SUKASADA, RadarBuleleng.id - Geliat kehidupan perkotaan menuntut segala hal berjalan dengan cepat. Jika memungkinkan dipoles dengan mewah. Hal serupa berlaku dalam hal olahraga.
Ketika sejumlah masyarakat fomo dengan olahraga, mengejar tren terbaru, menggunakan barang branded, namun tidak demikian dengan sejumlah masyarakat di Desa Panji, Kabupaten Buleleng, Bali. Mereka justru menepi dari hal yang serba trendy.
Masyarakat di Dusun Kelod Kauh memilih menyulap sebidang lahan kosong menjadi lapangan bulu tangkis. Bukan hanya menjadi lokasi berolahraga, lahan itu juga menjadi titik kumpul warga untuk sekadar bercengkrama.
Semua berawal dari keresahan para pemuda melihat anak-anak yang lebih banyak nongkrong di pinggir jalan. Anak-anak itu suntuk dengan gadget masing-masing.
Para pemuda tak mau tinggal diam. Pemuda yang terhimpun dalam Sekaa Truna Satya Warga menginisiasi sebuah pertemuan. Berdiskusi dengan para pemuda yang berada dalam satu frekuensi. Mereka kemudian sepakat membangun lapangan olahraga secara mandiri.
“Awalnya hanya ide kecil. Tapi karena semua merasa ini penting, kami jalan bersama-sama,” tutur Made Tri Ganesha, pemuda di Banjar Kelod Kauh.
Baca Juga: Perkuat Tata Kelola, Pemkab Buleleng Dorong Transparansi LPD
Tidak ada dana desa. Tak menggunakan tenaga tukang. Hanya ada niat, kebersamaan, dan kerja keras. Proses perataan tanah, pengecoran, hingga pemasangan lampu dilakukan bersama. Semuanya dilakukan di atas lahan milik warga bernama Jro Arta, pria yang rela meminjamkan tanahnya untuk kepentingan umum.
Berbekal dana Rp 12 juta yang berasal dari sumbangan warga, lapangan bulu tangkis sederhana itu terwujud. Dana belasan juta mungkin terkesan mustahil. Tapi warga yang dermawan juga memberikan dukungan bantuan secara non tunai. Bentuknya berupa semen, kerikil, makanan untuk para pekerja, dan tentu saja tenaga.
“Yang paling berharga bukan uangnya, tapi rasa memiliki. Semua orang ikut ambil bagian, dari yang muda sampai yang tua,” ujar Wayan Ganesha, yang juga Ketua Klub Bulutangkis Goak Panji.
Pengerjaan dimulai pada Mei 2023 dan selesai hanya dalam beberapa minggu. Lapangan diresmikan pada 1 Juni 2023, bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila. Sejak itu, lapangan tak pernah sepi.
Setiap sore hingga malam, anak-anak, remaja, bahkan orang tua datang silih berganti. Tak hanya bermain bulutangkis, lapangan ini juga jadi arena bagi sepak bola kecil, bermain sepeda, hingga permainan tradisional seperti petak umpet.
“Daripada anak-anak duduk di pinggir jalan atau main HP terus, di sini mereka bisa berkeringat dan tertawa bersama,” ujar Wayan sambil tersenyum.
Dampaknya makin terasa. Hubungan antar generasi makin erat, minat olahraga meningkat, dan lingkungan pun terasa lebih hidup.
“Kami sadar, kalau menunggu bantuan datang, mungkin lapangan ini tidak akan pernah ada. Jadi kami buat sendiri,” tegas Made Tri Ganesha.
Lapangan kecil itu mungkin tak mewah. Tapi dari tanah yang dulu kosong, kini tumbuh harapan, keringat, dan semangat kebersamaan yang tak ternilai. (Penulis: Komang Sri Dewi Mutiara)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya