Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

UMKM Buleleng Buka Peluang Besar Jadi Mitra Dapur MBG. Berpotensi Dongkrak Ekonomi Lokal

Eka Prasetya • Minggu, 7 Desember 2025 | 16:04 WIB

 

SUPLAI DAPUR MBG: Suasana di UMKM Rumah Roti yang menyuplai 10 ribu roti per minggu untuk dapur MBG.
SUPLAI DAPUR MBG: Suasana di UMKM Rumah Roti yang menyuplai 10 ribu roti per minggu untuk dapur MBG.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Peluang pelaku UMKM di Buleleng untuk menjadi pemasok kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kian terbuka lebar. 

Pemkab Buleleng kini aktif mendorong UMKM lokal agar dapat bergabung sebagai mitra dapur Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di Bali Utara.

Hal ini terungkap saat tim Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan UMKM Buleleng melakukan pemantauan langsung ke rumah produksi dua UMKM binaan. Masing-masing Rumah Roti dan Dapoer Bu Willy yang saat ini sudah menjadi pemasok rutin untuk SPPG.

UMKM Rumah Roti tercatat memasok hingga 10 ribu potong kue per minggu ke empat titik dapur MBG. Masing-masing di Patemon, Kosala, Pemaron, dan Penarukan. 

Sementara UMKM Dapoer Bu Willy memasok stick keju sebanyak 2.115 pcs dan 1.500 botol susu kedelai setiap minggu ke SPPG Patemon.

Kapasitas produksi ini dianggap sebagai bukti bahwa UMKM Buleleng mampu menjadi tulang punggung rantai pasokan MBG.

Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan UMKM Buleleng, Dewa Made Sudiarta menegaskan, pihaknya ingin memastikan UMKM Buleleng benar-benar terhubung dengan dapur MBG.

“Kami sudah lakukan UMKM Expo, dan di sana ada MoU antara UMKM dengan SPPG BGN. Kami sudah beberapa melakukan kunjungan untuk memastikan kesiapan mereka sebagai pemasok. Rumah Roti misalnya mampu 20 ribu pcs per minggu, sedangkan Abon Ma’ Ira juga sudah suplai abon untuk dapur MBG,” ujarnya.

Menurut Dewa Sudiarta, kolaborasi ini bukan hanya soal distribusi makanan, tetapi bagian penting dari skema pemberdayaan ekonomi lokal yang berkelanjutan.

“UMKM sebenarnya mampu menyuplai kebutuhan dapur MBG. Jenis produk yang kami dorong adalah makanan kering siap saji seperti abon, roti, pastry—dan semuanya sudah melalui kurasi ahli gizi BGN. Ini usaha dengan perputaran modal bagus, tanpa sistem bon,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa kebutuhan MBG sangat besar. Dengan 135 ribu siswa penerima dan paket makanan kering dibagikan dua kali seminggu, peluang pasokannya dinilai sangat potensial.

Lebih lanjut Sudiarta mengatakan, setidaknya ada dua kriteria utama agar UMKM dapat bekerja sama dengan dapur MBG. 

Pertama, UMKM merupakan binaan pemerintah, sehingga mudah dipantau dan dibina. Kedua, lolos verifikasi ahli gizi, agar produk yang dihasilkan memenuhi standar gizi MBG.

Saat ini Buleleng memiliki sekitar 200 UMKM olahan pangan yang secara potensi bisa disiapkan sebagai pemasok. 

Namun hanya UMKM yang benar-benar siap memenuhi permintaan secara rutin dan berkelanjutan yang akan diprioritaskan.

Kadis Sudiarta menegaskan bahwa MBG berpotensi menciptakan dampak ekonomi luar biasa di Bali Utara, terutama bagi UMKM berbasis pangan seperti produsen roti dan pastry, pembuat stik keju atau keripik, pengolahan abon, produsen kacang dan camilan kering, hingga produsen susu kedelai

“UMKM kita semangat. Kami akan dampingi terus dan pertemukan kembali dengan BGN agar dapat terhimpun. Satu pengusaha saja tidak akan cukup. Kita ingin banyak UMKM terlibat agar manfaatnya semakin luas,” tegasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#Makan Bergizi Gratis #Mbg #dinas perdagangan #badan gizi nasional #SPPG #Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi #kue #umkm #pemkab buleleng #BGN #bali utara #produksi #buleleng #abon #roti