RadarBuleleng.id - Kesadaran masyarakat Bali membuang sampah pada tempatnya masih rendah. Masih banyak warga yang membuang sampah ke sungai.
Seperti yang terjadi di Denpasar. Di ibukota provinsi Bali ini, sungai masih dibanjir dengan sampah. Khususnya sampah rumah tangga.
Setiap hari, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Denpasar mencatat rata-rata 25,42 ton sampah. Sampah tersebut diangkut dari sembilan aliran sungai yang melintasi wilayah kota.
Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Kota Denpasar, Gandhi Dananjaya Suarka menyebut, seluruh sungai tersebut telah dilengkapi trash trap di bagian hilir dan jaring sampah di bagian tengah untuk menahan limbah yang terbawa arus.
Setiap hari sampah yang tertahan bisa mencapai lebih dari 25 ton. Sekitar 50 persen merupakan sampah organik seperti daun kering dan sisa makanan.
Sisanya terdiri dari 40 persen sampah anorganik seperti botol plastik, kantong kresek, dan kaleng.
“Sisanya lagi, sekitar 10 persen, adalah sampah residu seperti pembalut, popok, dan sachet,” ungkap Gandhi.
Baca Juga: Inspiratif! Resepsi Pernikahan Pasangan Suami Istri di Bali, Tanpa Sampah Plastik
Sembilan sungai yang menjadi fokus pembersihan antara lain Tukad Badung yang bermuara ke Waduk Muara, Tukad Ayung ke Pantai Padanggalak, Tukad Mati ke Pantai Kuta, Tukad Loloan ke Pantai Sanur, hingga Tukad Pemogan yang bermuara ke Pantai Pemogan.
Sungai-sungai lain seperti Ngenjung, Punggawa, Rangda, dan Pekaseh juga masuk dalam daftar rutin pembersihan.
Setiap hari Dinas PUPR Denpasar harus mengerahkan 105 orang personel yang disebar di masing-masing titik sungai.
Gandhi mengakui volume sampah cenderung meningkat pada momen-momen hari besar keagamaan, seperti saat upacara Pengerupukan beberapa waktu lalu.
Hal serupa juga diprediksi akan terjadi pada Hari Raya Galungan mendatang.
Sayangnya, kebiasaan membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai, masih banyak dilakukan warga.
“Karena dianggap cara tercepat, termudah, dan tidak butuh biaya. Ini yang terus kami sosialisasikan, bahwa sungai bukan tempat membuang sampah,” tegasnya.
Ia menegaskan, sungai adalah sumber kehidupan. Tempat yang suci, menopang keanekaragaman hayati, menyediakan air bersih, dan menjadi bagian penting dari ekosistem kota.
“Masyarakat yang beradab adalah mereka yang tidak membuang sampah ke sungai,” tandas Gandhi. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya