RadarBuleleng.id - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan komitmennya dalam memperkuat akses layanan kesehatan mental di tengah meningkatnya krisis global.
Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia setiap 10 Oktober tahun ini mengangkat tema “Access to Services – Mental Health in Catastrophes and Emergencies”.
Tema tersebut menyoroti pentingnya layanan psikologis bagi masyarakat terdampak bencana, konflik, maupun situasi darurat kemanusiaan.
Isu kesehatan mental kini menjadi perhatian dunia seiring data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mencatat lebih dari satu miliar orang di dunia mengalami gangguan mental.
Di sisi lain, negara berpenghasilan rendah dan menengah masih menghadapi kesenjangan besar dalam pelayanan, dengan hanya sekitar 13 tenaga profesional kesehatan mental per 100 ribu penduduk.
Kondisi ini diperparah oleh krisis kemanusiaan, konflik bersenjata, dan bencana alam yang kerap meninggalkan trauma mendalam tanpa dukungan psikososial memadai.
PBB menilai, tantangan utama bukan hanya pada beban penyakit mental yang meningkat, tetapi juga rendahnya akses layanan.
Melalui tema tahun ini, PBB bersama WHO dan World Federation for Mental Health (WFMH) mendorong strategi global yang berfokus pada tiga hal.
Yakni memperluas akses layanan psikologis, menghapus stigma terhadap penderita gangguan mental, serta memperkuat sistem kesehatan di situasi darurat.
Pendekatan ini menempatkan kesehatan mental setara dengan kesehatan fisik dalam setiap kebijakan kemanusiaan dan pembangunan berkelanjutan.
Di lingkungan internalnya, PBB juga menerapkan UN Mental Health and Wellbeing Strategy yang menekankan pentingnya kesejahteraan psikologis di tempat kerja.
Melalui inisiatif seperti Lead & Learn Programme, organisasi ini berupaya melatih para pemimpin dan manajer agar lebih tanggap terhadap kondisi emosional staf dan menciptakan budaya kerja yang inklusif.
“Kesehatan mental adalah fondasi produktivitas dan kemanusiaan dalam organisasi global,” ujar perwakilan PBB.
Dengan dukungan PBB, diharapkan negara-negara anggota dapat memperkuat kebijakan nasional, menyediakan layanan darurat yang lebih inklusif, serta menempatkan kesehatan jiwa sebagai prioritas dalam menghadapi krisis global yang semakin kompleks. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya