Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Mengenal Payung Cukup: Payung dengan  Kearifan Lokal. Masih Dimanfaatkan Petani di Lereng Batukaru

Juliadi Radar Bali • Sabtu, 14 Desember 2024 | 18:30 WIB

 

KEARIFAN LOKAL: Payung cukup yang biasa digunakan para petani. Terutama para petani di lereng Gunung Batukaru.
KEARIFAN LOKAL: Payung cukup yang biasa digunakan para petani. Terutama para petani di lereng Gunung Batukaru.

RadarBuleleng.id - Masyarakat Bali yang masih menggeluti kultur agraris di wilayah perbukitan, sebenarnya memiliki kearifan lokal.

Kearifan lokal itu bernama payung cukup. Payung itu menyerupai tas yang digendong para petani.

Payung cukup cukup populer di wilayah pegunungan. Terutama di kawasan pedesaan yang dekat dengan lereng batukaru. Hanya saja kini tidak banyak lagi yang memproduksi, apalgi memilikinya.

Eksistensi payung cukup itu diungkap Made Danu Tirta. Dia adalah pemuda asal Desa Wangaya, Kecamatan Penebel, Tabanan. Sehari-harinya dia juga bertugas sebagai penyuluh agama Hindu pada Kementerian Agama.

Menurut Danu, masyarakat di wilayahnya menyebut payung cukup dengan sebutan ikud. Biasanya saat musim hujan, petani selalu membawa payung tersebut untuk beraktivitas di areal persawahan.

Danu menyebut, payung itu sudah semakin langka. Di desanya, hanya beberapa orang petani saja yang masih bisa membuatnya.

“Paling hanya buat untuk diri sendiri saja. Jadi bisa dibilang langka, karena sudah jarang yang membuat. Tidak ada yang menggunakan,” ujarnya.

Setahu dirinya, payung tersebut sangat kental dengan aktivitas para petani di lereng gunung Batukaru. Dulunya payung cukup ini lebih banyak difungsikan sebagai pelindung diri ketika hujan. 

Bentuk sekilas menyerupai kepala ular cobra. Payung itu melindungi kepala, punggung, hingga pinggul dari hujan. 

Meskipun tidak memiliki fungsi maksimal sebagaimana jas hujan saat ini, namun payung ini dapat melindungi petani dari hujan. Terutama saat melaksanakan aktivitas di sawah maupun ladang. 

"Biasanya petani akan menggunakan payung cukup ini saat nandur (menanam) bibit padi ataupun ketika membajak sawah saat musim hujan," jelasnya. 

Payung itu terbuat dari bahan sederhana. Yakni bambu dan tali. 

Bambu menjadi bahan utama pembuatan payung ini. Jenis bambu yang dipergunakan adalah bambu tali atau bambu apus (Gigantochloa apus). Masyarakat Bali menyebutnya dengan nama tiyingtali.

Bambu apus dianggap memiliki kekuatan yang baik. Bambu tidak mudah patah , lentur, dan mudah didapatkan.

Untuk pembuatan payung cukup, maka bambu yang dipilih adalah bambu yang agak muda. Sehingga bambu tidak mudah pecah. Bambu juga harus memiliki ukuran ruas cukup panjang. 

Sementara tali pengikat menggunakan bahan tradisional. Tali terbuat dari duk atau ijuk. Terkadang juga menggunakan bun atau tanaman rambat.

"Pengerjaannya perlu ketelitian agar menghasilkan payung cukup dengan fungsi maksimal," jelasnya. 

Kini keberadaan dari payung cukup ini mulai langka. Meski dulunya keberadaan payung cukup tersebar di beberapa wilayah Tabanan Bali. 

"Bahkan dulunya penggunaan payung cukup setahu saya juga digunakan oleh petani di daerah wilayah Bangli," cerita Danu. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #payung #petani #Batukaru