Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kasus Remaja Bunuh Diri Terjadi Lagi di Bali, PPA Minta Pengawasan Orang Tua

Muhammad Basir • Selasa, 5 November 2024 - 21:05 WIB
Ilustrasi percobaan bunuh diri
Ilustrasi percobaan bunuh diri

radarbuleleng.id- Kasus bunuh diri remaja kembali terjadi di Jembrana, Bali. Terbaru terjadi pada akhir pekan lalu, di Desa Nusasari, Kecamatan Melaya.

Tercatat tahun ini sudah dua kali kasus bunuh diri remaja, dan satu kasus percobaan bunuh diri remaja 15 tahun di Desa Melaya.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perundungan Perempuan dan Anak (PPA) Jembrana,  Ida Ayu Sri Utami Dewi mengatakan, kasus bunuh diri yang dilakukan remaja di Jembrana tahun ini sudah dua kali terjadi, tahun sebelumnya 2023 terjadi satu kasus bunuh diri remaja.

”Dari segi angka kasus memang sedikit, tetapi harus menjadi perhatian agar kasus serupa tidak berulang,” ungkapnya.

Menurutnya, dari beberapa kasus bunuh diri yang dilakukan remaja motifnya beragam.

Misalnya karena dimarahi orang tua, sehingga anak remaja ini merasa tidak mendapat perhatian lebih dari orang tua.

”Orang yang memarahi anak, mungkin tujuan agar anak menurut. Tetapi anak menanggapinya beda. Karena masing - masing anak beda kemampuan menerima yang disampaikan orang tua beda," ujarnya.

Kondisi ini tergantung dari mental dan karakter anak.

Pembentukan karakter dan metal anak ini, tergantung dari lingkungan, keluarga dan sekolah.  Caranya tergantung dari mendidik anak dengan kegiatan - kegiatan positif.

”Maraknya kasus bunuh diri remaja ini, upaya pencegahan dengan menguatkan karakter dan mental anak,” ungkapnya.

Orang tua sebagai orang terdekat dengan anak, harus memberikan perhatian dan pengawasan lebih dengan cara yang menyesuaikan dengan karakter anak.

Generasi saat ini, pola pengawasan dan pendekatan terhadap anak juga berbeda dengan generasi sebelum- sebelumnya.

”Orang tua semestinya lebih paham dengan kondisi menyeluruh anaknya,” ujarnya.

Maraknya kasus bunuh diri pada anak ini, juga dipengaruhi perkembangan teknologi informasi. Misalnya media sosial, mempengaruhi mental, karakter dan perilaku anak.

Sehingga, orang tua juga harus mengawasi aktivitas anaknya dalam menggunakan ponsel, terutama mengakses media sosial.

Pemerintah melalui kewenangannya, sudah berupaya maksimal melakukan upaya pencegahan.

Diantaranya melalui sosialisasi ke sekolah hingga ke desa - desa agar kasus yang melibatkan anak bisa dicegah.

Pihaknya berharap tidak ada lagi kasus bunuh diri yang dilakukan anak remaja di Jembrana.

”Kami sudah sering turun, ketemu anak langsung di sekolah-sekolah dan ketemu orang tua untuk sosialisasi pencegahan,” ujarnya.

Kasus bunuh diri remaja terakhir terjadi pas Jumat (1/11) lalu.

Seorang anak remaja putri 14 tahun berinisial LDY, asal Desa Nusasari, bunuh diri dengan cara gantung diri di rumahnya.

Dari penyelidikan Polsek Melaya, remaja yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), diduga nekat melakukan bunuh diri karena sempat dimarahi oleh ibunya karena korban tidak mau diajak sembahyang.***

Editor : Donny Tabelak
#PPA #polsek melaya #remaja bunuh diri #pengawasan orang tua