RadarBuleleng.id - Gubernur Bali, Wayan Koster meminta agar dua unit pembangkit listrik di Bali, segera menghentikan operasionalnya dan beralih ke sumber energi lain.
Adapun kedua pembangkit listrik itu adalah Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Pemaron, serta Pembangkit Listrik Tenaga Diesel dan Gas (PLTDG) Pesanggaran.
Adapun PLTGU Pemaron di Kabupaten Buleleng, belum lama ini menjadi sorotan. Lantaran operasional pembangkit listrik itu memicu kebisingan dan getaran bagi warga sekitar.
Rupanya, mesin pembangkit yang dioperasikan bukanlah pembangkit gas atau uap. Melainkan pembangkit diesel. Sehingga menimbulkan efek bagi masyarakat sekitar.
Gubernur Koster meminta Perusahaan Listrik Negara (PLN) segera mengalihkan penggunaan bahan bakar, yang awalnya menggunakan solar menjadi gas.
Ia mengakui jika peralihan sumber energi dari minyak menjadi gas, tidak mudah. Sebab suplai dari luar Bali terbatas.
“Tapi jalannya tidak mulus. Suplai gas terhambat. Akhirnya pakai solar lagi. Ada hal yang harus diselesaikan,” kata Koster.
Baca Juga: Picu Kebisingan, LSM Minta PLTGU Pemaron Berhenti Beroperasi
Koster mengaku telah bertemu dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).
Ia mengajukan penambahan pembangkit listrik dengan tenaga gas di Bali. Targetnya pembangkit listrik anyar itu bisa memproduksi listrik hingga 900 megawatt.
Adapun ketersediaan listrik di Bali saat ini sudah menyentuh angka 1.400 megawatt. Sementara kebutuhan listrik 1.200 megawatt.
Apabila pembangkit listrik anyar itu terealisasi, Bali akan surplus energi. ”Tahun 2029 kalau bisa yang 900 mw ini sudah selesai,” ujarnya.
Khusus soal suplai gas, ia menyebut hal itu sudah diselesaikan. Rencananya gas akan disuplai dari Papua Barat.
Di sisi lain, Koster juga meminta agar PLTU Celukan Bawang segera mencari sumber alternatif energi lain. Tidak lagi bergantung pada batubara.
Ia mengaku telah mencabut rekomendasi penambahan pembangkit batubara di kawasan Celukan Bawang.
“Saya melarang pembangkit tenaga listrik menggunakan bahan bakar batu bara. Saya stop ini, tidak boleh lagi di Bali,” tandasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya