RadarBuleleng.id - Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat realisasi luas panen padi sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai sekitar 96.444 hektare.
Angka tersebut mengalami penurunan sebesar 7.360 hektare atau 7,09 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat seluas 103.804 hektare.
Penurunan luas panen turut berdampak pada produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk.
Sepanjang 2025, produksi beras Bali tercatat sebanyak 331.531 ton. Jumlah ini turun 26.848 ton atau 7,49 persen dibandingkan produksi beras tahun 2024 yang mencapai 358.379 ton.
Fungsional Ahli Madya BPS Provinsi Bali, Made Agus Adnyana, menjelaskan bahwa produksi padi pada 2025 mencapai 587.866 ton gabah kering giling (GKG).
“Jumlah ini mengalami penurunan sebanyak 47.607 ton atau 7,49 persen dibandingkan produksi padi pada 2024 yang sebesar 635.473 ton GKG,” ujar Adnyana saat ditemui di Denpasar belum lama ini.
Ia menyebutkan, pola panen padi pada 2025 relatif sama dengan tahun sebelumnya. Puncak panen tetap terjadi pada bulan Mei, dengan luas panen mencapai 14.122 hektare.
Namun, angka tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan puncak panen Mei 2024.
“Luas panen pada Mei 2025 turun sekitar 2.379 hektare atau 14,42 persen dibandingkan Mei 2024,” jelasnya.
Sementara itu, potensi luas panen padi pada periode Januari hingga Maret 2026 diperkirakan mencapai 16.466 hektare.
Angka tersebut juga menunjukkan penurunan sekitar 3.857 hektare atau 18,98 persen dibandingkan luas panen pada periode yang sama tahun sebelumnya, yakni Januari–Maret 2025 yang mencapai 20.323 hektare.
BPS menilai tren penurunan ini perlu menjadi perhatian bersama guna menjaga ketahanan pangan daerah, terutama dalam menghadapi dinamika iklim dan alih fungsi lahan pertanian di Bali. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya