radarbuleleng.id- Ida I Gusti Ngurah Made Agung atau dikenal pula dengan Ida Cokorda Mantuk Ring Rana, merupakan Raja Denpasar ke-VI sekaligus seorang pejuang yang menentang pemerintahan Hindia Belanda di Bali.
Perjuangannya pun terukir dalam sejarah. Peristiwa Puputan Badung hingga diangugerahkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 5 November 2015 silam.
Pengelingsir Puri Agung Denpasar, Anak Agung Ngurah Agung Wira Bima Wikrama menuturkan peristiwa Puputan Badung adalah peristiwa kehancuran Kerajaan Badung.
Kendati demikian, peristiwa ini menularkan spirit bahwa walaupun akhirnya hancur, tetapi tetap menjaga komitmen dalam berbangsa dan bernegara.
"Kemudian berkomitmen menjaga kesatuan bangsa, kesatuan masyarakat. Bahwa tanah air dan masyarakat Badung tidak boleh dijajah atau di bawah negara lain," tuturnya.
Selain itu, peristiwa Puputan Badung juga membangkitkan spirit perjuangan, khususnya untuk anak-anak muda zaman sekarang.
"Hikmahnya adalah apapun yang kita lakukan, yang kita kerjakan, harus puput. Harus selesai apapun hasilnya. Jadi dalam berjuang tidak boleh setengah-setengah," sambungnya.
Oleh karenanya, perjuangan apapun itu harus tuntas. Apabila perencanaan dari perjuangan tersebut sudah matang, maka perjuangan akan selesai dengan baik.
Sematang-matangnya perjuangan, lanjutnya, ada kalanya diterpa hambatan dan tantangan. Namun bukan berarti langsung mundur dari perjuangan.
Ia pun mengingatkan kepada anak muda agar tetap memperjuangkan apapun yang sudah diprogramkan sebelumnya. Niscaya akan terlaksana dengan baik.
"Kalaupun tidak (terlaksana dengan baik, red) karena ada hambatan atau tantangan yang begitu besar, jangan patah arang. Lanjutkan sampai puput. Jangan balik badan ketika perjuangan itu belum selesai," kata Turah Bima.
Hal inilah yang ingin ditanamkan kepada anak muda agar menjadi generasi yang kuat, tahan banting, dan tidak mudah menyerah.
Sehingga apapun tantangan di depan, harus dihadapi seperti yang diajarkan oleh para pejuang Puputan Badung.
Atas perjuangannya dalam Perang Puputan Badung, nama I Gusti Ngurah Made Agung diabadikan sebagai nama lapangan, yakni Lapangan Puputan Badung.
Selain itu juga diabadikan dalam bentuk monumen yang terletak di sisi utara lapangan.
"Kami sedang mengusulkan nama jalan I Gusti Ngurah Made Agung. Tentu kami inginnya jalan protokol, nama jalan tol boleh, jalan negara boleh. Yang jelas haruslah nama jalan besar," paparnya.
Karena sosok I Gusti Ngurah Made Agung merupakan Pahlawan Nasional. Sehingga tidak elok jika bukan jalan protokol.
Diharapkannya Pemerintah Kota Denpasar ataupun Pemerintah Provinsi Bali dapat merealisasikannya ketika membuat jalan baru.
"Tidak harus di Denpasar, tidak harus di Bali, di Indonesia pun boleh. Karena beliau Pahlawan Nasional dari Denpasar, Bali. Di seluruh Indonesia juga boleh karena beliau milik Negara Repubik Indonesia," jelasnya.***
Editor : Donny Tabelak