RadarBuleleng.id - Perayaan Cap Go Meh di Klenteng Kong Co Bio, Kabupaten Tabanan, Bali, pada Selasa (3/3/2026), tak hanya sarat doa dan tradisi.
Aroma kuah kari dan hangatnya lontong Cap Go Meh justru menjadi magnet utama yang menyedot ribuan warga sejak pagi.
Meski pada Selasa (3/3/2026) langit Tabanan diselimuti mendung, suasana klenteng di Jalan Mawar Tabanan itu sudah ramai sejak pukul 08.00 WITA.
Umat Tionghoa maupun warga lintas komunitas berdatangan untuk bersembahyang, lalu menikmati sajian khas yang selalu dinanti setiap Cap Go Meh. Yakni lontong Cap Go Meh yang dibagikan secara gratis.
Tahun ini, panitia menyiapkan 1.200 porsi lontong yang bisa disantap hingga tengah malam. Tradisi berbagi hidangan ini menjadi ciri khas Cap Go Meh di klenteng tersebut.
Ketua Seksi Rumah Tangga Klenteng Kong Co Bio, Tjan Seik Hwa, 62, yang juga dikenal sebagai Ketut Variati, mengatakan penyajian lontong Cap Go Meh sudah menjadi agenda wajib setiap perayaan.
"Biasanya usai sembahyang baru santap lontong Cap Go Meh bersama keluarga," ujarnya.
Menu yang disajikan terbilang komplit dan menggugah selera. Dalam satu porsi, terdapat lontong lembut berpadu dengan telur, sayur rebung, buncis, wortel, kentang goreng, serta siraman kari ayam yang gurih dan kaya rempah.
Menurutnya, hidangan ini mencerminkan perpaduan budaya. Ada sentuhan kuliner Tionghoa yang menyatu harmonis dengan cita rasa Nusantara.
“Dilihat dari menu maka lontong Cap Go Meh sederhananya ada percampuran budaya. Antara menu makanan Tionghoa dengan Nusantara,” jelasnya.
Persiapan memasak 1.200 porsi bukan pekerjaan ringan. Variati bersama ibu-ibu pengurus kelenteng sudah mulai memasak sejak H-2. Bahkan, proses penyajian dan distribusi makanan bisa berlangsung hingga larut malam.
Ia berharap tradisi berbagi lontong gratis ini tak sekadar memanjakan lidah, tetapi juga mempererat kebersamaan dan kerukunan, khususnya bagi umat Tionghoa di Tabanan.
Sementara itu, Biokong Klenteng Kong Co Bio, Edy Gunawan menjelaskan, Cap Go Meh merupakan penutup rangkaian perayaan Imlek 2577 yang jatuh pada hari ke-15 bulan pertama kalender Kongzili, atau bertepatan dengan 3 Maret dalam kalender nasional.
Selain sembahyang purnama dan ritual Tai Suwe untuk menetralisir hal-hal buruk, sajian lontong Cap Go Meh menjadi simbol penting dalam perayaan.
Menurutnya, lontong dimaknai sebagai perekat yang menyatukan. Filosofinya adalah kekompakan dan ketulusan hati dalam menjalani kehidupan sehari-hari. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya