Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Soal Biaya Kremasi Rp 3,5 Miliar, Begini Penjelasan RSUP Prof. Ngoerah Sanglah

Eka Prasetya • Kamis, 4 September 2025 | 22:20 WIB

 

KREMASI: Proses kremasi jenazah terlantar yang selama ini dititipkan di RSUP Prof. Ngoerah Sanglah. Kremasi dilakukan di Krematorium Kerobokan, Bali.
KREMASI: Proses kremasi jenazah terlantar yang selama ini dititipkan di RSUP Prof. Ngoerah Sanglah. Kremasi dilakukan di Krematorium Kerobokan, Bali.

RadarBuleleng.id - Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah di Sanglah, Denpasar, angkat bicara terkait biaya Rp 3,5 miliar yang mencuat dalam proses kremasi jenazah terlantar.

Menurut pihak rumah sakit, angka tersebut muncul karena terkait dengan biaya perawatan maupun biaya pemulasaraan terhadap jenazah yang terlantar.

Kasubbag Humas RSUP Prof. Ngoerah Sanglah, I Dewa Ketut Kresna mengatakan, jenazah yang dikremasi merupakan jenazah yang terlantar selama bertahun-tahun.

Bahkan ada pula jenazah yang sudah dititipkan sejak tahun 2021 silam. Alias sudah berada di ruang jenazah selama empat tahun belakangan.

Kresna menjelaskan, sebagian jenazah yang dikremasi itu, awalnya merupakan pasien dalam kategori pelayanan intensif.

Mereka datang dalam kondisi kritis dan memerlukan pelayanan segera. “Tidak ada tanggungan asuransi maupun BPJS. Sehingga dikategorikan pasien umum,” ujar Kresna, Kamis (4/9/2025).

Dalam proses perawatan, mereka mendapatkan perawatan intensif maupun obat-obatan paten.

Tim medis, jelas Kresna, tetap memberikan pelayanan maksimal. Meskipun penanggung jawab pasien belum jelas.

“Karena standar pelayanan rumah sakit begitu. Layani dulu, prioritaskan keselamatan pasien. Meskipun penanggungjawab dan asuransinya belum jelas,” jelas Kresna.

Namun dalam proses perawatan, pasien tersebut meninggal dunia. Sayangnya biaya perawatan tidak ada yang menanggung.

Pihak rumah sakit kemudian menyemayamkan jenazah instalasi pemulasaraan jenazah. Harapannya ada keluarga yang datang dan kemudian menanggung biaya pengobatan.

Sayangnya setelah dinanti selama bertahun-tahun, tidak ada yang datang mengambil jenazah. Sehingga jenazah-jenazah itu masuk dalam kategori terlantar.

“Bahkan ada jenazah yang sudah disemayamkan sejak tahun 2001. Sehingga biaya perawatan selama berstatus pasien dan biaya pemulasaraan jenazah, itu yang ditanggung rumah sakit. Nilai akumulasinya mencapai Rp 3,5 miliar lebih,” ujarnya.

Sementara untuk biaya kremasi menjadi tanggungan Pemprov Bali melalui Dinas Sosial P3A Bali.

Lebih Lanjut Kresna mengatakan, pihaknya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu proses penanganan jenazah terlantar tersebut, sehingga dapat dikremasi dengan layak.

Baik itu pemerintah, staf, desa adat, pengelola krematorium, maupun relawan yang terlibat dalam hal tersebut. 

Seperti diberitakan sebelumnya, RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah Sanglah melakukan kremasi terhadap 25 jenazah terlantar. Dari 25 jenazah tersebut, lima jenazah diantaranya merupakan Warga Negara Asing (WNA). (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#meninggal #bpjs #Sanglah #pemulasaraan #asuransi #rumah sakit #denpasar #biaya #kremasi #pasien #pelayanan #kritis #perawatan #jenazah #terlantar