Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Imbas Kebisingan PLTD Pemaron, Warga Mengadu ke Komnas HAM

Eka Prasetya
Penulis: Eka Prasetya❯
MENGADU: Warga Perumahan Nirwana Pemaron mengadu ke Ombudsman Republik Indonesia terkait maladministrasi operasi PLTD Pemaron. (LBH Bali)
MENGADU: Warga Perumahan Nirwana Pemaron mengadu ke Ombudsman Republik Indonesia terkait maladministrasi operasi PLTD Pemaron. (LBH Bali)

Advertisement

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Pemaron di Kecamatan Buleleng berbuntut panjang. 

Merasa hak kesehatan dan lingkungan hidupnya dirampas, warga Perumahan Nirwana, Dusun Dauh Margi, Desa Pemaron, bersama YLBHI–LBH Bali melayangkan pengaduan massal ke sejumlah instansi daerah hingga nasional.

Advertisement

Selain bersurat ke Bupati Buleleng, Gubernur Bali, hingga Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), warga juga resmi melaporkan dugaan pelanggaran HAM ke Komnas HAM RI serta dugaan maladministrasi ke Ombudsman RI Perwakilan Bali.

Direktur LBH Bali, Rezky Pratiwi, mengungkapkan bahwa langkah ini menyasar tanggung jawab pemerintah yang terkesan membiarkan pelanggaran lingkungan terus berlangsung sejak reaktivasi unit diesel pada November 2024 lalu. 

Padahal, pasokan listrik di Bali saat ini sedang mengalami surplus hingga 358 MW, sehingga pengoperasian PLTD berkapasitas 97,6 MW tersebut dinilai tak memiliki alasan teknis yang mendesak.

Advertisement

"Pengaduan ini menyasar tanggung jawab pejabat berwenang yang menerbitkan izin dan wajib mengawasi di lapangan. Kebisingan mesin menembus batas baku mutu dan merampas hak warga atas lingkungan yang sehat," tegas Tiwi lewat keterangan pers yang diterima Radar Buleleng pada Selasa (8/9/2026).

Dampak kebisingan dan getaran mesin PLTD Pemaron paling berat dirasakan oleh kelompok rentan di area pemukiman padat penduduk tersebut. 

Maryono, salah seorang warga terdampak di Perumahan Nirwana, membeberkan bahwa suara bising mesin kerap menembus ambang batas 55 desibel hingga memaksa puluhan balita dan anak-anak rutin berobat ke dokter THT.

"Kami bermukim di sini sejak 2020 melalui rumah subsidi, saat mesin itu mati. Tiba-tiba akhir 2024 dihidupkan lagi tanpa sosialisasi atau persetujuan warga. Anak-anak dan balita kami sampai harus rutin periksa ke dokter THT karena suara bisingnya luar biasa," kata Maryono.

Advertisement

Artikel Terkait

Proyek PLTS Bali Diluncurkan, Aktivis Desak Pensiunkan PLTU Celukan Bawang dan PLTD Pemaron

Proyek PLTS Bali Diluncurkan, Aktivis Desak Pensiunkan PLTU Celukan Bawang dan PLTD Pemaron

Peluncuran PLTS 100 GW jadi momentum warga Buleleng mendesak penutupan PLTU Celukan Bawang & PLTD Pemaron serta menolak proyek PLTGU gas.

LBH Bali Layangkan Surat Protes ke PLTD Pemaron. Imbas Paparan Asap Solar dan Kebisingan

LBH Bali Layangkan Surat Protes ke PLTD Pemaron. Imbas Paparan Asap Solar dan Kebisingan

32 warga Perumahan Nirwana Pemaron menggugat operasional PLTD Pemaron. Mereka mengaku terdampak asap solar, kebisingan, hingga tembok rumah retak meski Bali surplus listrik 358 MW.

Sempat Digeruduk Warga, Indonesia Power Salurkan Bantuan Ekonomi untuk Warga Terdampak PLTD Pemaron

Sempat Digeruduk Warga, Indonesia Power Salurkan Bantuan Ekonomi untuk Warga Terdampak PLTD Pemaron

Usai keluhan warga soal kebisingan PLTD Pemaron mencuat, PLN Indonesia Power menyalurkan bantuan ekonomi dan layanan kesehatan bagi masyarakat sekitar pembangkit.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer