SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng tengah menghadapi tekanan berat akibat melonjaknya biaya operasional akibat menikatnya nilai tukar dolar.
Tidak hanya harga bahan bakar minyak (BBM) yang meroket, sejumlah material utama untuk pembangunan dan pemeliharaan jaringan air bersih juga mengalami kenaikan harga hingga 60 persen. Salah satunya harga pipa.
Kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi perusahaan daerah yang bertugas menyediakan layanan air bersih bagi masyarakat.
Di tengah kebutuhan pengembangan jaringan dan perawatan infrastruktur yang terus berjalan, biaya operasional justru semakin membengkak.
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng, I Made Lestariana mengatakan gejolak geopolitik global turut memberikan dampak langsung terhadap operasional perusahaan.
Pelemahan nilai tukar rupiah membuat harga berbagai bahan baku, khususnya material berbahan plastik seperti pipa PVC, terus meningkat.
"Dampak geopolitik cukup terasa. Kurs rupiah melemah dan harga material berbahan plastik naik. Bahkan kenaikan harga material antara 30 persen hingga 60 persen,* ujarnya.
Menurut Lestariana, kenaikan harga material tersebut memengaruhi berbagai program pengembangan jaringan yang rutin dilakukan setiap tahun.
Namun, tantangan terbesar saat ini justru datang dari lonjakan biaya operasional armada mobil tangki.
Perumda Tirta Hita saat ini mengoperasikan empat unit mobil tangki untuk melayani kebutuhan masyarakat, terutama saat terjadi gangguan distribusi air atau di daerah yang belum terjangkau jaringan perpipaan.
Dari jumlah tersebut, dua unit menggunakan pelat merah dan dua lainnya pelat hitam.
Biaya operasional armada pelat merah melonjak drastis setelah harga Pertamina Dex naik signifikan.
Jika sebelumnya harga BBM tersebut berada di kisaran Rp 12.900 per liter, kini mencapai sekitar Rp 29.000 per liter.
Akibatnya, pendapatan dari layanan distribusi air menggunakan mobil tangki tidak lagi mampu menutupi biaya bahan bakar yang dikeluarkan.
Dalam sekali pengisian BBM, perusahaan harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 800 ribu, sementara pendapatan dari satu kali pengiriman air rata-rata hanya sekitar Rp 200 ribu.
"Sekarang yang paling terasa di pelayanan mobil tangki. Pendapatan dari air tangki tidak menutup biaya BBM. Sekali isi bisa sampai Rp 800 ribu belum full tangki, sedangkan layanan air tangki hanya sekitar Rp 200 ribu per pengiriman," ungkapnya.
Meski secara bisnis tidak menguntungkan, layanan mobil tangki tetap dipertahankan karena memiliki fungsi sosial yang penting.
Armada tersebut menjadi andalan saat terjadi gangguan distribusi maupun untuk membantu masyarakat di wilayah yang belum memiliki akses air bersih melalui jaringan perpipaan.
"Syukurnya pelayanan mobil tangki tidak terlalu banyak. Biasanya digunakan saat ada gangguan layanan atau untuk daerah yang belum mendapat akses air perpipaan," katanya.
Menghadapi kondisi tersebut, Perumda Tirta Hita memilih memperketat efisiensi di berbagai lini operasional. Langkah itu dilakukan untuk menjaga kesehatan keuangan perusahaan tanpa mengorbankan kualitas pelayanan kepada pelanggan.
Di sisi lain, ruang untuk melakukan penyesuaian tarif juga masih terbatas. Tarif air minum yang berlaku saat ini telah ditetapkan sejak awal tahun dan akan berlaku hingga akhir 2026.
Kajian penyesuaian tarif baru akan mulai dilakukan pada Juli mendatang sebagai bahan evaluasi untuk penetapan tarif tahun 2027.
Selain tarif air, perusahaan juga masih mengkaji dampak kenaikan biaya operasional terhadap investasi dan kemungkinan penyesuaian tarif sambungan baru.
Namun hingga kini, Perumda Tirta Hita masih memilih bertahan dengan tarif yang berlaku meskipun margin keuntungan terus tergerus.
"Kami masih bertahan dengan harga yang ada. Margin memang berkurang, tetapi selama pelayanan kepada masyarakat tetap bisa ditingkatkan, itu yang menjadi prioritas kami," tegas Lestariana. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya