Zone Declaration Centre, salah satu simpul perdagangan paling sibuk yang menghubungkan Tiongkok dengan Vietnam.
Sejak pagi hingga petang, kawasan itu nyaris tak pernah sepi. Ribuan truk keluar-masuk membawa berbagai komoditas menuju dua negara.
Posisinya memang sangat strategis. Pingxiang menjadi pintu utama jalur darat yang menghubungkan Nanning, ibu kota Provinsi Guangxi, dengan Hanoi, ibu kota Vietnam. Dari perbatasan, Hanoi hanya berjarak sekitar 160 kilometer, sedangkan Nanning sekitar 200 kilometer.
Kawasan kepabeanan seluas 1,1 kilometer persegi yang dibangun pada 2009 tersebut kini berkembang menjadi salah satu gerbang perdagangan darat terpenting antara Tiongkok dan negara-negara ASEAN.
Setiap hari, arus logistik terus mengalir tanpa jeda.
Durian, buah naga, hingga mangga dari Asia Tenggara memasuki pasar Tiongkok melalui jalur ini.
Sebaliknya, jeruk menjadi salah satu komoditas utama yang dikirim dari Tiongkok menuju berbagai negara ASEAN.
Tak jauh dari kawasan perbatasan berdiri pusat perdagangan buah Tiongkok-ASEAN. Ribuan ton buah segar dipilah, disimpan, lalu didistribusikan setiap hari dari tempat tersebut.
"Tahun lalu rata-rata kendaraan yang melintas sekitar 1.600 unit per hari. Padahal kapasitas clearance sebenarnya hanya sekitar 800 kendaraan per hari," ungkap Deng Junrong, Head of Engineering Project Department Xiangfa Company.
Menurut Deng, lonjakan aktivitas perdagangan terus terjadi dari tahun ke tahun. Bahkan, pada 9 Juni lalu tercatat sebanyak 1.422 kendaraan memasuki Tiongkok dari Vietnam, sementara 1.258 kendaraan bergerak ke arah sebaliknya.
Volume perdagangan yang terus meningkat membuat pemerintah setempat membangun terminal baru yang ditargetkan mampu beroperasi selama 24 jam penuh.
Namun, perhatian kami justru tertuju pada kendaraan yang hilir mudik tanpa pengemudi.
Truk tanpa pengemudi produksi Sany Automobile menjadi ikon baru transformasi logistik di kawasan tersebut.
Perusahaan Sany selama ini dikenal sebagai produsen alat berat seperti excavator dan crane. Kini mereka merambah teknologi kendaraan logistik tanpa awak untuk mendukung semakin padatnya arus perdagangan lintas batas.
Saat mode otomatis diaktifkan, kendaraan mampu bergerak sendiri menuju gerbang pemeriksaan maupun lokasi bongkar muat.
Sistem keselamatannya pun bekerja sangat ketat. Begitu sensor mendeteksi kendaraan atau objek lain dalam radius sekitar 15 meter, truk akan berhenti secara otomatis.
Ketika memasuki area pemeriksaan yang sempit, kendaraan dibantu 12 sensor untuk memastikan seluruh manuver berlangsung aman.
Kesempatan mencoba langsung kendaraan masa depan itu pun diberikan kepada beberapa peserta CIPCC.
Salah satunya Beberg Arif, jurnalis asal Pakistan. "Di dalam ada kamera 360 derajat. Ini pengalaman yang aneh sekaligus menyenangkan," katanya.
Awalnya, ia mengaku sempat merasa cemas ketika kendaraan mulai bergerak tanpa sopir. Namun rasa khawatir itu perlahan menghilang setelah melihat sistem keselamatan bekerja sesuai fungsinya.
"Saya lihat langsung ketika ada kendaraan yang terlalu dekat, kendaraan otomatis berhenti dan menunggu jarak aman. Baru setelah itu bergerak lagi. Biasanya berkendara tanpa pengemudi ada perasaan khawatir, tapi ini tidak," ujarnya.
Di balik sibuknya lalu lintas kendaraan, Pingxiang sesungguhnya sedang membangun wajah baru perdagangan lintas negara.
Teknologi kendaraan tanpa pengemudi, sistem kepabeanan pintar, serta digitalisasi logistik menjadi fondasi yang mempercepat arus barang antara Tiongkok dan Asia Tenggara.
Hasilnya terlihat nyata. Waktu pemeriksaan menjadi lebih singkat. Distribusi logistik berlangsung lebih efisien. Volume perdagangan pun terus meningkat dari tahun ke tahun. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng