SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Pemkab Buleleng mulai serius mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menembus pasar internasional.
Sejumlah produk olahan pangan seperti sambal, keripik, hingga aneka camilan kini dipersiapkan untuk masuk pasar ekspor melalui program pendampingan dan kurasi bersama Kementerian Perdagangan serta Bea Cukai.
Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan UKM (Dagperin) Buleleng, Dewa Made Sudiarta mengatakan, saat ini pemerintah daerah masih fokus memperkuat kapasitas UMKM agar memahami mekanisme ekspor sekaligus standar produk yang dibutuhkan pasar luar negeri.
Menurutnya, sebagian besar UMKM di Buleleng sebenarnya memiliki kualitas produk yang cukup baik.
Namun masih banyak yang belum siap dari sisi keberlanjutan produksi dan kemampuan memenuhi permintaan pasar ekspor secara rutin.
“Yang masih menjadi tantangan itu keberlanjutan produksi dan kuantitas barang. Banyak UMKM sebenarnya punya produk bagus, tetapi belum siap memenuhi kebutuhan pasar ekspor secara rutin,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).
Sudiarta mengungkapkan, saat ini baru sebagian kecil UMKM Buleleng yang mampu melakukan ekspor secara mandiri.
Mayoritas masih bekerja sama dengan eksportir maupun lembaga pemasaran di Denpasar dan daerah lainnya.
Meski begitu, beberapa produk UMKM Buleleng sebenarnya sudah memiliki pengalaman masuk pasar luar negeri.
Di antaranya produk kerajinan berbahan limbah kayu binaan pemerintah daerah hingga produk milik pelaku usaha lokal seperti Sumayana.
Pemkab Buleleng kini mencoba memperluas peluang ekspor melalui pola baru yang difasilitasi pemerintah pusat.
Jika sebelumnya ekspor identik dengan pengiriman satu kontainer penuh, kini UMKM dapat mengirim produk secara kolektif melalui etalase perdagangan yang disiapkan Kementerian Perdagangan.
“Sekarang peluang ekspor lebih terbuka karena UMKM bisa masuk secara berkelompok lewat etalase perdagangan yang difasilitasi pemerintah,” jelasnya.
Saat ini, sekitar 10 UMKM asal Buleleng disebut telah lolos tahap kurasi awal untuk mengikuti pendampingan lanjutan menuju pasar ekspor. Mayoritas bergerak di sektor pangan olahan.
Produk seperti sambal, keripik, dan aneka camilan dinilai memiliki potensi pasar cukup menjanjikan di kawasan Timur Tengah, Hong Kong, hingga Singapura.
“Pasar untuk produk olahan pangan cukup bagus, terutama aneka camilan dan produk olahan lainnya,” imbuh Sudiarta.
Program pendampingan ekspor tersebut dilakukan bersama Export Center Surabaya milik Kementerian Perdagangan dan turut didukung Bea Cukai yang kini membuka layanan pendampingan ekspor di Buleleng.
Untuk bisa masuk pasar internasional, UMKM diwajibkan memenuhi sejumlah standar, mulai dari kualitas produk, legalitas usaha, hingga sertifikasi seperti halal untuk produk pangan olahan.
“Masih banyak UMKM yang belum paham kalau ekspor itu sebenarnya mudah sepanjang mereka bisa memenuhi standar dan kualitas yang dibutuhkan pasar,” terangnya.
Selain membidik pasar luar negeri, Pemkab Buleleng juga tetap fokus memperkuat pasar lokal bagi UMKM.
Salah satunya dengan menjajaki kerjasama pemasaran produk lokal ke jaringan hotel yang ada di wilayah Buleleng.
Langkah tersebut dinilai penting agar pelaku UMKM memiliki pasar yang kuat di daerah sebelum memperluas penetrasi ke pasar internasional. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya