RadarBuleleng.id - Keluhan warga Kelurahan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, kembali mencuat.
Kali ini, lalu lintas truk pengangkut hewan menuju kandang karantina memicu gangguan serius setelah sebuah kendaraan bermuatan ternak memutus kabel listrik milik PLN.
Insiden tersebut terjadi akibat penutup truk yang terlalu tinggi hingga menyangkut kabel listrik. Akibatnya, aliran listrik di kawasan permukiman warga sempat padam.
Lurah Gilimanuk, Ida Bagus Tony Wirahadikusuma, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebut persoalan serupa sebenarnya sempat mereda, namun kini kembali muncul.
”Masalah sebelumnya sudah berakhir. Hanya saja tadi ada kejadian truk terlalu tinggi penutup sapinya hingga memutus kabel PLN dan listrik warga padam,” ujarnya.
Peristiwa itu terjadi saat warga tengah melaksanakan gotong royong. Truk yang melintas sempat dihentikan warga sebelum pihak kelurahan berkoordinasi dengan PLN untuk penanganan lebih lanjut.
“Untuk kerusakan dan kerugian, kami belum mendapat konfirmasi dari pihak PLN,” tambahnya.
Keluhan warga terhadap aktivitas truk pengangkut hewan ini bukan hal baru. Pada 2025 lalu, warga juga sempat memprotes polusi debu, bau kotoran ternak, hingga antrean panjang kendaraan besar yang melintas di gang pemukiman.
Bahkan, warga sempat menyampaikan petisi kepada pihak karantina hewan Satuan Pelayanan Gilimanuk sebagai pengelola lokasi pemeriksaan hewan sebelum dikirim ke luar Bali.
Lokasi yang berada di tengah pemukiman dinilai menimbulkan bau menyengat, ditambah kotoran hewan yang kerap berceceran di akses jalan.
Tak hanya itu, dampak lalu lintas kendaraan besar juga dirasakan pada fasilitas umum. Jalan lingkungan mengalami kerusakan, taman terganggu, serta kabel listrik dan jaringan provider kerap tersangkut karena posisi yang rendah.
Warga menilai akses jalan di kawasan tersebut tidak dirancang untuk dilintasi truk berukuran besar, terlebih saat volume kendaraan meningkat dan memadati permukiman.
Warga pun ingin ada penanganan serius sehingga aktivitas kendaraan menuju kandang karantina tidak lagi mengganggu keselamatan dan kenyamanan lingkungan.
”Kalau masalah yang dulu sudah selesai,” tegasnya.
Sebelumnya, protes warga juga sempat memuncak pekan lalu. Warga memblokade gang di kawasan padat penduduk yang kerap dijadikan jalur alternatif bus dan truk menuju Pelabuhan Gilimanuk.
Menurut warga, gang tersebut sejatinya hanya layak dilintasi kendaraan kecil seperti sepeda motor dan mobil pribadi. Namun saat jalur utama menuju pelabuhan macet parah, kendaraan besar nekat masuk ke gang permukiman.
Akibatnya, kerusakan jalan hingga gangguan fasilitas umum tak terhindarkan. Kondisi ini memicu kemarahan warga yang akhirnya melakukan aksi blokade sebagai bentuk protes. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya