Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Konflik di Desa Sudaji Berakhir Happy Ending. Kepala Desa Minta Maaf, Warga Siap Saling Rangkul

Eka Prasetya
Penulis: Eka Prasetya❯

 

DAMAI: Suasana paruman agung di Pura Desa Adat Sudaji, Jumat (14/3/2025).
DAMAI: Suasana paruman agung di Pura Desa Adat Sudaji, Jumat (14/3/2025).

SAWAN, RadarBuleleng.id - Konflik antara masyarakat adat di Dadia Agung Pasek Gelgel Jero Sudaji dengan perbekel atau kepala desa di Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, berakhir happy ending.


Advertisement

Perbekel Sudaji, I Made Ngurah Fajar Kurniawan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Warga pun siap saling rangkul, sepanjang masalah serupa tidak terulang lagi.

Kesepakatan damai itu berhasil dicapai lewat forum paruman agung yang berlangsung di Pura Desa Adat Sudaji, Jumat (14/3/2025).

Paruman itu dihadiri oleh krama di Desa Adat Sudaji. Forum juga dihadiri unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan di Kecamatan Sawan, serta Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Sawan.

Advertisement

Dalam forum itu, Perbekel Sudaji, I Made Ngurah Fajar Kurniawan menyatakan meminta maaf kepada semua pihak di Desa Adat Sudaji.

“Kami tidak bermaksud mengintimidasi atau memberikan tekanan bahkan paksaan kepada masyarakat kami di Desa Sudaji,” ujarnya.

Selain itu dia juga memohon maaf kepada semua pihak, khususnya kepada prajuru di Desa Adat Sudaji atas kegaduhan yang terjadi.

Advertisement

Fajar mengaku hanya ingin mengayomi dan memfasilitasi aspirasi masyarakat. Sebagaimana diatur dalam forum Sipandu Beradat.

“Kami sampaikan permohonan maaf dari lubuk hati terdalam dan tulus. Kami tidak ada bermaksud tidak baik sebagaimana dituduhkan kepada kami. Mungkin ini merupakan kesalahpahaman,” ujarnya. 

Ia berharap agar masalah yang terjadi bisa diselesaikan bersama dengan penuh kekeluargaan.

“Masih ada waktu saling memaafkan karena yang kita harapkan adalah persatuan,” tegasnya.

Sementara itu, Kelian Dadia Agung Pasek Gelgel Jero Sudaji, Gede Suharsana mengatakan, dengan permintaan maaf tersebut maka konflik yang terjadi sudah dianggap selesai.

“Bagi kami di dadia, karena sudah minta maaf secara lisan, tulisan, dan niskala, jadi ya sudah,” ujarnya.

Suharsana konflik yang terjadi tempo hari merupakan puncak dari kegelisahan warga. Ditambah lagi ada pihak yang menghina pasemetonan dadia. Sehingga warga akhirnya melakukan aksi.

“Kami berharap kedepan ini desa tetap aman, tertib, dan komunikasi ada,” demikian Gede Suharsana.

Khusus terkait laporan hukum, Gede Suharsana menyatakan menyerahkan masalah tersebut kepada penegak hukum. Menurutnya, laporan itu merupakan bagian dari aspirasi krama.

"Itu permintaan masyarakat, dan silahkan ditindaklanjuti. Terkait benar atau tidak, itu bukan kami yang menentukan. Silahkan nanti aparat penegak hukum punya kewenangan," tegasnya.

Asal tahu saja, ratusan warga dari Dadia Jero Sudaji sempat melakukan aksi massa ke Kantor Perbekel Sudaji pada Kamis (6/3/2025) lalu.

Saat itu mereka menuntut Perbekel Sudaji, Fajar Kurniawan, mundur dari jabatannya. Mereka menilai perbekel terlalu melakukan intervensi ke internal desa adat sehingga membuat suasana menjadi kisruh. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Advertisement
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng

Artikel Terkait

Harumkan Nama Buleleng, Perbekel Gobleg Jadi Mahasiswa Terbaik Program Kepala Desa Masuk Kampus

Harumkan Nama Buleleng, Perbekel Gobleg Jadi Mahasiswa Terbaik Program Kepala Desa Masuk Kampus

Perbekel Desa Gobleg, I Made Separsa, menjadi salah satu mahasiswa terbaik Program Kepala Desa Masuk Kampus Angkatan II. Prestasi tersebut diraih di antara 434 kepala desa peserta dari seluruh Indonesia.

Perbekel Kubutambahan Jadi “Hakim Desa”. Puluhan Sengketa Diselesaikan Tanpa Harus ke Pengadilan

Perbekel Kubutambahan Jadi “Hakim Desa”. Puluhan Sengketa Diselesaikan Tanpa Harus ke Pengadilan

Perbekel Desa Kubutambahan, Gede Pariadnyana, menjadi hakim perdamaian desa dan berhasil menyelesaikan puluhan sengketa tanpa pengadilan.

Kepala Desa di Bali Pusing! Dana Desa Dipangkas untuk Kopdes Merah Putih, Program Prioritas Terancam

Kepala Desa di Bali Pusing! Dana Desa Dipangkas untuk Kopdes Merah Putih, Program Prioritas Terancam

Dana Desa dialihkan hingga 70 persen untuk Kopdes Merah Putih, perbekel keluhkan program kesehatan dan infrastruktur desa terancam tertunda.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer