Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Lapor Pak, Jatiluwih Ditetapkan sebagai Desa Wisata Terbaik Dunia oleh PBB

Juliadi Radar Bali • Selasa, 12 November 2024 | 18:05 WIB
Kunjungan wisatawan ke DTW Jatiluwih, Desa Jatiluwih Penebal, Tabanan.
Kunjungan wisatawan ke DTW Jatiluwih, Desa Jatiluwih Penebal, Tabanan.

radarbuleleng.id- Desa Wisata Jatiluwih yang berada di Kecamatan Penebel Tabanan dalam waktu dekat bakal mendapat penghargaan kembali dari UNWTO salah satu Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani Pariwisata Dunia. 

Desa Jatiluwih masuk dalam daftar desa wisata terbaik dunia, meski saat ini ancaman alih fungsi lahan yang masif terjadi di kawasan Warisan Budaya Dunia (WBD) itu. 

Jika tidak ada kendala pada bulan November ini akan diumumkan oleh PBB, Desa Jatiluwih akan ditetapkan sebagai desa wisata terbaik dunia.

Manager Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih I Ketut Jhon Purna mengatakan, penghargaan Best Tourism Village 2024 dengan desa wisata terbaik dunia akan diterima Desa Jatiluwih di bulan November ini dari UNWTO PBB.  

"Kamis besok (14/11) saya akan berangkat ke Colombia untuk mendapat penghargaan Best Tourism Village 2024 desa wisata terbaik dunia," ungkap jhon Purna.

Ia menyebut penetapan sebagai desa terbaik dunia Best Tourism Village by UNWTO ini merupakan pengakuan internasional bagi desa-desa yang menjadi teladan dalam memelihara keasrian kawasan pedesaan, melestarikan keanekaragaman budaya, nilai-nilai lokal dan tradisi serta menjaga keindahan alam. 

Selain itu Desa Wisata Jatiluwih juga bakal mendapat penghargaan dari Kementerian Pariwisata sebagai desa wisata berkelanjutan.

"Ada dua penghargaan yang kami dapat di bulan November ini, mudah-mudah berjalan lancar," tuturnya.  

Kendati bakal mendapat penghargaan dari PBB dengan Desa Jatiluwih sebagai Desa Wisata Terbaik Dunia, namun Jhon Purna menyebut pihaknya masih memiliki pekerjaan rumah yang harus ditangani secara serius.

Yakni soal bagaimana mencegah terjadinya alih fungsi lahan di kawasan subak berstatus warisan budaya dunia. 

Karena beberapa waktu lalu saat perhelatan WWF dilakukan Unesco PBB mengingatkan soal potensi terjadi alih fungsi lahan di Desa Jatiluwih.

"Ini kami harus selesaikan dan tangani," ucapnya. 

Salah satu upaya untuk menjaga pelestarian subak warisan budaya dunia (pertanian).

Pihaknya tengah menyusun sebuah konsensus atau semacam aturan yang disepakati oleh krama desa adat, di desa, pekaseh subak, petani termasuk dari Manajemen DTW Jatiluwih sendiri. 

Hasil dari konsensus ini berupa soal menjaga keberlanjutan luasan lahan subak di Desa Jatiluwih seluas 325 hektar. 

"Inilah yang kami akan bawa ke Pemerintah Daerah untuk dibuat sebuah aturan atau kebijakan berupa Peraturan Bupati atau perda khusus yang menangani masalah di Desa Wisata Jatiluwih," jelasnya.  

Ia menambahkan dengan adanya penghargaan ini imbas bukan saja bagaimana menyadarkan masyarakat desa Jatiluwih untuk terus menjaga keberlangsungan subak.

Melainkan pula berimbas nantinya terhadap kunjungan wisatawan ke DTW Jatiluwih.

"Karena dengan penghargaan ini dampaknya yang pasti ke kunjungan wisata. Dengan prediksi peningkatan kunjungan mencapai 10-15 persen. Dengan rata-rata setiap hari kunjungan 1.000-1.500 orang," tandasnya.***

Editor : Donny Tabelak
#pbb #Jatiluwih #alih fungsi lahan #wisatawan #desa wisata