Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Cuaca Ekstrem Produksi Garam Tradisional di Kusamba Terhenti

Dewa Ayu Pitri Arisanti • Minggu, 1 Februari 2026 | 07:02 WIB

 

BERHENTI PRODUKSI: Petani garam di Kusamba berhenti memproduksi garam karena imbas cuaca buruk.
BERHENTI PRODUKSI: Petani garam di Kusamba berhenti memproduksi garam karena imbas cuaca buruk.

RadarBuleleng.id - Hujan deras disertai gelombang tinggi yang terus menerjang pesisir Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, tak hanya menghambat aktivitas nelayan. 

Kondisi cuaca ekstrem itu juga memukul para petani garam tradisional yang menggantungkan produksi sepenuhnya pada panas matahari.

Salah satunya dialami Nengah Kertayasa, petani garam tradisional di Pantai Karangnadi, Desa Kusamba. 

Ia mengaku sudah berhenti memproduksi garam sejak tiga bulan terakhir akibat cuaca yang tak bersahabat.

“Hujan deras yang terus mengguyur, ditambah gelombang tinggi yang menerjang tempat penggaraman, membuat saya tidak bisa produksi garam tradisional Kusamba. Kalau tempat menyiram air lautnya terkena hujan, sudah tidak bisa produksi garam di hari itu,” ujarnya.

Baca Juga: Selundupkan Narkotika ke Bali, WNA Ukraina Dapat Hukuman 20 Tahun Penjara

Selama tidak berproduksi, Kertayasa hanya mengandalkan stok garam yang tersisa. Saat ini, persediaan yang dimilikinya tinggal sekitar 50 kilogram. 

Padahal, dalam kondisi cuaca normal dengan panas terik, ia mampu menghasilkan lebih dari 10 kilogram garam per hari.

“Kalau panas terik, satu hari bisa menghasilkan 10 kilogram lebih. Tapi sejak awal tahun ini cuacanya tidak menentu, sering hujan,” katanya.

Di tengah terhambatnya produksi, permintaan garam tradisional Kusamba juga ikut menurun. 

Jika sebelumnya pembeli kerap datang langsung ke Pantai Karangnadi untuk kebutuhan spa, konsumsi, hingga keperluan lainnya, kini pesanan hanya mengandalkan koperasi setempat.

“Kami sekarang mengandalkan pesanan dari koperasi sebanyak 100 kilogram per bulan untuk produksi garam beryodium. Pemesanannya melalui kelompok dan dibagi rata. Per orang bisa dapat sekitar 10 kilogram, tergantung stok masing-masing petani,” terangnya.

Sepinya permintaan garam tradisional Kusamba diduga juga dipicu maraknya peredaran garam palsu yang mengatasnamakan garam Kusamba dengan harga lebih murah di pasaran. 

Padahal, harga garam tradisional Kusamba di Pantai Karangnadi berkisar Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per kilogram.

“Susah kami jual di pasar tradisional karena pembeli maunya harga murah,” ujar pria yang telah menekuni usaha garam sejak 1984 itu.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari selama cuaca buruk dan sepinya pembeli, Kertayasa mengaku mengandalkan penjualan sari air laut atau nigari, yang juga dikenal dengan sebutan yeh kembar. Nigari merupakan bahan baku pembuatan tahu.

Dalam kondisi cuaca cerah, ia mampu memproduksi satu jerigen nigari berukuran 35 liter per hari. Namun saat mendung, proses produksi bisa memakan waktu hingga dua hari. Untuk satu jerigen, dijual dengan harga Rp 100 ribu. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#petani garam #nelayan #cuaca #Dawan #garam #koperasi #pantai #pasar #garam tradisional #pesisir #klungkung #hujan #hujan deras #Kusamba #cuaca ekstrem