Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Tanpa Pesaing, Desa Baktiseraga Panen Nila hingga 2 Ton. Raup Ratusan Juta per Tahun

Francelino Junior • Kamis, 30 April 2026 | 19:16 WIB
PANEN: Desa Baktiseraga berhasil panen ikan nila sebanyak 2 ton. Jadi sumber pemasukan bagi desa. (Desa Baktiseraga untuk Radar Buleleng)
PANEN: Desa Baktiseraga berhasil panen ikan nila sebanyak 2 ton. Jadi sumber pemasukan bagi desa. (Desa Baktiseraga untuk Radar Buleleng)

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Upaya memperkuat ketahanan pangan terus digencarkan hingga tingkat desa di Kabupaten Buleleng. 

Di tengah dominasi peternakan babi dan ayam, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng, justru mengambil jalur berbeda dengan membudidayakan ikan nila—komoditas yang nyaris tanpa pesaing di wilayah sekitarnya.

Perbekel Desa Baktiseraga, Gusti Putu Armada, mengungkapkan pilihan tersebut berangkat dari peluang yang belum banyak dilirik desa lain.

“Kami melihat belum ada desa lain yang mengembangkan ikan nila sebagai program ketahanan pangan. Ini jadi peluang,” ujarnya.

Selain minim kompetitor, ikan nila dipilih karena pertumbuhannya cepat dan memiliki nilai gizi tinggi, sehingga mampu mendukung kebutuhan protein hewani masyarakat.

Program ini mulai diuji coba pada 2024 dengan dua kolam yang ditempatkan di kantor desa. Dalam pengembangannya, Pemdes menerapkan sistem bioflok.

Sistem bioflok merupakan teknologi budidaya yang memanfaatkan mikroorganisme untuk mengolah limbah menjadi pakan alami. 

Metode bioflok sengaha dipilih karena dinilai lebih efisien, hemat air dan pakan, serta ramah lingkungan.

”Kami belajar dan kembangkan, ternyata memiliki prospek. Apalagi tidak ada desa lain yang kembangkan,” kata Armada.

Hasil uji coba yang menjanjikan mendorong perluasan pada 2025. Jumlah kolam ditambah menjadi 14 unit.

Sebanyak sepuluh kolam dikelola BUMDes Kartika Lestari di lahan sewa Desa Tegallinggah, Kecamatan Sukasada. Sementara empat kolam lainnya berada di kantor desa di bawah pengelolaan Pemdes.

Namun, keberhasilan awal sempat memicu “kesalahan strategi”. Armada mengakui, seluruh kolam sempat ditebar benih secara bersamaan tanpa perencanaan matang, sehingga panen terjadi serentak dengan hasil melimpah hingga hampir dua ton.

Kondisi itu sempat membuat pengelola kewalahan dalam pemasaran. Bahkan, Pemkab Buleleng turut dilibatkan untuk membantu distribusi hasil panen. 

Untuk memastikan kualitas, Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra bahkan diajak mencicipi langsung hasil budidaya tersebut.

Kini, pola budidaya telah diperbaiki. Penebaran benih dilakukan secara bertahap setiap dua bulan untuk dua kolam, sehingga panen bisa berkelanjutan dan lebih mudah dipasarkan. Masa panen sendiri berkisar empat hingga lima bulan per kolam.

Dari sisi ekonomi, budidaya ini cukup menjanjikan. Satu kolam mampu menghasilkan pendapatan kotor sekitar Rp 6–7 juta. Dengan total 14 kolam, potensi pendapatan mencapai sekitar Rp 80 juta dalam sekali panen.

Dalam setahun, panen dapat dilakukan dua kali, sehingga total pendapatan bisa menembus Rp 160 juta. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#ketahanan pangan #ikan nila #baktiseraga #buleleng #bumdes