RadarBuleleng.id - Gong kebyar punya peran besar mewarnai kesenian di Bali, khususnya seni karawitan.
Gong kebyar mendobrak pakem yang pada masa lalu disepakati secara tidak tertulis oleh para seniman di Bali.
Kini gong kebyar juga membuka peluang-peluang penciptaan kesenian baru dalam hal karawitan maupun tari.
Kesenian gong kebyar di Buleleng diyakini lahir secara bertahap, sejak tahun 1912 hingga tahun 1915.
Gong kebyar tidak lahir serta merta sebagai sebuah perangkat gamelan yang langsung tercipta dalam bentuknya saat ini. Perlu bertahun-tahun proses eksplorasi, hingga tercipta barung gamelan gong kebyar seperti yang ada saat ini.
Dosen Prodi Seni Karawitan di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Kadek Suartaya menulis, kesenian gong kebyar membawa gamelan bali mendunia.
Dalam artikel yang berjudul “Gamelan Gong Kebyar Mengawal Budaya Bali”, Kadek Suartaya menulis bahwa gong kebyar menyebar ke berbagai benua. Baik itu di Asia, Australia, Eropa, maupun Amerika.
“Gamelan ini telah menapak Eropa pada 1931. Kecuali di benua Afrika yang belum terdengar keberadaannya,” tulisnya.
Di tanah kelahirannya, yakni di Kabupaten Buleleng, perangkat gamelan gong kebyar dimiliki setiap desa hingga banjar.
Bagi sanggar-sanggar seni, gamelan gong kebyar merupakan perangkat wajib. Sekolah-sekolah juga memiliki perangkat tersebut. Bahkan ada juga perorangan pribadi yang mengoleksi gamelan gong kebyar.
Gamelan yang kini berusia lebih dari seabad itu, dengan mudah bisa dijumpai pada komunitas-komunitas Bali yang ada di Nusantara. Baik itu di Lampung, Sulawesi, Jakarta, Jawa Timur, hingga tanah Papua.
juga dapat dijumpai di penjuru Nusantara seperti di kota-kota besar Jakarta, Surabaya, dan Bandung hingga di lingkungan komunitas etnik Bali seperti di Lampung, Palu, dan tanah Papua.
Suartaya mengungkapkan, gong kebyar diyakini lahir dan bermula dari modifikasi terhadap gong gede.
Pada awal-awal tahun penemuannya, gong kebyar dengan cepat menyebar ke seantero Bali.
Bahkan pada awal 1930-an, euforia kelahiran gong kebyar ditandai dengan pementasan gong kebyar antar kerajaan sejebag Bali.
Saking kuatnya arus perubahan yang dibawa gong kebyar Buleleng, seni tersebut tabuh-tabuh tradisi yang lebih dulu hadir. Sebut saja tabuh semara pagulingan dan palegongan.
Bahkan Michael Tanzer dalam bukunya yang berjudul “Gamelan Gong Kebyar: The Art of Twentieth-Century Balinese Music” yang terbit pada tahun 2000 silam menyebut bahwa gong kebyar sebagai genre gamelan paling populer dan berpengaruh pada abad ke-20 di Bali.
Lebih lanjut Kadek Suartaya menulis, pada awalnya perangkat gamelan gong kebyar yang dimiliki oleh banjar atau desa masih berbentuk sederhana. Tanpa hiasan yang mentereng.
Saat utsawa merdangga berlangsung pada tahun 1968 silam, para peserta masih menggunakan perangkat gamelan yang sederhana.
Meski tampilannya sederhana, membeli perangkat gamelan gong kebyar pada masa itu bukan perkara mudah. Warga desa atau banjar harus membelinya dengan susah payah.
Apalagi sejak 1950-an terjadi krisis ekonomi yang berlangsung selama bertahun-tahun. Hal itu berdampak juga kepada Bali.
Pemeliharaan gamelan dilakukan dengan susah payah, karena harganya yang mahal. Anak-anak, pada masa itu, tidak diizinkan memainkan gamelan.
Bahkan ada pula masyarakat yang mengikhlaskan perangkat gamelan semara pagulingan maupun palegongan yang diubah menjadi perangkat gamelan gong kebyar.
Kemunculan gong kebyar kemudian secara perlahan menggantikan gong gede. Tadinya gong gede berfungsi menyajikan tabuh-tabuh lelambatan dan mengiringi tari baris dan rejang. Perlahan digantikan oleh gong kebyar.
Bahkan kini lazim ditemukan pementasan calonarang diiringi dengan gong kebyar. Demikian juga dengan kesenian arja yang biasanya diiringi dengan geguntangan, perlahan diiringi kekebyaran.
Suartaya menyatakan, sejak awal kelahirannya gong kebyar memang dipacu dengan semangat kompetisi atau mebarung.
Gong kebyar akan dipentaskan berhadap-hadapan antara satu desa dengan desa lainnya.
Bahkan di Buleleng sudah muncul kompetisi antara kelompok Dangin Enjung atau Buleleng Timur dan Dauh Enjung atau Buleleng Barat.
Kompetisi akan semakin sengit ketika gong kebyar dangin enjung dan dauh enjung bertemu.
Bahkan, ungkap Suartaya, pada masa silam kompetisi tersebut juga diwarnai dengan penggunaan ilmu hitam demi merugikan perorangan atau kelompok tertentu.
Salah seorang seniman yang diyakini menjadi korban ilmu hitam adalah Gede Mendra, seniman karawitan asal Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng.
Dia meninggal tidak lama setelah memenangkan panggul emas dalam kompetisi utsawa merdangga pada tahun 1950-an silam.
“Dapat dibayangkan, betapa emosionalnya masyarakat Buleleng mencintai gong kebyar,” demikian Suartaya. (*)
Editor : Eka Prasetya