Opini oleh Prima Trisna Aji*
Cita-cita hidup sehat dan panjang umur longevity tak lagi sekadar wejangan dari orang tua. Fenomena ini menjadi tren gaya hidup. Mulai dari komunitas lari dan bersepeda, klinik nutrisi personal, hingga viral di linimasa media sosial.
Namun di balik pesonanya, pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, bagaimana memastikan tambahan usia itu juga diiringi tambahan tahun hidup yang sehat dan bermakna?
Riset kesehatan modern membedakan lifespan, yaitu lama hidup seseorang, dan healthspan, yakni lama hidup dalam kondisi sehat tanpa penyakit kronis yang membatasi aktivitas. Indonesia termasuk negara yang terus menua dan kini lebih sadar pencegahan.
Di tingkat provinsi, Badan Pusat Statistik Jawa Tengah mencatat bayi yang lahir pada tahun 2024 memiliki harapan hidup rata-rata 74,91 tahun, naik dari tahun sebelumnya. Sementara itu Kabupaten Semarang dengan pusat pemerintahan di Ungaran Jawa Tengah melaporkan bahwa angka harapan hidup sekitar 76,15 tahun, sejalan dengan perbaikan Indeks Pembangunan Manusia.
Angka-angka tersebut menggembirakan, tetapi sering kali tambahan tahun hidup belum diiringi tambahan tahun sehat; penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan jantung tetap menjadi beban utama.
Profil Kesehatan Jawa Tengah 2023 menegaskan pentingnya memperkuat layanan promotif-preventif agar tahun tambahan tidak menjadi tahun sakit.
Mengapa Tren Longevity Muncul
Ada beberapa faktor yang membuat isu longevity meledak. Pertama, perubahan demografi. Populasi menua dan keluarga mengecil, sementara masyarakat sadar bahwa biaya merawat penyakit kronis di usia lanjut amat tinggi, baik secara finansial maupun emosional.
Kedua, perkembangan teknologi dan gawai kesehatan memicu orang memantau detak jantung, tidur, hingga pola makan secara real-time. Ketiga, budaya hidup sehat semakin populer. Konsumsi beras merah, jalan kaki, latihan beban ringan, tidur cukup, sampai meditasi mindfulness kini menjadi gaya hidup urban.
Kondisi di provinsi Jawa Tengah turut memperkuat fenomena ini. Jaringan Puskesmas yang menjangkau seluruh kabupaten atau kota, termasuk di Kabupaten Semarang, menjadi gerbang utama skrining faktor risiko penyakit tidak menular, layanan imunisasi, konseling gizi, hingga klub senam PTM. Dengan penguatan lini primer inilah harapan “hidup sehat lama” tidak berhenti sebagai gaya hidup kelas menengah kota besar, tetapi dapat diakses pula oleh warga desa.
Akses, Mitos, dan Dompet
Di balik optimisme yang sangat tinggi, banyak tantangan yang harus diselesaikan. Kesenjangan akses tetap nyata. Masyarakat perkotaan lebih mudah menemukan klinik gaya hidup, fasilitas olahraga, serta pangan segar, sedangkan sebagian warga di pedalaman masih kesulitan memperoleh layanan kesehatan preventif.
Profil Kesehatan Jawa Tengah tahun 2023 menegaskan pentingnya pemerataan upaya kesehatan berbasis masyarakat seperti Posyandu lansia dan Posbindu PTM agar tidak hanya kota besar yang merasakan manfaat tren longevity.
Tantangan lain datang dari maraknya mitos dan klaim berlebihan. Longevity kerap dibungkus janji instan seperti pil anti-penuaan, suplemen “ajaib”, atau pola diet ekstrem yang belum terbukti ilmiah. Tanpa literasi dan pengawasan yang baik, publik mudah terjebak dalam promosi bombastis yang berisiko pada kesehatan.
Faktor biaya juga menjadi persoalan. Menjalani pola makan bergizi, pemeriksaan berkala, dan olahraga rutin membutuhkan biaya dan waktu. Karena itu strategi kesehatan publik perlu memastikan pilihan hidup sehat menjadi yang paling mudah dan paling terjangkau, misalnya melalui ruang terbuka hijau untuk berjalan kaki atau bersepeda, pangan lokal bergizi di pasar rakyat, serta skrining gratis di Puskesmas.
Belajar dari Jawa Tengah dan Ungaran
Modal yang dimiliki provinsi Jawa Tengah cukup menjanjikan. Trend umur panjang di provinsi ini terus meningkat, sedangkan Kabupaten Semarang menunjukkan capaian Angka Harapan Hidup (AHH) sekitar 76 tahun sebuah sinyal bahwa lingkungan sosial dan pelayanan kesehatan di daerah ini relatif mendukung kehidupan lansia yang lebih baik.
Jejaring Puskesmas dan Unit Kesehatan Berbasis Masyarakat (Posyandu, Posbindu PTM) menjadi “mesin longevity” murah-meriah yang bisa dimaksimalkan untuk pemeriksaan rutin tekanan darah, gula darah, edukasi gizi, hingga senam bersama warga.
Strategi yang dapat ditempuh antara lain memperluas skrining faktor risiko PTM berbasis Puskesmas dan Posbindu sehingga deteksi dini dapat dilakukan dengan alat sederhana seperti pengukuran tekanan darah, indeks massa tubuh, lingkar perut, dan pemeriksaan gula darah puasa.
Pemerintah daerah juga dapat mempermudah warga untuk memilih gaya hidup sehat dengan menghadirkan ruang publik yang aman untuk berjalan kaki atau bersepeda, mengembangkan ekosistem pangan lokal yang bergizi dan terjangkau, serta memastikan kantin sekolah dan warung tidak dipenuhi minuman bergula berlebih.
Selain itu, perlu literasi publik yang baik mengenai klaim-klaim produk longevity, misalnya melalui kolaborasi dinas kesehatan, akademisi, dan media lokal untuk mengedukasi bahwa resep hidup sehat panjang umur bukanlah kapsul sakti, melainkan kombinasi tidur cukup, pola makan seimbang, aktivitas fisik rutin, manajemen stres, dan pemeriksaan kesehatan berkala.
Trend longevity seharusnya tidak dilihat sebagai perlombaan siapa yang paling lama bernapas, melainkan siapa yang paling lama hidup sehat, mandiri, dan produktif. Data di provinsi Jawa Tengah dan kabar baik dari Ungaran memberi sinyal bahwa kita mampu menambah jumlah sekaligus mutu tahun hidup, asalkan tidak terjebak mitos dan sungguh-sungguh memperkuat upaya pencegahan.
Kini saatnya menggeser fokus dari “umur berapa” ke “seberapa sehat dan mandiri” seseorang di usia senja. Individu dapat memulainya dari kebiasaan kecil yang konsisten, sementara pemerintah daerah dan komunitas wajib memastikan jalannya mulus dan merata. Jika semua pihak bergerak bersama, mereka yang ingin hidup sehat lama tidak sekadar menjadi tren sesaat. (*)
*) Penulis adalah Dosen pada Prodi Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya