Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Angka Kematian Ibu di Buleleng Turun. Kematian Bayi dan Balita Justru Naik

Eka Prasetya • Kamis, 15 Agustus 2024 | 17:54 WIB

 

Ilustrasi ibu hamil
Ilustrasi ibu hamil

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Angka kematian ibu di Buleleng menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan.

Mengacu data dari Pemkab Buleleng, angka kematian ibu di Buleleng pada tahun 2022 mencapai 99,78 per 100.000 kelahiran hidup.

Sementara pada tahun 2023, angka tersebut turun menjadi 72,58 per 100.000 kelahiran hidup.

Angka itu menunjukkan bahwa ada 72 hingga 73 orang ibu yang meninggal setiap 100.000 kelahiran.

Sayangnya kasus kematian pada bayi dan balita justru menunjukkan tren peningkatan.

Angka kematian bayi pada tahun 2022 ada di angka 11,77 per 1.000 kelahiran. Lalu naik menjadi 15,14 per 1.000 kelahiran untuk tahun 2023.

Data itu menunjukkan ada 15 orang bayi yang meninggal dari 1.000 orang bayi yang dilahirkan.

Sementara angka kematian balita tadinya sebesar 12,37 per 1.000 kelahiran pada tahun 2022. Kemudian naik menjadi 16,07 per 1.000 kelahiran.

Angka tersebut menunjukkan, ada 16 orang balita yang meninggal dari 1.000 orang balita yang lahir.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, dr. Putu Arya Nugraha, Sp.PD mengatakan, untuk menekan angka kematian ibu dan bayi, tidak cukup dengan tindakan medis di rumah sakit.

Menurutnya, dari sisi fasilitas, rumah sakit milik pemerintah khususnya RSUD Buleleng telah memiliki fasilitas Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK), yang mencakup pelayanan emergensi untuk ibu dan bayi baru lahir. 

Namun, selain fasilitas dan tindakan medis, hal yang lebih penting adalah akses menuju ke fasilitas kesehatan terdekat.

Menurut Arya, kasus kematian kerap kali terjadi pada daerah-daerah yang agak jauh dari fasilitas kesehatan tingkat lanjut, seperti rumah sakit. Masalahnya armada ambulans juga terbatas.

Sehingga untuk mengatasi masalah tersebut, ia mendorong agar desa minimal memiliki fasilitas gawat darurat yang bisa digunakan dengan cepat. 

Selain itu rumah sakit tipe C dan tipe D didorong memperkuat penanganan kasus kehamilan, sehingga tidak selalu harus dirujuk ke RSUD.

Ia juga mendorong agar rumah sakit memiliki dokter spesialis kandungan tetap, sehingga penanganan emergensi sering kali masih terbatas.

“Pendanaan juga tidak kalah penting. Biaya seringkali jadi penghalang bagi ibu hamil untuk memeriksakan diri dan mendapatkan perawatan yang diperlukan. Oleh karena itu, kami berharap ada dukungan lebih lanjut dari pemerintah untuk membantu mengatasi kendala ini,” ujarnya

Dokter Arya juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan selama kehamilan, persalinan, dan masa pertumbuhan anak. 

“Sarana dan prasarana sudah memadai, dan tenaga ahli yang diperlukan juga sudah tersedia. Namun, kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan ibu dan balita adalah kunci,” ujarnya.

Sementara dari sisi fasilitas, RSUD Buleleng telah menyiapkan UGD, poliklinik, dan ruang rawat bersalin yang memenuhi standar. 

Selain itu, rumah sakit ini juga diberikan tambahan tugas untuk membimbing rumah sakit lain di wilayah Buleleng dalam pelayanan PONEK. 

Dinas Kesehatan Buleleng juga secara rutin melakukan edukasi dan pendampingan ke puskesmas serta masyarakat. 

Program-program edukasi ini melibatkan berbagai pihak, termasuk universitas dan organisasi masyarakat, untuk memberikan informasi dan meningkatkan kesadaran tentang kesehatan ibu dan anak.

"Kami berharap dapat menurunkan angka kematian ibu dan mengatasi masalah stunting dengan pelayanan emergensi yang terintegrasi untuk ibu dan bayi baru lahir," demikian Arya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#kesehatan #balita #bayi #ibu #buleleng