RadarBuleleng.id - Sejumlah petani di Bali mulai terdampak kemarau. Petani kesulitan mendapat air, sehingga sawah mulai retak-retak.
Apabila kondisi itu dibiarkan, lama kelamaan padi akan gagal tumbuh. Sehingga menyebabkan gagal panen massal.
Kondisi itu terjadi di Kabupaten Jembrana, Bali. Tepatnya di Subak Kali Kembar, Desa Baluk, Kecamatan Negara.
Baca Juga: Petani Desa Telaga Berhasil Tanam Sorgum. Sering Dikonsumsi Turis dan Ekspatriat
Sudah sepekan terakhir petani tidak kebagian air bersih. Petani terpaksa memanfaatkan sumur bor untuk mendapatkan air.
Petani pun harus merogoh kantong lebih dalam. Karena harus mengeluarkan biaya lebih banyak untuk membeli bensin.
Salah seorang petani yang mengaku bernama Denyem menyebut sudah seminggu tidak kebagian air. Dia makin resah karena bendung air ditutup.
”Karena musim kemarau juga, air menurun di sungai untuk irigasi,” ujarnya.
Baca Juga: Tanam Padi Metode Hazton di Lahan Seluas 40 Are, Petani di Buleleng Hasilkan 10 Ton
Agar padi tetap tumbuh, ia harus mendapatkan air untuk sawahnya. Dia memilih menggunakan sumur bor.
Praktis biaya operasional untuk sawahnya membengkak tajam. Dia tidak punya cara lain, atau padinya akan gagal tumbuh.
”Baru ngrabuk lima hari, sekarang sudah nggak ada air. Makanya perlu air,” ujarnya.
Untuk mengairi lahan miliknya, ia menyebut perlu bahan bakar sebanyak 12 liter. Dia memilih mengambil resiko tersebut, karena khawatir gagal panen.
“Mudah-mudahan saja nanti harga gabah nggak turun. Kalau turun, sudah pasti rugi,” ungkapnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya