Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Mangrove di Tahura Ngurah Rai Bali Meranggas, Peneliti Unud Temukan Pencemaran Solar

Ni Kadek Novi Febriani • Senin, 2 Maret 2026 | 11:21 WIB

 

MERANGGAS: Pohon mangrove yang meranggas di kawasan Tahura Ngurah Rai.
MERANGGAS: Pohon mangrove yang meranggas di kawasan Tahura Ngurah Rai.

RadarBuleleng.id - Misteri kematian massal mangrove di kawasan hutan bakau di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai mulai menemukan titik terang.

Tim peneliti dari Universitas Udayana mengungkap indikasi kuat pencemaran bahan bakar minyak (BBM) jenis solar sebagai penyebab utama matinya tanaman mangrove.

Koordinator tim peneliti, Dewa Gede Wiryangga Selangga, menjelaskan investigasi dilakukan melalui pengambilan sampel tanah, air, dan minyak di sekitar lokasi terdampak. 

Sampel tersebut kemudian diuji menggunakan metode Gas Chromatography–Mass Spectrometry (GC-MS) untuk mengidentifikasi komposisi senyawa kimia, khususnya hidrokarbon minyak bumi.

“Pengujian GC-MS kami lakukan pada 24–26 Februari 2026. Hasilnya menunjukkan adanya senyawa hidrokarbon pada tanah mangrove dengan rentang atom karbon C15 sampai C24 yang mengarah kuat pada kontaminasi diesel atau solar,” jelasnya.

Dari hasil uji laboratorium, sampel tanah dinyatakan positif tercemar limbah minyak bumi, terutama solar. Pada sampel air tidak ditemukan kandungan hidrokarbon. 

Namun, tim menduga kontaminasi telah berpindah ke perairan laut setelah dilakukan proses pembersihan di darat. Sementara itu, pada sampel minyak terdeteksi komponen khas bahan bakar.

Secara ilmiah, endapan minyak di substrat tanah membuat akar mangrove kesulitan menyerap air dan unsur hara. 

Minyak yang meresap hingga ke jaringan kambium merusak sel tanaman, menyebabkan daun menguning, rontok, lalu mengering hingga mati.

“Pola kematiannya tidak sporadis, tetapi dalam satu blok populasi yang sama dan tidak menyebar acak. Itu ciri gangguan abiotik, bukan serangan patogen,” tambahnya.

Tim peneliti merekomendasikan pemantauan rutin kesehatan mangrove di kawasan Tahura Ngurah Rai, isolasi area tercemar, penggunaan bakteri pendegradasi minyak untuk bioremediasi, rehabilitasi substrat sebelum penanaman ulang, hingga audit menyeluruh infrastruktur energi di pesisir Bali Selatan.

Sorotan juga datang dari anggota DPR RI, Nyoman Parta. Ia menyebut informasi dari pegiat lingkungan mengarah pada dugaan kebocoran pipa milik Pertamina di sekitar lokasi.

“Saya berharap kepolisian serius menindaklanjuti laporan ini. Kalau mangrove mati akibat bocornya pipa Pertamina, itu tidak boleh dibiarkan. Ini menyangkut lingkungan hidup dan keselamatan masyarakat pesisir,” tegasnya.

Menurut Parta, indikasi logam berat dan solar sebelumnya juga pernah ditemukan di lokasi yang sama. Ia menduga kebocoran bisa terjadi akibat korosi pipa yang tak lagi layak pakai.

“Kalau pipa sudah melewati umur teknis dan tidak diganti, risiko korosi pasti ada. Begitu bocor lalu diperbaiki, tidak cukup hanya menambal pipa. Area terdampak juga harus dibersihkan secara menyeluruh. Kalau tidak, residu minyak tetap merusak tanah dan akar mangrove,” ujarnya.

Ia mengingatkan, kematian mangrove bukan persoalan sepele. Hutan bakau berfungsi sebagai benteng alami penahan abrasi, gelombang besar, hingga tsunami. 

Selain itu, kawasan tersebut menjadi habitat penting bagi ikan, kepiting, burung, dan biota laut lain yang menopang ekonomi nelayan.

“Kalau mangrove mati, benteng terakhir pesisir hilang. Jangan sampai kita baru sadar ketika abrasi makin parah atau bencana datang,” tandasnya.

Parta meminta, apabila terbukti ada unsur kelalaian, kasus ini harus diproses sesuai Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup agar memberi efek jera dan mencegah kejadian serupa terulang. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#peneliti #hutan bakau #tahura #Senyawa #bahan bakar minyak #bbm #ngurah rai #minyak #mangrove #kimia #universitas udayana #investigasi