Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Rentetan Kasus Kriminal Menimpa WNA, Citra Bali Tercoreng. Pengamanan Pariwisata jadi Sorotan

Ni Kadek Novi Febriani • Jumat, 27 Maret 2026 | 13:35 WIB
Ilustrasi TKP
Ilustrasi TKP

 

RadarBuleleng.id - Maraknya aksi kriminalitas di Bali yang menimpa warga negara asing (WNA), menjadi peringatan serius bagi sektor keamanan pariwisata. 

Sejumlah kasus mencuat dalam waktu berdekatan, mulai dari pembunuhan WNA asal Belanda di Kerobokan, Badung, hingga kasus rudapaksa disertai pencurian terhadap wisatawan asal Tiongkok di kawasan Jalan Labuan Sait, Desa Pecatu.

Rangkaian peristiwa tersebut dinilai mencederai citra Bali sebagai destinasi wisata dunia yang selama ini dikenal aman dan ramah.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, menyayangkan kejadian tersebut. 

Ia menilai, kasus-kasus kekerasan yang terjadi telah memberikan dampak negatif terhadap kepercayaan wisatawan.

"Tentu ini sangat mencederai dan mencoreng nama Bali sebagai destinasi yang dikenal dengan masyarakatnya yang ramah, budaya yang unik, serta alam yang indah. Tentu sangat mencederai," ujar pria yang akrab disapa Cok Ace itu.

Menurutnya, wisatawan tidak akan melihat siapa pelaku kejahatan, melainkan lokasi kejadian. Jika peristiwa kriminal terjadi di Bali, maka persepsi keamanan destinasi secara keseluruhan ikut terdampak.

"Yang jelas, kejadiannya terjadi di Bali, sehingga tidak salah jika mereka akhirnya menilai Bali tidak aman lagi," tegasnya.

Mantan Wakil Gubernur Bali itu mendorong adanya langkah konkret dari aparat, pemerintah, hingga masyarakat untuk memperkuat sistem keamanan, terutama di kawasan wisata dengan karakter khusus seperti Kuta Selatan. Ia menyoroti banyaknya vila di kawasan tersebut yang berada di lokasi terpencil dan rawan.

Ia juga mengusulkan pemanfaatan teknologi keamanan, seperti alarm nirkabel yang terhubung langsung dengan aparat, guna mempercepat respons saat terjadi tindak kejahatan.

Pandangan serupa disampaikan Anggota Komite III DPD RI Perwakilan Bali, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra. Ia menilai keamanan merupakan faktor utama yang menentukan kenyamanan wisatawan selama berada di Bali.

"Keamanan adalah faktor utama kenyamanan wisatawan di Bali. Terlihat ada celah kelemahan dalam faktor keamanan pariwisata Bali, yang terindikasi karena terjadinya kriminalitas beruntun," ujarnya.

Ia juga menyoroti perlunya sistem respons cepat seperti emergency call yang mudah diakses wisatawan, terutama di kawasan rawan. Menurutnya, langkah preventif harus diperkuat untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa sejumlah kasus kriminal yang terjadi diduga melibatkan jaringan terorganisir dengan berbagai motif, mulai dari ekonomi, pemerasan, hingga konflik bisnis. Situasi ini diperparah dengan sulitnya pengawasan di tengah tingginya mobilitas wisatawan.

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Bali, Agung Bagus Pratiksa Linggih, menegaskan pentingnya langkah tegas dalam penanganan kriminalitas. 

Ia mengingatkan bahwa jika kondisi tersebut dibiarkan, dampaknya bisa mengancam sektor ekonomi Bali yang bertumpu pada pariwisata.

"Penindakan dan upaya preventif untuk kriminalitas seperti ini harus tegas. Jika tidak, Bali akan dianggap sebagai daerah pariwisata yang tidak aman," tegasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #kriminalitas #keamanan #kriminal #tiongkok #destinasi #pencurian #warga negara asing #pariwisata #phri #Aman #cok ace #belanda #Rudapaksa #wisatawan #dpd ri #alarm #pembunuhan #vila #wna