SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Kasus demam berdarah dengue (DBD) yang merenggut nyawa balita di Kelurahan Banyuning memicu perhatian serius DPRD Buleleng.
Anggota Komisi IV DPRD Buleleng, Nyoman Dhukajaya, langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Puskesmas Buleleng III, Jumat (10/4/2026).
Sidak tersebut ia lakukan usai mengunjungi rumah duka Kadek Giara Dwitya Pradnyati, 4, balita yang diduga meninggal akibat DBD.
Dalam sidak tersebut, Dhukajaya menegaskan bahwa DBD merupakan penyakit endemik yang berpotensi terus muncul jika tidak ditangani secara serius, terutama dari sisi lingkungan.
”DB jelas penyakit dengue, penyakit endemik. Jadi dia bisa menyebar melalui vektor nyamuk. Maka dengan munculnya kasus ini, artinya ada masalah dengan lingkungan sekitar,” tegasnya.
Ia menyoroti sejumlah faktor pemicu, seperti sanitasi yang kurang baik, persoalan sampah, hingga kepadatan penduduk, khususnya di kawasan perkotaan seperti Banyuning.
Karena itu, Dhukajaya meminta pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan dan puskesmas untuk lebih proaktif dalam melakukan langkah pencegahan, terutama saat memasuki musim penghujan.
”Ketika musim penghujan mestinya sudah ada langkah pencegahan terhadap kasus demam berdarah. Jangan sampai yang endemik, jadi wabah,” ujarnya.
Menurutnya, langkah pencegahan sudah jelas, mulai dari pemberantasan sarang nyamuk (PSN), fogging atau pengasapan, hingga edukasi kepada masyarakat. Ia juga mengingatkan bahwa gejala DBD kerap menipu.
”Karena demam itu, 3-7 hari bisa sembuh. Tapi kan masyarakat kadang lalai, merasa sudah sembuh, tiba-tiba malah memburuk trombosit turun, akhirnya meninggal,” ungkapnya.
Ia menegaskan pentingnya peran aktif puskesmas dalam melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mendeteksi penyebaran penyakit, termasuk memantau keberadaan jentik nyamuk di lingkungan warga.
”Harus dicek, ada berapa jentik nyamuk. Makanya ada penyelidikan epidemiologis untuk menyelidiki seberapa jauh penyebaran,” tambahnya.
Dhukajaya juga menyoroti Banyuning sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap DBD karena kepadatan penduduk dan riwayat kasus yang terus muncul setiap tahun.
”Apalagi di Banyuning ini kawasan padat penduduk, dan dari tahun ke tahun selalu ditemukan DB,” katanya.
Ia pun mendesak adanya gerakan cepat dan terintegrasi, melibatkan desa, kelurahan, hingga desa adat. Jika tidak ditangani serius, ia khawatir kasus DBD akan kembali melonjak dalam waktu dekat.
”Harus ada gerakan cepat, karena kalau dibiarkan, nanti bulan Juni bisa meletup lagi kasusnya,” tegasnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Puskesmas Buleleng III, dr. Siti Nurul Aisiyah, mengungkapkan bahwa kasus yang menimpa balita di Banyuning sudah masuk kategori berat.
”Informasi terakhir yang kami terima itu bukan DHF lagi, tapi DSS. dia meninggal karena sudah syok,” jelasnya.
Ia menambahkan, pihak puskesmas baru menerima informasi kematian korban pada Selasa (7/4) malam dari RSU Puri Bunda, kelian lingkungan, serta Dinas Kesehatan.
Menindaklanjuti kasus tersebut, tim surveilans langsung melakukan pelacakan di lapangan untuk memastikan potensi penyebaran.
”Kalau ada kematian puskesmas dan surveilance melakukan pelacakan. Ketika DBD kami lakukan penyelidikan epidemiologi,” ujarnya.
Langkah yang dilakukan meliputi pengecekan kondisi lingkungan sekitar, termasuk mencari genangan air dan keberadaan jentik nyamuk, serta mendata warga yang mengalami gejala demam.
Jika diperlukan, fogging akan segera dilakukan. Namun, ia menegaskan bahwa fogging bukan solusi utama.
”Kalau diperlukan fogging, rencananya kami minggu akan fogging. Sekaligus kami melakukan PSN pada hari minggu, karena jentiknya tidak akan mempan dengan fogging,” jelasnya.
Ia juga memastikan upaya pencegahan sebenarnya telah dilakukan sejak jauh hari, bahkan sebelum musim penghujan.
”Sejak bulan November sebelum musim penghujan kami sudah koordinasi dengan tim. Kami gencarkan penyuluhan, dan penggerakan masyarakat untuk pemberantasan sarang nyamuk. Setiap Jumat kami jadwalkan untuk PSN,” tambahnya.
Meski demikian, Banyuning masih menjadi wilayah dengan kasus tertinggi, disusul Penarukan. Sementara di sejumlah desa yang rutin menjalankan PSN, kasus DBD tidak lagi ditemukan.
Seperti diberitakan sebelumnya, seorang balita di Banyuning, diduga meninggal akibat demam berdarah. Balita tersebut sempat dirawat di RSU Puri Bunda sejak Minggu (5/4/2026) malam, namun akhirnya dinyatakan meninggal pada Selasa (7/4/2026) siang. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya