RadarBuleleng.id - Wafatnya Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Pakubuwono XIII, pada Minggu (2/11/2025) meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Solo dan keluarga besar keraton.
Kepergian sang raja pada usia 77 tahun itu bukan hanya menandai berakhirnya kepemimpinan seorang tokoh budaya, tetapi juga kembali menyorot tradisi adat Jawa yang menjadi warisan turun-temurun di lingkungan keraton.
Masyarakat Solo sejak pagi tampak berdatangan ke kompleks Keraton Surakarta Hadiningrat untuk mengirim doa dan menyampaikan belasungkawa.
Sejumlah warga menyalakan dupa dan meletakkan bunga di halaman luar keraton, sebagai simbol penghormatan terakhir kepada sosok yang mereka anggap sebagai penjaga nilai-nilai luhur budaya Jawa.
“Sinuhun bukan sekadar raja, beliau adalah panutan dalam menjaga tata krama dan adat Jawa. Kami berdoa semoga arwah beliau tenang dan ajarannya terus dilestarikan,” ujar Sutrisno, 54, warga Baluwarti, di sela prosesi doa bersama.
Pakubuwono XIII dikenal sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk pelestarian budaya Jawa.
Selama masa kepemimpinannya sejak 2004, beliau berupaya menghidupkan kembali berbagai upacara adat dan kegiatan seni tradisional di keraton.
Tradisi seperti Sekaten, Tedhak Siten, dan Kirab Pusaka kembali digelar secara terbuka agar dapat dinikmati masyarakat luas.
Dalam prosesi pemakaman yang berlangsung khidmat, para abdi dalem dan keluarga mengikuti tata upacara adat dengan mengenakan busana tradisional lengkap.
Lantunan doa dan tembang Jawa mengiringi perjalanan jenazah menuju peristirahatan terakhir di Astana Pajimatan Imogiri, Yogyakarta yaitu tempat para raja Mataram dimakamkan. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.