Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Imbas Cuaca Buruk, Nelayan di Bali Berhenti Melaut Meski Sedang Musim Lobster

Juliadi Radar Bali • Rabu, 30 Juli 2025 | 21:36 WIB

 

CUACA BURUK: Nelayan di Tabanan, Bali, mendorong perahu ke tepian. Nelayan tak berani melaut, meski sedang musim lobster.
CUACA BURUK: Nelayan di Tabanan, Bali, mendorong perahu ke tepian. Nelayan tak berani melaut, meski sedang musim lobster.

RadarBuleleng.id – Cuaca ekstrem berupa angin kencang dan gelombang tinggi melanda perairan selatan Bali dalam beberapa hari terakhir. 

Kondisi tersebut membuat nelayan di kawasan Pantai Yeh Gangga, Desa Sudimara, serta nelayan di Pantai Pasut dan Tanah Lot berhenti melaut demi keselamatan.

Gelombang laut yang mencapai ketinggian lebih dari 3 meter disertai angin kencang membuat aktivitas mencari ikan dan lobster dihentikan sementara. 

“Sudah dari kemarin kondisi laut tidak bersahabat. Kami semua sepakat untuk tidak melaut,” ujar Made Purwadi, nelayan asal Pantai Yeh Gangga, Selasa (29/7/2025).

Purwadi menyebut, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), cuaca buruk diperkirakan masih akan berlangsung selama hampir sepekan ke depan. 

Padahal saat ini tengah berlangsung musim panen lobster yang biasanya memberi hasil melimpah.

“Ini masa panen lobster. Kalau melaut, bisa dapat Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta per trip. Tapi gelombangnya terlalu tinggi, sangat beresiko,” keluhnya.

Baca Juga: Dampak Gelombang Tinggi di Pesisir Bali, Perahu Nelayan di Jembrana Hancur

Untuk mencegah kerusakan, para nelayan menepi dan menarik jukung ke daratan. Sembari menunggu cuaca membaik, sebagian nelayan memanfaatkan waktu dengan memperbaiki perahu dan alat tangkap seperti bubu lobster. 

Ada pula yang beralih sementara mencari penghasilan dengan mengumpulkan barang rongsokan.

“Ada yang servis jukung, servis bubu, dan ada juga yang nyambi cari barang bekas. Daripada melaut dengan risiko tinggi, lebih baik menunggu kondisi aman,” jelas Purwadi.

Cuaca ekstrem juga menyebabkan sejumlah bubu lobster yang sebelumnya dipasang di tengah laut hilang terbawa arus atau rusak akibat hantaman ombak. 

“Risiko paling besar sekarang adalah bubu hilang, karena terseret arus,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh I Ketut Dolia, nelayan lain di kawasan tersebut. Ia mengakui, bulan Juli hingga November merupakan puncak musim lobster. Namun cuaca yang tak bersahabat memaksa para nelayan menghentikan aktivitas.

“Musimnya memang bagus, tapi gelombang tinggi dan angin kencang bikin kami tak bisa berbuat banyak. Demi keselamatan, lebih baik menunda,” pungkasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#jukung #nelayan #cuaca #pantai #bmkg #yeh gangga #perairan #perahu #gelombang tinggi #angin kencang #lobster #cuaca ekstrem