Pada Pemilu 2024, setidaknya ada 69 orang caleg di Provinsi Bali memiliki hubungan kekerabatan dengan tokoh publik. Mulai dari kepala desa hingga menteri. Hal itu mengarah pada praktik politik dinasti. Partai politik di Bali masih mengandalkan popularitas pejabat publik dalam pemilu 2024. Proses kaderisasi serta penentuan caleg yang cenderung tertutup, berpotensi menguntungkan kelompok tertentu.
SEBUAH Baliho dengan warna kuning yang dominan, terpasang di ruas Jalan Yudistira, Kota Negara, Kabupaten Jembrana, saat masa kampanye Pemilu 2024.
Baliho tersebut menampilkan sosok Inda Swari Dewi, calon anggota legislatif (caleg) Partai Golkar nomor urut 3. Inda akan bertarung memperebutkan kursi DPRD Bali dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kabupaten Jembrana.
Di dalam baliho itu juga terpampang sosok I Gede Winasa yang merupakan Bupati Jembrana periode 2000-2005 dan 2005-2010. Winasa tak lain adalah mertua dari Inda Swari Dewi.
Pada baliho yang sama juga termuat sosok I Gede Ngurah Patriana Krisna. Dia adalah Wakil Bupati Jembrana periode 2021-2024. Namun dalam baliho itu, Patriana Krisna disebut dalam kapasitas jabatan Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPD II Golkar Jembrana.
Patriana Krisna yang akrab disapa Ipat itu, merupakan putra dari mantan Bupati Jembrana, I Gede Winasa. Dia juga suami dari caleg Golkar, Inda Swari Dewi.
Ajang kontestasi Pemilu 2024, seolah menjadi peluang bagi para politisi memproyeksikan keluarga mereka berebut kursi legislatif. Mereka memproyeksikan, ayah, anak, suami, istri, keponakan, adik kandung, kakak kandung, kakak ipar, hingga adik ipar sebagai caleg.
Berdasarkan catatan RadarBuleleng.id (Jawa Pos Group), ada 69 orang caleg yang memiliki hubungan keluarga dengan tokoh publik, yang akan akan bertarung pada Pemilu 2024.
Tokoh publik itu beraneka profesi. Mulai dari kepala desa, birokrat, anggota DPRD Kabupaten, anggota DPRD Provinsi, Kepala Daerah, Wakil Kepala Daerah, Anggota DPR RI, Ketua Umum Partai Politik, hingga Menteri.
Untuk melihat grafis selengkapnya klik di sini
Dari PDI Perjuangan, ada anggota Komisi XI DPR RI, I Gusti Agung Rai Wirajaya yang memproyeksikan keluarganya. Rai Wirajaya tidak mencalonkan diri lagi pada Pemilu kali ini. Sebagai gantinya, sang putri, Anak Agung Istri Paramita Dewi kini digadang-gadang merebut kursi DPRD Bali dari Dapil Kota Denpasar.
Kemudian anggota Komisi IV DPR RI, I Made Urip yang memproyeksikan istrinya, Ni Made Usmantari sebagai caleg DPRD Bali dari Dapil Kabupaten Tabanan. Made Urip kini tidak mencalonkan diri.
Selanjutnya ada I Gusti Ngurah Marhaendra, caleg DPRD Bali dari Dapil Kota Denpasar. Marhaendra adalah adik kandung dari Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara. Dia juga adik kandung dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Kakak iparnya adalah Anak Agung Ngurah Puspayoga yang mantan Menteri Koperasi UMKM, mantan Wakil Gubernur Bali, dan mantan Wali Kota Denpasar.
Lalu ada nama I Gusti Made Artana yang maju ke DPRD Bali lewat Dapil Buleleng. Dia menggandeng sang istri, Gusti Ayu Mertiningsih yang maju ke DPRD Buleleng lewat Dapil Kecamatan Buleleng. I Gusti Made Artana merupakan mantan anggota DPRD Buleleng periode 2014-2019.
Selain nama-nama tadi, masih banyak caleg lain yang diusung PDI Perjuangan yang masih memiliki afiliasi keluarga. Caleg-caleg itu tersebar di seluruh Bali.
PDI Perjuangan mengklaim proses pencalonan para caleg sudah melalui mekanisme di internal partai. Kendati pada akhirnya banyak caleg yang berkelindan dengan tokoh publik.
“Prinsip partai pasti mencalonkan kader terbaik. Kalau Pak Gung Rai (Agung Rai Wirajaya) dan Pak Urip (Made Urip), beliau tidak maju lagi,” kata Sekretaris DPD PDI Perjuangan Bali, IGN Jaya Negara.
Sementara di Partai Golkar, ada beberapa keluarga yang maju bersamaan. Di antaranya Anggota Komisi VI DPR RI, Gde Sumarjaya Linggih. Dia maju lagi sebagai caleg pada Pemilu 2024.
Kali ini Sumarjaya Linggih menggandeng kedua putranya. Putra sulung, yakni Agung Bagus Pratiksa Linggih maju sebagai caleg DPRD Bali dari Dapil Kabupaten Buleleng. Sementara putra bungsu, Agung Bagus Arsadhana Linggih maju sebagai calon anggota DPD RI.
Dalam perbincangan dengan Jawa Pos Radar Bali, Sumarjaya Linggih mengaku tak pernah mengarahkan anak-anaknya terjun ke dunia politik.
Dia yakin anak-anaknya berpolitik karena dibentuk lingkungan. Politisi yang akrab disapa Demer itu mengungkapkan, saat ia pertama kali duduk di Senayan, putra sulungnya Pratiksa Linggih baru berusia 10 tahun, sementara Arsadhana usianya baru tujuh tahun.
“Selama 19 tahun terakhir mereka tumbuh di lingkungan politik. Mungkin ada kegalauan mereka atau perjuangan yang belum maksimal, sehingga mereka memilih terjun ke politik. Mereka punya cara pandang sendiri,” katanya.
Ia juga mengklaim tidak selalu melakukan kampanye dengan putra-putranya. “Mereka punya jalur sendiri. Kadang ada yang beririsan dengan saya, kadang tidak. Kalau anak saya yang DPD, sah-sah saja dia mau tandem dengan siapa, karena dia non partai politik. Malah katanya sosialisasi dengan caleg dari partai lain. Ya silahkan saja,” kata pria asal Desa Tajun, Kabupaten Buleleng itu.
Selain Sumarjaya Linggih dan anak-anaknya, di Partai Golkar juga ada pasangan suami istri I Nyoman Gede Wandira Adi dan Ni Luh Ketut Sri Lestari Dewi. Wandira Adi merupakan anggota DPRD Buleleng yang akan kembali memperebutkan kursi yang sama pada Pemilu tahun ini. Wandira akan tarung lewat Dapil Kecamatan Buleleng. Sementara sang istri juga berebut kursi DPRD Buleleng. Hanya saja dia tarung dari Dapil Kecamatan Busungbiu.
Untuk melihat grafis selengkapnya klik di sini
Kemudian ada ayah dan anak, Ketut Suwandhi dan Puta Oka Mahendra. Suwandhi merupakan politisi senior partai Golkar. Dia sudah berkali-kali duduk di DPRD Bali. Pemilu ini dia kembali mencalonkan diri ke DPRD Bali lewat Dapil Kota Denpasar. Sementara anaknya, Putu Oka Mahendra berebut kursi DPRD Kota Denpasar lewat Dapil Kecamatan Denpasar Utara.
Partai Demokrat juga memasang strategi mengusung caleg yang berkeluarga dengan tokoh publik. Ada nama Mifta Rizky Pohan, caleg nomor urut 5 yang akan memperebutkan kursi DPR RI dari Dapil Bali. Mifta tak lain adalah adik ipar dari Agus Harimurti Yudhoyono, Ketua Umum Partai Demokrat.
Kemudian ada nama Luh Putu Dian Puspayanthi, caleg Partai Demokrat untuk DPRD Jembrana. Dia merupakan istri dari I Komang Wiasa, birokrat yang juga Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Jembrana.
Strategi mengusung caleg yang berafiliasi dengan tokoh publik juga dilakukan Partai Gerindra. Anggota DPRD Bali, I Gde Ketut Nugrahita Pendit diketahui menggandeng putranya, Gde Ketut Krisna Hendrawan Pendit pada Pemilu 2024. Nugrahita Pendit maju sebagai caleg DPRD Bali dari Dapil Kabupaten Tabanan. Sementara putranya maju sebagai caleg DPRD Tabanan dari Dapil Kecamatan Penebel dan Baturiti.
Di Partai Hanura, kakak beradik Gde Wisnaya Wisna serta Gde Wirajaya Wisna juga nyaleg bersama. Wisnaya Wisna merupakan anggota DPRD Buleleng, sementara Wirajaya Wisna anggota DPRD Bali hasil PAW. Pada Pemilu ini, Wisnaya Wisna maju sebagai anggota DPRD Buleleng dari Dapil Kecamatan Buleleng. Sedangkan adiknya mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Bali lewat Dapil Kabupaten Buleleng.
Partai Nasdem menerapkan strategi mengusung pasangan suami istri. Ketua DPD Nasdem Tabanan, Ida Bagus Putu Widiadnyana menggandeng istrinya Ida Ayu Ketut Candrawati.
Widiadnyana berambisi merebut kursi DPRD Tabanan lewat Dapil Kecamatan Kediri dan Marga. Sementara istrinya yang anggota DPRD Tabanan, didorong maju sebagai caleg DPR RI dari Dapil Provinsi Bali.
Strategi mengusung pasutri juga dilakukan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Anggota Komisi V DPR RI, Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz mengusung suaminya, M. Surya Nata sebagai caleg. Mereka bertarung pada dua dapil yang berbeda.
Neng Eem diketahui maju sebagai caleg DPR RI dari Dapil Jawa Barat III yang meliputi Kabupaten Cianjur dan Kota Bogor. Sementara suaminya M. Surya Nata maju jadi caleg DPR RI dari Dapil Provinsi Bali.
Surya Nata kerap mempromosikan dirinya melalui baliho yang terpasang di seantero Bali. Dia juga pernah datang ke Bali saat Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar berkunjung ke beberapa daerah di Bali pada Agustus 2023 silam.
Pesona Kepala Daerah
PADA pemilu 2024, ada juga kepala daerah dan wakil kepala daerah yang mendorong keluarga mereka maju sebagai caleg.
Tren kepala daerah mencalonkan keluarganya sebagai caleg sudah muncul pada Pemilu 2014 silam.
Saat itu Wakil Bupati Buleleng periode 2012-2017 dan 2017-2022, dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG mendorong istrinya, Ida Ayu Wardhany sebagai caleg DPRD Bali dari Dapil Kabupaten Buleleng lewat PDI Perjuangan. Namun saat itu sang istri kandas.
Pada Pemilu yang sama, Bupati Tabanan periode 2010-2015 dan 2016-2021, Ni Putu Eka Wiryastuti mendorong sang ayah, I Nyoman Adi Wiryatama sebagai anggota DPRD Bali lewat partai yang sama.
Hingga kini Adi Wiryatama sudah dua kali duduk sebagai Ketua DPRD Bali. Masing-masing pada periode 2014-2019 dan periode 2019-2024.
Pada Pemilu 2024, Adi Wiryatama akan maju sebagai caleg DPR RI. Dia menggandeng putranya, Gede Made Dedy Pratama yang akan berebut kursi DPRD Tabanan dari Dapil Kecamatan Penebel dan Baturiti.
Adik kandung Adi Wiryatama, yakni I Nyoman Suadiana juga ikut mencalonkan diri sebagai caleg DPRD Tabanan dari Dapil Kecamatan Penebal dan Baturiti. Dia akan bersaing dengan sang keponakan. Bedanya, Suadiana mencalonkan diri lewat Partai Gerindra.
Suadiana sebenarnya sempat jadi anggota DPRD Tabanan periode 2019-2024 lewat PDI Perjuangan. Namun dia tidak diusung lagi sebagai caleg. Akhirnya dia memilih loncat partai. Dampaknya Suadiana dipecat sebagai anggota DPRD Tabanan.
Kemudian pada Pemilu 2019, Bupati Buleleng periode Bupati Buleleng periode 2012-2017 dan 2017-2022, Putu Agus Suradnyana, mendorong sang istri, I Gusti Ayu Aries Sujati sebagai anggota DPRD Bali. Aries lolos sebagai anggota DPRD Bali periode 2019-2024 setelah diusung PDI Perjuangan.
Pada Pemilu 2024, Aries sempat diproyeksikan sebagai caleg DPR RI dari Dapil Bali. Namanya sudah muncul dalam Daftar Caleg Sementara (DCS). Namun saat penetapan Daftar Caleg Tetap (DCT), nama Aries digantikan oleh caleg lain.
Nah pada Pemilu 2024 ini, ada beberapa kepala daerah yang mempersiapkan keluarga mereka sebagai caleg.
Di Kabupaten Gianyar, ada nama I Made Mahayastra, Bupati Gianyar periode 2018-2023. Mahayastra mendorong putrinya, Putu Diah Pradnya Maharani sebagai caleg DPRD Bali dari Dapil Kabupaten Gianyar lewat PDI Perjuangan.
Bupati Karangasem, I Gede Dana juga mendorong anak-anaknya maju sebagai caleg. Bahkan kedua anaknya kini terdaftar sebagai caleg. Mereka adalah I Putu Suryandanu Willyan Richart yang didorong sebagai Caleg DPRD Bali dari Dapil Kabupaten Karangasem, serta Ni Kadek Yulita Sinta Dewi yang didorong jadi caleg DPRD Karangasem dari Dapil Kecamatan Abang. Mereka juga maju lewat PDI Perjuangan.
Lalu ada nama Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara yang mendorong sang adik, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra sebagai caleg DPRD Bali dari Dapil Kota Denpasar lewat PDI Perjuangan.
Kemudian Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta, yang mengusung sang putra, Bima Nata sebagai caleg DPRD Badung dari Dapil Kecamatan Petang dari PDI Perjuangan.
Bupati Jembrana, I Nengah Tamba, dan Wakil Bupati Jembrana, I Gede Ngurah Patriana Krisna juga tidak mau kalah.
I Nengah Tamba mengusung putranya, I Gede Ghumi Advatham sebagai caleg DPRD Bali dari Dapil Kabupaten Jembrana. Ghumi maju lewat Partai Demokrat.
Tamba mengaku proses pencalonan putranya sudah didiskusikan bersama semua anggota keluarga. Ia mengaku tidak mempermasalahkan jika nantinya sang putra mahkota tidak terpilih sebagai anggota DPRD.
"Terpenting adalah pendidikan politiknya, dewasa dalam berpolitik. Kalah menang itu hal biasa, tetapi terpenting pendidikan politik agar lebih dewasa," tegasnya.
Ia mengklaim tidak pernah mendampingi sang putri dalam kegiatan kampanye. Tamba menyebut putranya punya cara sendiri dalam sosialisasi.
“Justru saat Ghumi turun ke masyarakat, lapor ke saya banyak aspirasi yang harus dieksekusi bupati. Saya serahkan ke masyarakat, masyarakat yang berhak memilih," ujarnya.
Sementara Wakil Bupati Jembrana, Patriana Krisna mengusung istrinya, Inda Swari Dewi sebagai caleg DPRD Bali dari Dapil Jembrana. Inda maju dari Partai Golkar.
Pria yang akrab disapa Ipat itu mengklaim proses pencalonan istrinya sudah melalui mekanisme internal di Partai Golkar. Dia juga mengaku tidak pernah terlibat kegiatan kampanye sang istri. Meski foto dirinya selalu terpampang dalam baliho yang dipasang sang istri.
“Bentuk dukungan saya, bukan berarti ikut kampanye. Justru saya tidak pernah ikut kampanye langsung. Meskipun boleh ikut kampanye tapi harus cuti, tapi tidak pernah ikut kampanye atau jadi juru kampanye,” ujar Ipat kepada reporter RadarBali.id.
Mempertahankan Trah Keluarga
HUBUNGAN yang menarik terlihat pada trah Wedastera Suyasa. Wedastera Suyasa merupakan politisi senior asal Kabupaten Jembrana. Pada masa orde lama, Wedastera Suyasa menjadi wajah Partai Nasional Indonesia (PNI) di Bali.
Dia terkenal dengan orasi politiknya yang berapi-api. Wedastera Suyasa pernah menjadi tahanan politik di Jakarta gara-gara pidato politiknya yang dinilai menyinggung pemerintah.
Belakangan putra-putrinya memilih mengikuti jejak sang ayah untuk terjun di dunia politik.
Langkah itu diawali Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa. Dia merupakan politisi yang terbilang kontroversial.
Pada Pemilu 2009 dia sempat mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI lewat PNI Marhaenisme. Sayangnya ia gagal lolos ke senayan gara-gara PNI Marhaenisme tidak lolos ambang batas suara parlemen alias parliamentary threshold.
Pada pemilu 2014 dia memilih pindah kamar ke DPD RI. Wedakarna berhasil lolos dengan perolehan 178.934 suara. Kemudian pada 2024, dia lolos dengan perolehan 747.781 suara. Saat itu dia mengusung jargon Bali Berdaulat yang mengedepankan kemandirian masyarakat Bali dalam berbagai bidang.
Pada 2 Februari 2024, Badan Kehormatan (BK) DPD RI merekomendasikan pemecatan Arya Wedakarna sebagai senator karena sederet laporan yang diterima BK. Arya Wedakarna pun menyatakan siap melawan rekomendasi tersebut.
Pada Pemilu 2024, ada beberapa kerabat Arya Wedakarna yang ikut bertarung pada Pemilu 2024. Yakni I Gusti Ayu Diah Werdhi Srikandi Wedasteraputri Suyasa yang maju sebagai Caleg DPR RI dari Dapil Provinsi Bali lewat PDI Perjuangan. Diah Werdhi juga anggota DPRD Bali periode 2019-2024.
Kemudian adiknya, Shri I Gusti Ngurah Wira Wedawitry Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa, maju sebagai caleg DPRD Bali dari Dapil Kota Denpasar. Ngurah Wira maju lewat Partai Demokrat.
Lalu ada I Gusti Ayu Dewi Wastu Manggala Wedasteraputri Suyasa. Dia maju sebagai caleg DPRD Kota Denpasar dari Dapil Kecamatan Denpasar Timur, lewat PDI Perjuangan.
Keterlibatan Trah Wedastera Suyasa dalam Pemilu 2024, diungkap Ngurah Wira. Dia pun tidak ragu maju lewat partai yang berbeda dengan saudaranya yang lain. Ia mengaku terjun ke dunia politik supaya anak-anak muda bisa masuk dalam sistem.
"Kebetulan saya masih di bawah 40 tahun. Agar ada perwakilan anak muda di dalam parlemen. Saat ini dari Demokrat meraih empat kursi sehingga terbentuk satu fraksi," jelasnya.
Ngurah Wira mengaku berlabuh ke Demokrat karena partai nasionalis dan punya pengalaman memimpin yang sama seperti PDI Perjuangan.
"Pak Made Mudarta (Ketua DPD Demokrat Bali) sempat bertemu saya dan minta tolong bantu di Demokrat. Saya lihat bagus visi dan misinya sehingga saya masuk Demokrat," katanya.
Ia mengaku terjun ke dunia politik karena terinspirasi orang tuanya. Khususnya sang ayah, Wedastera Suyasa.
Dia mengklaim tidak mendapat privilege apapun dari saudaranya yang sudah lebih dulu duduk di parlemen. Lantaran memang berbeda jalur dan partai.
"Dari Ajik Saya dan Biang Suwitri (sang ibu) memang sudah tokoh, saya menganggap itu motivasi. Kenapa tyang (saya) mau masuk ke dunia politik, tyang mau membentuk privilege buat anak cucu tyang juga," terangnya.
Menurutnya, untuk menjaga nama baik keluarga di dunia politik, Ia ingin melanjutkan trah orang tuanya. Dia juga ingin juga saling membantu saudaranya yang turut berkontestasi sebagai caleg.
"Astungkara, kami berempat maju sekarang. DPD Ajik AWK (kakak tertua), Diah Werdhi DPR RI, tingkat I (DPRD Bali) tyang, dan tingkat II Mbok Gek Wastu. Astungkara," tuturnya.
Maraknya pencalonan yang melibatkan sanak keluarga dari tokoh publik, praktis akan menguntungkan kelompok tertentu. Sekaligus membuka jalan bagi praktik politik dinasti, khususnya di lembaga legislatif. (*/feb/bas/eps)
(Artikel berita ini merupakan bagian pertama liputan berbasis jurnalisme data yang disusun RadarBuleleng.id terkait dengan Pemilu 2024. Artikel kedua akan diterbitkan pada Mei 2024. Didukung oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia).
Editor : Eka Prasetya