KUBUTAMBAHAN, RadarBuleleng.id - Gelombang pasang yang terjadi di Buleleng selama seminggu terakhir, telah merusak puluhan rumah di kawasan pesisir pantai.
Gelombang pasang masih diprediksi akan terjadi selama beberapa minggu kedepan. Sehingga masyarakat di kawasan pesisir perlu meningkatkan kewaspadaan.
Mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, komunitas nelayan di Buleleng kini harus membuat tanggul secara swadaya.
Tanggul itu terbuat karung yang diisi pasir. Karung-karung tersebut ditumpuk di kawasan pesisir.
Harapannya, karung-karung itu bisa menahan ombak yang mengikis rumah warga. Sehingga kerugian dapat dicegah.
Seperti yang terlihat di Banjar Dinas Kubuanyar, Desa Kubutambahan. Puluhan orang nelayan bahu membahu membentengi rumah mereka dengan tanggul pasir.
Baca Juga: Gelombang Pasang Rusak Puluhan Rumah Nelayan di Buleleng
Perbekel Kubutambahan, Gede Pariadnyana menuturkan, gelombang laut kini cukup tinggi. Bahkan tinggi gelombang diperkirakan mencapai 4 meter.
Menurutnya sudah seminggu terakhir para nelayan berupaya membuat tanggul darurat. Tanggul dipasang di sisi utara rumah mereka.
Tanggul dipasang guna mengantisipasi jika ada gelombang pasang susulan yang datang. Sebab gelombang pasang tidak bisa diprediksi.
Pariadnyana mengatakan, pihaknya telah menyampaikan himbauan dini kepada masyarakat di kawasan pesisir.
Pihak desa menganjurkan agar masyarakat mengungsi sementara waktu. Guna mencegah jatuhnya korban jiwa.
“Kami harap, anak-anak dan perempuan menginap dulu di tempat yang lebih aman. Misalnya di rumah keluarga. Cukup bapak-bapak yang menjaga rumah dan jukung,” ujarnya.
Sementara itu Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, Putu Ariadi Pribadi mengatakan, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)/Balai Besar MKG Wilayah Bali, Buleleng saat ini tengah memasuki puncak musim hujan.
Dampaknya, akan muncul gelombang pasang yang disertai angin kencang di kawasan Laut Bali atau di pesisir utara Buleleng.
Ketinggian gelombang diperkirakan minimal mencapai 1,25 meter bahkan bisa mencapai 2,5 meter.
“Kami imbau nelayan waspada. Lebih baik jangan melaut dulu. Termasuk masyarakat di pesisir juga harus meningkatkan kewaspadaan,” ujarnya. (*)
Editor : Eka Prasetya